Kapolda Riau Minta Pemutusan Titik Api Dipercepat Jelang Puncak Kemarau
Poin Penting
|
BENGKALIS, investortrust.id — Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan meminta upaya pemutusan titik api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dipercepat menjelang puncak musim kemarau pada Agustus mendatang. Hal itu disampaikannya saat meninjau lokasi karhutla di Desa Sekodi, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Jumat (3/4/2026).
"Kami hadir di sini untuk memberikan motivasi, dukungan moril dan memastikan bahwa upaya pemadaman dilakukan secara maksimal. Ini tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri, tetapi harus kolaboratif melibatkan semua pihak," kata Herry dalam keterangan resmi, Jumat (3/4/2026).
Dia menegaskan, percepatan pemadaman diperlukan sebelum memasuki periode kemarau yang lebih kering. "Lebih baik bekerja keras sekarang sebelum memasuki puncak kemarau, daripada nanti memadamkan dalam kondisi yang jauh lebih besar dan sulit," tegas Herry.
Sementara itu, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) bidang perlindungan hutan, Bambang Hero Suharjo mengingatkan potensi fenomena Super El Nino yang dapat memicu kekeringan panjang dan memperparah karhutla di Provinsi Riau.
"Dengan kondisi 2,7 derajat ini, ini persis seperti kejadian kebakaran 1997–1998, di mana lahan yang terbakar mencapai 10 hingga 11 juta hektare dan menimbulkan korban jiwa hingga ratusan orang," jelas dia.
Menanggapi hal tersebut, Irjen Herry menekankan penanganan karhutla harus dilakukan secara terintegrasi melalui langkah pemadaman, pencegahan, dan penegakan hukum.
"Kita bergerak bersama mencari titik api secara strategis, tujuannya agar tidak terjadi rembetan di tempat lain. Ini adalah komitmen bersama lintas sektor untuk melindungi lingkungan dan masyarakat," ujar dia.
Terpisah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total luas karhutla di Provinsi Riau mencapai 2.713,26 hektare (ha) sejak 1 Januari hingga 24 Maret 2026.
"Angka tersebut merupakan akumulasi data per Rabu (25 Maret) yang menunjukkan tren peningkatan luasan terbakar di sejumlah titik strategis," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, seperti dikutip Antara, Jumat (3/4/2026).
Di sisi lain, hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia jatuh pada Agustus 2026, yang mencakup 429 zona musim (ZOM) atau sekitar 61,4% wilayah Indonesia. Wilayah lain akan mengalami puncak kemarau pada Juli (12,6%) dan September (14,3%).
Wilayah yang memasuki puncak musim kemarau pada Juli, meliputi sebagian Pulau Sumatra, Kalimantan bagian tengah dan utara, serta merambah ke sebagian kecil Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga wilayah barat Pulau Papua.
Memasuki bulan Agustus, cakupan wilayah yang mengalami puncak kemarau semakin meluas secara signifikan. "Kondisi kering ini akan mendominasi wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, seluruh wilayah Bali dan Nusa Tenggara, serta sebagian Maluku dan Pulau Papua," papar Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan dalam keterangannya, dikutip Jumat (3/4/2026).
Pada periode September, kata Ardhasena, puncak musim kemarau masih dialami di sebagian Lampung, sebagian kecil Jawa, dan sebagian besar NTT.
"Selain itu, puncaknya juga akan dirasakan di wilayah Sulawesi bagian utara dan timur, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, serta sebagian kecil Pulau Papua," tutur dia.

