Anindya Bakrie: Pertumbuhan Hijau Jadi Bagian Tak Terpisahkan dari Strategi Ekonomi Nasional
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie menegaskan bahwa pertumbuhan hijau bukan agenda yang berdiri sendiri, melainkan telah menjadi bagian dari strategi pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia.
Dalam diskusi panel Indonesia Economic Summit (IES) di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (4/2/2026), Anindya menyampaikan bahwa transisi menuju ekonomi hijau justru membuka ruang besar bagi investasi, industrialisasi, serta penciptaan lapangan kerja.
“Pertumbuhan hijau adalah cerita pertumbuhan ekonomi. Ia akan menciptakan investasi, perdagangan, industrialisasi, dan lapangan kerja yang dibutuhkan Indonesia,” ujar Anindya.
Anindya mengidentifikasi dua sektor utama yang dinilai memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan hijau Indonesia, yaitu elektrifikasi dan hilirisasi mineral kritis. Elektrifikasi, menurutnya, mencakup sekitar 40% peluang dalam ekosistem ekonomi hijau.
Ia mencontohkan penetrasi kendaraan listrik di Indonesia yang saat ini telah mencapai sekitar 1,5% dari total penjualan mobil baru. Seiring meningkatnya investasi dan pembangunan fasilitas produksi, angka tersebut diperkirakan akan terus bertumbuh.
Di sisi lain, Indonesia juga memiliki keunggulan komparatif dalam hilirisasi mineral, terutama nikel, kobalt, tembaga, dan bauksit. Aktivitas ini banyak berlangsung di kawasan Indonesia timur sehingga berpotensi mendorong pemerataan pembangunan antarwilayah.
Baca Juga
Wamenperin: Transformasi Industri Hijau Bukan Beban, Tapi Peluang Emas
Selain aspek pertumbuhan ekonomi, Anindya menekankan bahwa pertumbuhan hijau juga berkaitan erat dengan transisi energi nasional. Ia memperkirakan kebutuhan listrik Indonesia akan meningkat signifikan dalam 25 hingga 35 tahun ke depan, terutama untuk mendukung perkembangan pusat data dan teknologi kecerdasan buatan.
Anindya menyatakan dukungannya terhadap rencana PT PLN (Persero) membangun kapasitas listrik hingga 75 gigawatt, dengan mayoritas berasal dari energi terbarukan. Ia menilai langkah tersebut sejalan dengan kebutuhan jangka panjang Indonesia menuju target net zero emission.
Pada tataran global, Anindya melihat pertumbuhan hijau juga memiliki dimensi geopolitik. Karena itu, Indonesia perlu menjaga keseimbangan kerja sama internasional sekaligus memperkuat posisi dalam rantai pasok global.
Kadin, lanjut Anindya, berkomitmen mendukung pemerintah dalam membuka kerja sama dengan berbagai mitra internasional agar pertumbuhan hijau dapat menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

