Begini Upaya Bank Mandiri (BMRI) Antisipasi Ketidakpastian Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Sebagai upaya untuk mengantisipasi kondisi ekonomi global yang tidak pasti, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menyiapkan sejumlah strategi. Faktor eksternal seperti eskalasi geopolitik hingga volatilitas harga komoditas dinilai masih berpotensi menekan stabilitas ekonomi, termasuk di Indonesia
Direktur Utama Bank Mandiri Riduan mengungkapkan, pihaknya mencermati berbagai risiko yang bersumber dari dinamika global maupun kondisi domestik, termasuk pergerakan suku bunga dan kualitas kredit pada sektor-sektor yang sensitif terhadap perlambatan ekonomi.
“Dari sisi global, eskalasi geopolitik masih berpotensi mengganggu rantai pasok serta memicu volatilitas harga komoditas dan pasar keuangan di Indonesia maupun regional maupun dunia,” ujarnya, dalam Paparan Kinerja Kuartal I 2026 Bank Mandiri secara daring, Selasa (21/4/2026).
Riduan menambahkan, arah suku bunga ke depan masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan inflasi, stabilisasi nilai tukar, serta dinamika global yang terus berubah.
Baca Juga
Laba Konsolidasi Bank Mandiri (BMRI) Naik 16,6% Jadi Rp 15,4 Triliun di Kuartal I 2026
Dari sisi domestik, Bank Mandiri juga mewaspadai tekanan harga energi dan pelemahan daya beli masyarakat. Kondisi tersebut dinilai dapat berdampak pada profil risiko debitur, khususnya yang terkait dengan komoditas yang terpengaruh harga global.
Untuk mengantisipasi berbagai risiko tersebut, lanjut Riduan, Bank Mandiri memperkuat strategi bisnis melalui perluasan penetrasi ekosistem Mandiri Group, peningkatan aktivitas transaksi nasabah, serta akselerasi digitalisasi layanan perbankan.
Selain itu, bank berkode saham BMRI ini juga menjaga kualitas pertumbuhan dengan menyalurkan kredit secara selektif ke sektor-sektor yang dinilai prospektif dan resilien, disertai monitoring portofolio secara ketat serta pelaksanaan stress testing secara berkala.
“Dengan langkah tersebut kualitas aset tetap solid. Pada bulan Maret-Maret 2026 tercermin dari rasio NPL (non performing loan) yang terjaga di bawah 1% dan coverage ratio sebesar 245%,” kata Riduan.
Dari sisi permodalan, Bank Mandiri juga mempertahankan buffer yang kuat dengan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) di atas 19% guna menghadapi berbagai kemungkinan skenario ke depan.
Baca Juga
Bank Mandiri Taspen dan UGM Perkuat Sinergi Digitalisasi dan Pengembangan SDM
Dalam menghadapi dinamika suku bunga, Riduan menyatakan bahwa fokus perseroan bukan pada spekulasi arah suku bunga, melainkan pada penguatan struktur pendanaan, likuiditas, serta komposisi portofolio agar tetap adaptif.
Bank Mandiri, lanjut dia, juga terus mendorong peningkatan dana murah atau current account and saving account (CASA) melalui penguatan transaksi nasabah dan pengembangan ekosistem digital.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan berbasis komisi (fee based income) yang berkelanjutan sekaligus menjaga profitabilitas.
“Di saat yang sama kami tetap berkomitmen untuk mendukung pembiayaan UMKM (usaha mikro kecil dan menengah), memperkuat ekonomi kerakyatan, serta menjalankan agenda strategis pemerintah lainnya,” ucap Riduan.
Dengan fundamental yang kuat, ia optimistis Bank Mandiri dapat menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat peran sebagai agent of development bagi pembangunan ekonomi Indonesia.

