Fokus Sektor EBT dan Transportasi Ramah Lingkungan, Bank Mandiri Sasar Rasio Pembiayaan Berkelanjutan 25%
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Mandiri Tbk berkomitmen terus menyalurkan pembiayaan hijau sesuai rencana bisnis penyediaan listrik yang ditetapkan pemerintah, dengan akan fokus pada beberapa sektor, seperti energi baru terbarukan, transportasi ramah lingkungan, pengelolaan sumber daya alam hayati berkelanjutan, serta produk eco-efficient. Bank negara ini menyasar penyaluran sustainable portfolio 25 persen dari total kredit (bank only).
“Bank Mandiri menargetkan penyaluran sustainable portfolio di kisaran 25 persen dari total kredit (bank only), untuk terus konsisten mendukung penerapan pembiayaan berkelanjutan sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 51 Tahun 2017. Kami berkomitmen terus menyalurkan pembiayaan hijau sesuai rencana bisnis penyediaan listrik yang ditetapkan pemerintah, sebagai wujud konsistensi kami menerapkan keuangan berkelanjutan," kata Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Alexandra Askandar dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (01/09/2023) .
Baca Juga
Nikmati Kemeriahan "SimInvestival Goes to Campus IPB" Bersama Maliq & D’Essentials
Untuk mencapai target itu, Bank Mandiri berkomitmen terus mengembangkan instrumen pendanaan (sustainable funding instruments), demi menghimpun permodalan untuk kemudian disalurkan melalui pembiayaan hijau atau green financing. Bank Mandiri tercatat menerbitkan pula green bond senilai Rp 5 triliun pada Juni 2023. Penerbitan obligasi hijau itu merupakan bagian dari rencana Penawaran Umum Berkelanjutan Obligasi Berwawasan Lingkungan Berkelanjutan I Bank Mandiri dengan target dana Rp 10 triliun.
“Kami konsisten mengembangkan produk-produk keuangan berkelanjutan, baik dari sisi pembiayaan hijau maupun dari sisi pendanaan. Penyaluran green financing Bank Mandiri secara konsisten juga terus tumbuh, sebagai wujud penerapan keuangan berkelanjutan dan implementasi prinsip environment, social, and governance (ESG),” imbuhnya.
Kredit Hijau Naik 10,2%
Bank BUMN tersebut mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit hijau naik 10,2 persen year on year (yoy) menjadi Rp 115 triliun per Juni 2023. Realisasi itu menjadikan Bank Mandiri sebagai market leader green financing di industri perbankan Tanah Air. Hingga paruh pertama 2023, penyaluran pembiayaan hijau bank tersebut berkontribusi sebesar 11,7 persen dari total portofolio kredit.
Baca Juga
Indonesia Ciptakan Era Baru Berbisnis di Asean, Begini Penjelasan Arsjad Rasjid
"Realisasi ini merupakan bukti nyata penerapan keuangan berkelanjutan oleh Bank Mandiri sekaligus wujud komitmen kami mendukung transisi Indonesia menuju net zero emission tahun 2060 dan tercapainya United Nations Sustainable Development Goals. Bank Mandiri terus menggenjot penyaluran pembiayaan hijau di Tanah Air yang ditujukan untuk proyek-proyek atau kegiatan usaha berwawasan lingkungan dan berkelanjutan," papar Alexandra sebagaimana dilansir Antara.
Hasilnya, sampai kuartal II 2023, porsi terbesar pembiayaan hijau Bank Mandiri disalurkan ke sektor pertanian berkelanjutan sebesar Rp 95,6 triliun, diikuti penyaluran pembiayaan untuk sektor energi terbarukan Rp 8,9 triliun, eco-efficient products Rp 4,7 triliun, clean transportation Rp 3,2 triliun, serta sektor hijau lainnya Rp 2,8 triliun.
Dalam penyaluran pembiayaan hijau, bank pelat merah itu memiliki kebijakan ESG secara spesifik untuk setiap sektor berupa ESG Credit Policy. Untuk debitur di sektor kelapa sawit (crude palm oil/CPO) misalnya, Bank Mandiri mensyaratkan adanya sertifikat atau bukti pendaftaran ISPO/RSPO. Per Maret 2023, 83 persen dari debitur di sektor kelapa sawit telah mengantongi atau tengah memproses sertifikat ISPO/RSPO.
Baca Juga
Syarat Penerima Subsidi Diperlonggar, Pemain Molis Mau Tancap Gas
"Melalui green financing dan kriteria IAC, Bank Mandiri mendorong para debitur untuk bertransisi ke ekonomi hijau dan berkelanjutan. Bank Mandiri juga mencatatkan kenaikan pembiayaan ke sektor energi terbarukan. Kredit untuk energi terbarukan pada 2020 hanya Rp 2,5 triliun, kemudian naik menjadi Rp 6,15 triliun di akhir 2022," ujar Alexandra.
Beberapa proyek energi terbarukan yang mendapatkan kucuran pembiayaan hijau dari Bank Mandiri adalah Kerinci Hydro Power Plant dan Malea Hydro Power Plant di Sulawesi Selatan. Bank Mandiri juga menyalurkan pembiayaan untuk proyek Poso Hydro Power Plant dengan total kapasitas 515 MW.

