OJK: Ketahanan Perbankan Nasional Kokoh di Tengah Risiko Geopolitik, Potensi 'Bank Rush' Nihil
JAKARTA, investortrust.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa industri perbankan nasional saat ini berada dalam kondisi yang sangat kuat dan stabil meski dibayangi oleh ketidakpastian geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyatakan bahwa dampak langsung dari situasi tersebut terhadap perbankan Tanah Air tergolong sangat minim.
"Dampak langsung dari konflik Timur Tengah terhadap perbankan Indonesia relatif sangat terbatas, mengingat eksposur langsung perbankan terhadap non-residen di Timur Tengah cukup kecil baik dari sisi claims maupun liabilities, sehingga pengaruh langsungnya tidak signifikan terhadap permodalan maupun likuiditas perbankan," ujar Dian dalam jawaban tertulis Konferensi Pers RDK Bulanan (RDKB) Maret 2026, Jumat (24/4/2026).
Baca Juga
OJK Luncurkan Panduan Media Sosial Perbankan untuk Perkuat Tata Kelola Digital
Namun demikian, Dian menjelaskan bahwa sistem perekonomian terbuka (open economy) menjadikan kondisi ekonomi Indonesia sangat dipengaruhi oleh situasi dan ketidakpastian yang terjadi secara global. Menurut Dian, jika berlangsung dalam waktu yang cukup lama, eskalasi konflik geopolitik yang terjadi saat ini berpotensi menjadi salah satu sumber kerentanan dan berdampak terhadap perekonomian Indonesia, baik melalui jalur perdagangan maupun pasar keuangan.
"Namun demikian, di tengah berbagai risiko yang berasal dari dinamika global tersebut, ketahanan perbankan Indonesia tergolong sangat kuat," ungkap Dian.
Pada Februari 2026 permodalan perbankan terjaga tinggi tercermin dari rasio CAR sebesar 25,83%. Lebih lanjut, risiko kredit perbankan juga tetap terjaga dengan baik, tecermin dari rasio NPL yang masih di bawah 3% yaitu sebesar 2,17% serta tren coverage pencadangan CKPN yang relatif stabil.
Di sisi lain, kondisi likuiditas perbankan masih cukup terjaga dan relatif stabil, dengan AL/DPK dan AL/NCD di atas threshold (10% dan 50%), juga dengan LDR yang baik sebesar 84,72% dan tetap terjaga di range 78%-92%. Liquidity Coverage Ratio (LCR) perbankan tercatat sebesar 195,64%, masih jauh di atas threshold dan masih mencukupi untuk memenuhi likuditas jangka pendek perbankan ke depan.
Baca Juga
OJK: Eskalasi Konflik Global Berpotensi Naikkan NPL, Namun Ketahanan Perbankan Tetap Resilien
Sejalan dengan hal tersebut, OJK memandang potensi bank rush sangat insignifikan atau bahkan tidak ada karena situasi politik, keamanan, dan ekonomi indonesia sangat kondusif. Bank rush pada umumnya diakibatkan oleh isu kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan.
"Maka, menjaga kepercayaan masyarakat harus senantiasa dilakukan oleh bank antara lain melalui menjaga kinerja bank dan melaksanakan manajemen risiko yang memadai," kata Dian.
Untuk memastikan bahwa perbankan di Indonesia telah mengukur dan mengendalikan berbagai risiko yang ada, OJK secara berkelanjutan melakukan pemantauan terhadap perkembangan risiko dan meminta perbankan untuk senantiasa melaksanakan pengelolaan risiko secara menyeluruh.
Ditengah kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, OJK meningkatkan fokus kepada pengawasan individual bank. Selanjutnya, untuk mengukur ketahanan perbankan dalam menghadapi berbagai potensi shocks makro ekonomi, OJK secara rutin melakukan stress test.
Selain yang dilakukan OJK, perbankan juga secara rutin melakukan stress test secara mandiri baik menggunakan skenario dan asumsi sendiri maupun yang disiapkan oleh otoritas (OJK dan BI). Hasil stress test OJK maupun perbankan menunjukkan bahwa tingkat permodalan perbankan saat ini masih memadai untuk menghadapi risiko yang disebabkan oleh perubahan signifikan dalam kondisi makroekonomi Indonesia.
"Selain itu, OJK senantiasa berkoordinasi dan bersinergi dengan berbagai lembaga/kementerian terkait, khususnya Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam rangka memantau dan melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional," jelas Dian.

