PLN Ungkap Ada 3 Tantangan dalam Bisnis Green Hydrogen, Apa Saja?
JAKARTA, investortrust.id – PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN mengungkapkan 3 tantangan yang dihadapi perseroan dalam bisnis green hydrogen. VP Hidrogen dan Dekarbonisasi PLN, Ricky Cahya Andrian menyampaikan, tiga tantangan tersebut adalah regulasi, tarif (subsidi), dan keamanan (safety).
“Kita mohon dukungannya dari regulasi, Alhamdulillah tadi Pak Tony (Tony Susandy, Koordinator Keteknikan dan Lingkungan Aneka EBT Kementerian ESDM) sampaikan sedang menyusun standardisasi (SNH/Standar Nasional Hidrogen),” kata Ricky dalam seminar “3rd Investortrust Future Forum: Menggali Potensi Besar dan Masa Depan Mobil Hidrogen” di Aryaduta Hotel, Menteng, Jakarta, Kamis (16/5/2024).
Baca Juga
RI Ditargetkan Manfaatkan 9,8 Juta Ton Hidrogen per Tahun pada 2060
"Kemudian, belum ada tarif, mudah-mudahan nanti kalau makin banyak (FCEV) tarif sudah bisa ditentukan oleh pemerintah, dan safety ini juga lagi disusun oleh timnya pak Tony,” ujar Ricky.
Pada kesempatan yang sama, Koordinator Keteknikan dan Lingkungan Aneka EBT Kementerian ESDM Tony Susandy menyampaikan, Komite Teknis dan Pengembangan Standar Nasional Hidrogen telah menyusun peta jalan penyusunan standardisasi dengan ruang lingkup “Mirroring ISO/TC 197 Hydrogen Technologies & IEC/TC 105 Fuel Cell Technologies.”
PLN Harap Adanya Subsidi Harga Hidrogen
Lebih lanjut, Ricky mencontohkan pemerintah di negara luar yang memberikan subsidi untuk harga hidrogen per 5 Maret 2024, yakni Jepang dan Jerman.
“Di Jepang itu sekitar US$ 10,56 per kg untuk (FCEV) 700 Bar di HRS (hydrogen refueling station) Eneos. Kemarin saya sempat ke Ariake, Jepang itu US$ 7,74 per kg di HRS Iwatani. Di Jerman itu dia US$12,42 per kg,” jelas Ricky.
Baca Juga
PLN Klaim Harga Bahan Bakar Hidrogen Lebih Murah dari BBM, Jarak 1 Km Hanya Rp 1.255
Di negara luar, lanjut Ricky, harga hidrogennya disubsisi. “Jadi setiap periode dia (harga hidrogen) disubsidi, angkanya itu sekitar US$ 5 per kg. Karena harganya tinggi, makanya dia harus subsidi,” tutur dia.
Sebagai gambaran, berdasarkan data PLN per 12 Maret 2024, pemerintah di beberapa negara Eropa seperti Prancis, Jerman dan Belanda memberikan subsidi harga hidrogen masing-masing sebesar US$ 5,79 per kg, US$ 5,46 per kg, dan US$ 4,48 per kg.
“Kalau Indonesia bagaimana? Harga US$ 6,3 itu sebenarnya sudah subsidi, makanya harganya cukup kompetitif. Jadi US$ 6,3 itu sekitar US$ 3,3 per kg di plant gate-nya,” tutup dia.

