Musim Kemarau di Indonesia Mendekati Puncak
Musim kemarau panjang di Indonesia mulai menuju puncak di bulan Oktober ini. Kekeringan masih dialami di sebagian pesisir utara Jawa seperti di Jakarta, Batang dan Pati. Meski di sebagian wilayah Jawa bagian selatan telah diguyur hujan secara sporadis seperti di Sukabumi, Bogor dan Depok tetapi hal ini tidak mengindikasikan berakhirnya musim kemarau.
Seperti dikutip dari cuitan Erma Yulihasti, Peneliti Klimatologi Pusat Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Cuitan itu menjelaskan meski hujan sudah mengguyur sejumlah wilayah di bagian selatan Pulau Jawa, namun bukan berarti ini menandakan berakhirnya musim kemarau.
"Tidak ada indikasi berakhirnya musim kemarau karena angin masih didominasi angin timuran yang kering dan panas (kuning) di selatan Indonesia. Hujan lokal yang terbentuk beberapa hari terakhir dipicu oleh pembentukan siklon tropis Bolaven di Samudera Pasifik bagian utara." Demikian cuitan Erna di media sosial X.
Pelaksana tugas (Plt) Deputi BMKG Urip Haryoko pada bulan Mei tahun ini mengungkap tiga fenomena yang terjadi bersamaan yang membuat September bakal jadi salah satu puncak kekeringan 2023. Haryoko menuturkan puncak kekeringan itu diprediksi terjadi pada September dan Oktober. Periode kering di Indonesia ini timbul sebagai dampak El Nino.
El Nino menyebabkan berkurangnya curah hujan secara global termasuk di Indonesia. Perubahan ikim dan anomali suhu di Samudera Pasifik inilah yang disebut dengan El Nino. Di Indonesia, dampak dari El Nino menyebabkan durasi musim kemarau di Indonesia yang lebih panjang tetapi tidak terlalu parah.
Mengutip keterangan dari situs resmi BMKG, dampak El Nino tergantung pada intensitas El Nino, durasi El Nino, dan musim yang sedang berlangsung. Ikhtisar Cuaca Harian BMKG yang terakhir diperbarui menyatakan dampak El Nino di Indonesia sudah tergolong moderat meski dampaknya tidak signifikan. Hal ini diindikasikan dengan beberapa indeks yang menunjukkan kualitas El Nino; Southern Oncillation Index (SOI) mencapai -9.5, Indeks NINO 3.4 mencapai +1.27.
Durasi puncak El Nino di tahun ini berbarengan dengan puncak musim kemarau. BMKG sempat memperkirakan puncak musim kemarau 2023 terjadi pada bulan Juli dan Agustus 2023 yang meliputi 507 zona musim (ZOM) atau lebih dari 70% wilayah Indonesia. Wilayah ini termasuk Jakarta dan sebagian besar pesisir utara Jawa. Unsur 'pengering' lainnya yaitu posisi Matahari yang berdekatan dengan wilayah ekuator atau khatulistiwa jelang akhir 2023. Puncaknya berupa fenomena ekuinoks yang menyebabkan cuaca di Jakarta dan sebagian besar wilayah Indonesia belakangan ini menjadi panas sekali seolah sebagian lidah matahari mendekati Indonesia.
"Pada saat yang bersamaan, bulan September-Oktober juga Matahari secara siklusnya akan kembali berada di sekitar ekuator, pada periode tersebut radiasi matahari yang diterima oleh Indonesia akan maksimum," tutur Urip. "Maka tidak heran nanti pada bulan Oktober kita akan mendapatkan laporan suhu udara panas," ungkapnya dia.
Ekuinoks sendiri adalah fenomena yang terjadi saat Matahari melintasi khatulistiwa. Yang tadinya matahari sedikit miring ke selatan atau utara, kini posisinya tepat di tengah garis ekuator dan benar benar seimbang antara bumi belahan selatan dan utara. Mengutip rilis dari BRIN, ekuinoks terjadi pada 23 September pukul 08.30 WIB/09.30 WITA/10.30 WIT. Saat itu jarak Matahari-Bumi diperkirakan sejauh 150.147.520 km.

