Allianz Sebut Inflasi Medis Jadi Pendorong Masyarakat Lebih Cermat Kelola Perlindungan Kesehatan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Inflasi medis yang terus meningkat dalam beberapa tahun belakangan dinilai menjadi salah satu faktor utama pendorong masyarakat semakin cermat dalam mengelola perlindungan kesehatan. Naiknya biaya layanan kesehatan yang melampaui pertumbuhan ekonomi nasional membuat masyarakat perlu lebih memperhatikan kesiapan finansial jangka panjang, termasuk dalam memiliki perlindungan kesehatan.
Chief Product Officer Allianz Life Indonesia Cheang Khai Au mengungkapkan, kenaikan biaya medis tak hanya berdampak pada rumah sakit maupun industri kesehatan, tapi juga mempengaruhi cara masyarakat mempersiapkan perlindungan finansial mereka.
“Di tengah inflasi medis yang terus meningkat, Allianz berkomitmen membantu masyarakat tetap merasa aman dan terlindungi. Kami juga senantiasa mengimbau nasabah untuk rutin meninjau manfaat perlindungan yang dimiliki agar dapat terus mendapatkan perlindungan kesehatan yang optimal,” ujarnya, dalam keterangan pers, dikutip Kamis (28/5/2026).
Baca Juga
Antisipasi Risiko Perjalanan pada Libur Panjang Mei 2026, Allianz Ingatkan Pentingnya Proteksi
Menurut Khai, kenaikan biaya medis di Indonesia tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran 5%. Kondisi tersebut membuat biaya layanan kesehatan meningkat lebih cepat dibandingkan kemampuan ekonomi rata-rata masyarakat.
Data World Bank menunjukkan, pengeluaran kesehatan per kapita Indonesia meningkat dari sekitar US$ 118 pada 2019 menjadi sekitar US$ 132 pada 2023. Kenaikan ini mencerminkan kebutuhan layanan kesehatan dan biaya perawatan yang terus bertambah dari tahun ke tahun.
Tren tersebut juga tercermin dari data Allianz Indonesia sepanjang periode 2020-2025. Rata-rata biaya per kasus untuk sejumlah penyakit mengalami lonjakan signifikan, diantaranya stoke meningkat hingga 169%, penyakit jantung naik 219%, kanker meningkat 179%, demam berdarah dengue (DBD) naik 183%, serta typhoid meningkat 116%.
Khai menyebut, penyakit seperti stroke, jantung, dan kanker kini tidak lagi hanya ditemukan pada kelompok lanjut usia, tapi juga mulai banyak terjadi pada usia produktif. Selain itu, penyakit-penyakit tersebut menjadi kontributor utama kenaikan biaya perawatan kesehatan.
Ia menyatakan, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk menjaga kesiapan perlindungan kesehatan jangka panjang. Di antaranya melakukan evaluasi rutin terhadap manfaat perlindungan kesehatan, memahami cakupan manfaat, serta ketentuan polis, hingga memahami mekanisme deductibles sebagai bentuk pembagian risiko biaya kesehatan secara lebih terukur.
Baca Juga
Pasca Lebaran, 3 Klaim Kesehatan Ini Jadi yang Tertinggi di Allianz
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tidak terburu-buru menghentikan perlindungan kesehatan tanpa perencanaan matang karena berpotensi menimbulkan risiko finansial di masa mendatang. Pergantian polis ke perusahaan asuransi baru juga perlu dipertimbangkan dengan cermat karena dapat menyebabkan nasabah kembali menjalani masa tunggu untuk manfaat tertentu.
Ia memandang perlindungan kesehatan saat ini bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan, melainkan bagian penting dan perencanaan keuangan jangka panjang.
“Salah satu upaya yang dilakukan Allianz Indonesia adalah dengan menghadirkan Allianz Preferred Medical dan AlliSta Preferred Medical (APM), perlindungan kesehatan yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat di tengah kenaikan biaya medis saat ini,” kata Khai.

