Kebutuhan Hidrogen di Indonesia Capai 1,54 Juta Ton per Tahun di 2045, Ini Respons PLN
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) memaparkan, hasil simulasi kebutuhan (demand) hidrogen pada peta jalan Hidrogen dan Amonia Nasional yang menunjukkan proyeksi kebutuhan hidrogen di tahun 2045 pada sektor industri sebanyak 1.548.512 ton per tahun.
VP Hidrogen dan Dekarbonisasi PT PLN (Persero), Ricky Cahya Andrian menyampaikan, permasalahan untuk memenuhi kebutuhan hidrogen di sektor industri adalah harga produksi yang terlalu mahal.
“Problem-nya adalah harga. Harganya itu dua kali lipat dari SMR (Small Modular Reactor). Misalkan SMR itu US$ 300 – US$ 500 per ton, itu kalau dari green amonia (amonia rendah karbon) bisa US$ 800 – US$ 1.200 per ton,” kata Ricky di Aryaduta Hotel, Menteng, Jakarta, Kamis (16/5/2024).
Baca Juga
Ricky pun menawarkan solusi atas permasalahan tersebut, pemberian subsidi kepada harga hidrogen dari pemerintah dengan persyaratan melalui sistem lelang (bidding).
“Di (negara) luar itu mereka disubsidi (harga hidrogennya). Yang tadi saya bilang top down sama bottom up. Bottom-up dihajar pakai carbon tax dan kemudahan untuk menjual barangnya dibantu pemerintah, top down-nya dikasih subsidi. Pemerintah Belanda itu satu tahun (setiap periode) mengeluarkan pengumuman untuk bidding semua (private sectors). Jadi tidak pukul rata, yang mau ikut subsidi (harga hidrogen) harus nge-bidding,” jelas dia.
Baca Juga
PLN Sebut Indonesia Bisa Jadi Pemain Hidrogen Global, Ini Sebabnya
Sebagai gambaran, berdasarkan data PLN per 12 Maret 2024, pemerintah di beberapa negara Eropa seperti Perancis, Jerman dan Belanda memberikan subsidi harga hidrogen masing-masing sebesar US$ 5,79 per kg, US$ 5,46 per kg, dan US$ 4,48 per kg.
“Kalau Indonesia bagaimana? Harga US$ 6,3 itu sebenarnya sudah subsidi, makanya harganya cukup kompetitif. Jadi US$ 6,3 itu sekitar US$ 3,3 per kilogram di plant gate-nya,” ucap Ricky.

