Desa Bumi dan SRE di COP 29: Kebijakan Berbasis Bukti, Cara Jitu Anak Muda Percepat Transisi Energi
JAKARTA, investortrust.id - Generasi muda Indonesia menegaskan komitmennya terhadap aksi pengendalian perubahan iklim di Konferensi Perubahan Iklim (COP 29) di Baku, Azerbaijan. Salah satunya melalui kegiatan yang dihelat pada Paviliun Indonesia dalam sesi anak muda diwakili oleh dua gerakan anak muda, yaitu Desa Bumi yang digagas oleh Gamma Thohir, serta Society of Renewable Energy yang digagas oleh Zagy Berian.
Kegiatan ini merupakan kegiatan lanjutan dari komitmen kedua belah pihak yang telah dilaksanakan pada COP 28 di Dubai tahun lalu. Dalam komitmen tersebut, kedua belah pihak bersepakat dalam membangun ekonomi desa melalui pemanfaatan energi bersih.
“Generasi muda sudah saatnya memimpin percepatan proses transisi energi, pendekatan evidence-based policy menjadi kunci anak muda dalam menarik minat banyak pihak dalam melakukan kolaborasi. Kami hadir untuk memberi bukti, tidak hanya sekedar komitmen diatas kertas, melainkan bukti nyata dari kolaborasi kami bersama SRE dalam membangun desa bumi," ujar Gamma saat presentasi.
Desa Bumi, dimulai sejak tahun 2015 dengan program Mikrohidro dengan kapasitas sekitar 40 kW di daerah Sukabumi. Program itu menghasilkan listrik yang disalurkan kepada 75 rumah tangga serta pusat pembelajaran pemuda didaerah tersebut. Itulah proyek pertama yang dibuatsaat pemuda dengan jas cokelat tersebut berusia 15 tahun. Namun, kegiatan itu sempat ditunda saat dia melanjutkan kuliah dan kembali dimulai setelah meraih gelar sarjana di Amerika Serikat. Dua desa lainnya dibangun pada tahun 2022 dan 2023 di desa Liyu dan Bangkiling di Pulau Kalimantan berbasis energi surya.
Baca Juga
Desa ke empat, yang sedang dalam proses pembangunan dan direncanakan selesai akhir tahun 2024 merupakan program kolaborasi bersama SRE.
“Saya melihat, Desa Bumi dan SRE memiliki kesamaan cara pandang dalam transisi energi. Kita memiliki dua hal yang bisa saling melengkapi. SRE fokus dalam operasional sistem sementara Desa Bumi dapat fokus dalam pengembangan bisnis. Kami setuju, melalui bukti nyata, kami dapat membangun gerakan yang lebih masif lagi,” ucap penuh semangat Zagy yang dikenal sebagai pelopor komunitas energi bersih di Indonesia dengan ekosistem anak mudanya.
SRE didirkan tahun 2019 saat Zagy masih duduk di bangku tingkat 3 kuliah Teknis Mesin ITB. Dalam 5 tahun perjalanan, SRE telah ada di 50 kampus di Indonesia, Zagy berpendapat, karakteristik kepulauan Indonesia mempunyai tantangan beragam terutama logistik untuk mencapai daerah terluar. Diperlukan komunitas yang terdesentralisasi untuk dapat menjangkau dengan mudah tidak hanya mengandalkan dari pusat.
“Permasalahannya kan ada di biaya yang tinggi dalam penyediaan akses energi bersih di Indonesia, nah, SRE punya solusi untuk menurunkan biaya dengan memiliki produk yang didapat dari tangan pertama, serta pembangunan yang dilakukan oleh komunitas daerah. Dengan jejaring kita, cukup 1 orang dari pusat dan sisanya dari lokal. Biayanya bisa lebih murahsetengah dari pasar,” tambah Zagy.
Sudah ada lebih dari 100 lokasi yang dibangun oleh SRE, dengan model bisnis sebagai mitrapelaksana dari program CSR dan program pemerintah yang dilaksanakan sejak 3 tahun lalu. SRE meyakini pengalaman yang dimiliki, ditambah dengan keahlian Desa Bumi, kedua belah pihak dapat membangun program yang bermanfaat buat masyarakat.
Kelompok Tani Hutan (KTH) Sukobubuk, Pati, menjadi mitra pertama kolaborator denganPembangunan sarana air bersih untuk wilayah produktif mereka dengan total luas yang disasar20 hektar menggunakan pompa air tenaga surya.
“Energi dan air, merupakan dua aspek fundamental ekonomi masyarakat. Desa Bumi melihat isu ini dapat menarik perhatian publikdalam melihat kepentingan pembangunan transisi energi kedepannya dalam menyasar keadilandi daerah-daerah terpencil," sebut Gamma.
Proyek ini diharapkan membantu produksi buah-buahan, serta penyimpanan buah-buahantersebut sebelum diolah lebih lanjut. Pemilihan lokasi ini, hasil diskusi bersama direktorat perhutanan sosial. KTH Sukobubuk merupakan binaan Kementerian kehutanan dengan kategori platinum yang artinya sudah memiliki kegiatan ekonomi.
“Kami memilih desa yang memiliki kegiatan ekonomi, karena pesan khusus yang ingin kami sampaikan adalah kegiatan aplikatif dari pemanfaatan energi bersih untuk ekonomi masyarakat,” tambah Gamma.
Baca Juga
Percepat Transisi Energi, IESR Sebut RI Butuh Investasi US$ 40 Miliar per Tahun
Desa Bumi dan SRE, telah menyiapkan peningkatan kapasitas bagi para kelompok yang nantinya akan mengelola proyek ini. Adapun sisi ekonominya, para petani yang ingin mendapatkan air dan fasilitas penyimpanan harus berlangganan pada layanan yang disediakan oleh mereka. Tanpa adanya sistem ini, petani hanya mampu melakukan budidaya dan memanen pada musim hujansaja. Sistem ini akan meningkatkan siklus budidaya dan panen mereka.
“SRE menghitung, sekitar 8-13 juta sektor pekerjaan green jobs yang harus dikejar oleh Indonesia untuk mencapai Indonesia Emas 2045. Program partisipasi nyata secara kolaboratif inikunci keberhasilan Indonesia," tutup Zagy dalam kegiatan COP 29 itu.
Program ini tidak menawarkan akses listrik secara langsung, namun jasa penyediaan air dan penyimpanan buah menjadi keunikan model kegiatan mereka. Desa Bumi dan SRE membukapeluang sebesar-besarnya bagi generasi muda yang ingin kontribusi langsung dan ingin bergabung dalam kegiatan ini.

