Penghargaan Bukan Tujuan Akhir, Pemberdayaan Masyarakat Jadi Warisan Tambang Martabe
"Kalau masyarakat benci kami, menganggap kami penyebab bencana, waktu kami datang membawa bantuan dan alat berat untuk menolong korban bencana, mungkin kami sudah diusir, Pak, sudah dilempari batu."
Jakarta, Investortrust.id – Pengelola tambang emas Martabe di Kabupaten Tapanuli Selatan lebih dari serius dalam mewujudkan komitmen mereka dalam mengembangkan masyarakat di sekitar wilayah operasional tambang Martabe. Kiprah yang diberikan tidak terbatas pada bantuan sosial dan pembangunan infrastruktur, namun PT Agincourt Resources (PTAR) juga mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi masyarakat yang produktif dan diharapkan mampu mandiri dan memberi manfaat jangka panjang bahkan setelah kegiatan tambang berakhir.
Melalui delapan pilar pemberdayaan masyarakat, PTAR mengembangkan berbagai usaha produktif mulai dari peternakan ayam, budidaya ikan, pertanian jagung, kakao, hingga kopi. PTAR juga memperkuat program pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana dan mendorong lahirnya sumber penghidupan alternatif di luar sektor pertambangan. Kepedulian, dedikasi dan komitmen PTAR akhirnya diganjar penghargaan dari Kementerian ESDM pada malam Apresiasi Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Badan Usaha Pertambangan Mineral 2026 sekaligus penutupan Minerba Convex 2026 di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Ditemui usai menerima penghargaan, Direktur Eksternal PT Agincourt Resources, Sanny Tjan, mengatakan, "Ya, memang sejak beberapa tahun belakangan ini PTAR secara kontinu melakukan berbagai inisiatif untuk proyek-proyek. Terutama untuk kesenian, pendidikan, dan banyak lagi hal-hal lain. Dan yang terakhir kita lakukan, kemarin timnya Ibu Christine Pepah (Senior Manager Community PT Agincourt Resources) mengirim tim kesenian (yang terdiri dari anak-anak warga lokal) asuhan kita ke Turki."
PTAR secara konsisten menjalankan berbagai inisiatif pemberdayaan masyarakat, khususnya di 15 desa yang berada di sekitar wilayah operasional Tambang Emas Martabe.
"Dari PTAR sendiri, dari manajemen, kita punya komitmen untuk selalu memperhatikan terutama 15 daerah (di sekitar tambang). Memang sehari-hari kita beroperasi di daerah mereka, sehingga program-program nanti bisa berjalan berkelanjutan." Ujar Sanny Tjan.
Komitmen tersebut juga tercermin dari alokasi anggaran PPM. Lebih lanjut, Senior Manager Community PT Agincourt Resources, Christine Pepah, dan anggota timnya, Senior Supervisor Agriculture Development, Minhajul Abidin, yang turut mendampingi Sanny Tjan, menjelaskan bahwa perusahaan telah mengucurkan dana hingga US$3 juta untuk program PPM sepanjang 2025, termasuk penanganan bencana dan pemulihan pascabencana. Anggaran tersebut meningkat dibandingkan dengan alokasi tahun-tahun sebelumnya yang rata-rata berada di kisaran US$2 juta.
Kenaikan anggaran tersebut antara lain dipengaruhi oleh kebutuhan penanganan dan pemulihan masyarakat setelah bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Tapanuli Selatan pada akhir 2025.
Sebelumnya, PTAR juga mencatatkan realisasi anggaran PPM sebesar US$2,7 juta pada 2024, dengan jumlah penerima manfaat mencapai lebih dari 32.696 orang. Angka tersebut memperlihatkan skala investasi sosial perusahaan yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan jangka pendek, tetapi juga menyasar penguatan kapasitas masyarakat dan ekonomi lokal.
Mengembangkan Ekonomi Produktif dan Rantai Pasok Lokal
Salah satu pendekatan yang dikembangkan PTAR adalah menghubungkan kegiatan ekonomi masyarakat dengan kebutuhan operasional dan pasar yang lebih luas.
Program tersebut antara lain diwujudkan melalui Martabe Chicken Farm dan Martabe Goat Farm yang menjadi bagian dari inisiatif Martabe Social Enterprise.
Melalui peternakan ayam petelur, perusahaan tidak hanya membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat lokal, tetapi juga membangun hubungan ekonomi dengan petani jagung yang menjadi pemasok bahan baku pakan ternak.
Dengan demikian, kegiatan pertanian dan peternakan dapat saling mendukung. Jagung yang ditanam petani binaan dimanfaatkan sebagai salah satu bahan baku pakan, sedangkan telur yang dihasilkan dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen, termasuk pasar lokal.
"Program ini adalah inisiasi untuk recovery bagi masyarakat yang terdampak bencana. Karena umumnya mereka petani penggarap yang lahannya rusak tersapu banjir. Dan kita memberikan kontrak farming jagung di atas harga Rp 6.500/kg. Sedangkan harga sebenarnya di pasaran Rp 5.500 per kg. Jadi, harga pakan ini kita gunakan untuk peternakan ayam kita. Telurnya itu kalau sekarang kita kan (menghasilkan) ada 1.300 g sampai 1.800 kg per bulan. Sebagian kita serap untuk keperluan (konsumsi) di dalam tambang. Kemudian sebagian pengusaha-pengusaha kecil. Jadi, tidak semua telur itu diserap oleh PTAR. Karena kita harus berbagi dengan retail yang masyarakatnya menjual sebutir-sebutir. Kemudian yang tukang bakso dan bakery. Jadi banyak aspeknya." Christine Pepah menjelaskan.
"Dan paling kita senangkan karena fast moving juga telur kita. Karena cepat sekali sirkulasi penjualan. Karena yang bisa kita bilang adalah bahwa pakannya bagus." Christine menambahkan.
Data perusahaan yang dipublikasikan pada Mei 2026 menyebutkan bahwa Martabe Chicken Farm telah menghasilkan sekitar 1.100 butir telur per hari. Program tersebut juga melibatkan petani jagung melalui pengembangan lahan pertanian dan kemitraan dengan generasi muda setempat.
Sementara itu, Martabe Goat Farm dikembangkan sebagai alternatif usaha peternakan dengan melibatkan pemuda lokal dan siswa sekolah kejuruan. Pengelolaannya mencakup pembibitan, pemeliharaan, kesehatan ternak, hingga pengelolaan pakan.
Kedua usaha tersebut menjadi contoh bagaimana pemberdayaan masyarakat dapat diarahkan menjadi kegiatan ekonomi yang memiliki produk, pasar, dan rantai pasok yang jelas.
Kakao dan Kopi untuk Menciptakan Sumber Penghidupan Baru
Selain peternakan, PTAR juga mengembangkan sektor pertanian dan perkebunan melalui pendampingan petani kakao serta pengembangan komoditas kopi.
Untuk kopi, perusahaan mulai mengembangkan kopi Liberika melalui sekolah lapang dan kerja sama dengan lembaga penelitian dan pengembangan kopi, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember.
Pemilihan Liberika dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi geografis dan karakteristik lahan di sejumlah wilayah Tapanuli Selatan. Tidak semua area memiliki ketinggian dan kondisi agroklimat yang sesuai untuk pengembangan kopi Arabika dan Robusta. Karena itu, pemilihan varietas disesuaikan dengan rekomendasi teknis dan potensi lahan.
"Untuk program petani kopi ini, kami harus berkoordinasi dengan Pembinaan Petani dari dinas terkait. Kalau kami tidak bersinergi, wah, programnya nggak bakalan jalan. Karena dari dinas terkait yang lebih tahu kopi jenis apa yang cocok ditanam di sekitar Batangtoru atau Tapanuli Selatan ini." Tutur Senior Supervisor Agriculture Development PT Agincourt Resources, Minhajul Abidin.
Program ini juga melibatkan petani dan pelaku lokal yang telah memiliki pengalaman dalam budidaya kopi. Pendekatan tersebut diharapkan mempercepat transfer pengetahuan sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengembangkan komoditas perkebunan.
Di sisi lain, pengembangan kakao turut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperluas kegiatan ekonomi masyarakat. Bukan hanya mendorong produksi bahan baku, PTAR juga mengembangkan pengolahan produk agar nilai tambah dapat dinikmati di daerah.
Salah satu wujudnya adalah Rumah Cokelat dan produk Cokelat Martabe yang memanfaatkan biji kakao lokal. Pengembangan produk olahan semacam ini membuka peluang bagi tumbuhnya usaha hilir, memperluas pasar, serta meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian masyarakat.
Dengan mengembangkan peternakan, kakao, dan kopi, PTAR berupaya membangun fondasi ekonomi yang lebih beragam dan tidak semata-mata bergantung pada aktivitas pertambangan.
"Kan one day kita gak ada (selamanya) di sini, mereka yang harus sustainkan, Pak, programnya. Harus pemerintah juga yang bantu handle. Kalau tambang sudah selesai, mereka mau apa? Menciptakan industri non-tambang. Industri yang non-tambang. Sustainability. Yang gak bergantung sama kita. Dan (program ini) kita sebut sebagai Martabris Social Enterprises. Dengan unik bisnis kambing, ayam, kemudian cokelat. Sekarang kita masuk ke kopi dan juga gula aren." Christine menambahkan.
Pemulihan Ekonomi Pascabencana Jadi Prioritas
Program pemberdayaan masyarakat PTAR juga menghadapi tantangan besar setelah banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Tapanuli Selatan pada November 2025.
Bencana tersebut menyebabkan kerusakan permukiman, infrastruktur, dan lahan pertanian, dan mengganggu mata pencaharian masyarakat yang sebagian besar bekerja sebagai petani.
Dalam situasi tersebut, perusahaan tidak hanya terlibat dalam penanganan darurat, tetapi juga mengarahkan program PPM untuk mendukung pemulihan ekonomi masyarakat.
Kurang dari hitungan jam, saat bencana terjadi, Direktur Utama PT Agincourt Resources, Muliady Sutio, memerintahkan untuk mengerahkan segenap daya upaya dan semua sumber daya yang diperlukan untuk menolong masyarakat yang terdampak bencana. Hal ini diungkap oleh Senior Manager Corporate Communications PTAR, Katarina Siburian, pada awal tahun ini.
"Saat itu, Pak Mul langsung memerintahkan untuk mengerahkan alat berat, satuan tanggap bencana dan logistik yang diperlukan untuk membantu masyarakat. Nggak ada hitungan, Mas, kalau perlu kegiatan operasional (tambang) berhenti dulu, nggak apa-apa karena ini soal nyawa manusia." Ucap Katy, sapaan akrabnya saat bertemu Investortrust.
Sedangkan Minhajul Abidin yang saat itu berada di lokasi menceritakan betapa masyarakat menyambut gembira ketika Tim Tanggap Bencana PTAR datang membawa berbagai peralatan dan logistik untuk membantu dan mengevakuasi mereka.
"Kalau masyarakat benci kami, menganggap kami penyebab bencana, waktu kami datang membawa bantuan dan alat berat untuk menolong korban bencana, mungkin kami sudah diusir, Pak, sudah dilempari batu."
"Ini menjadi bukti bagaimana hubungan kami dengan masyarakat, Pak. Bukti persahabatan di lapangan. Bayangkan, Pak, satu desa hancur, rumah-rumah habis tersapu, waktu itu kami mendengar kabar dua belas orang meninggal, empat puluh lainnya hilang. Waktu Tim Emergency Response PTAR datang ke episentrum bencana, tak satu pun dari mereka mengusir kami. Kami disambut dengan tangan terbuka. Kalau kami (dianggap) menjadi sumber bencana, kami (udah) dilempar batu."
PTAR sebelumnya melaporkan telah membantu sekitar 3.000 warga terdampak melalui evakuasi, layanan kesehatan, bantuan logistik, dan dukungan di sejumlah posko pengungsian. Perusahaan juga mengerahkan tim tanggap darurat serta berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk membuka kembali akses jalan yang tertutup material longsor.
Setelah memasuki tahap pemulihan, perusahaan mulai memberikan dukungan kepada petani yang kehilangan atau mengalami kerusakan lahan pertanian.
Dalam wawancara, tim Community Relations menjelaskan bahwa bantuan mencakup penyediaan benih kacang tanah, padi gogo, dan jagung untuk membantu masyarakat kembali memulai kegiatan pertanian.
Langkah tersebut menjadi penting karena sejumlah lahan persawahan mengalami perubahan kondisi akibat material pasir yang terbawa aliran banjir. Kondisi ini membuat sebagian petani tidak lagi dapat mengandalkan pola pertanian padi sawah seperti sebelumnya.
Karena itu, PTAR bersama Balai Penyuluhan Pertanian mulai melakukan pemetaan lahan dan mengembangkan demonstration plot atau demplot untuk menguji komoditas alternatif yang lebih sesuai dengan kondisi lahan pascabencana.
Tantangan berikutnya adalah mengubah kebiasaan dan pengetahuan petani agar mampu beradaptasi dengan komoditas serta metode pertanian baru.
Perusahaan juga mengembangkan program ekonomi sirkular melalui pengolahan sampah, bank sampah, pengomposan, dan budidaya maggot. Salah satu inisiatifnya melibatkan sekitar 26 rumah tangga di Desa Garoga untuk mengembangkan budidaya maggot yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak.
Pendekatan ini diharapkan tidak hanya membantu mengatasi persoalan sampah rumah tangga, tetapi juga menciptakan peluang pendapatan baru bagi masyarakat terdampak bencana.
Pendidikan, Kesehatan, dan Penguatan Kelembagaan
Di luar pengembangan ekonomi, PTAR tetap melanjutkan berbagai program pendidikan dan kesehatan.
Salah satu program unggulannya adalah Beasiswa Martabe Prestasi yang telah berjalan sejak 2017. Program ini ditujukan bagi siswa dan mahasiswa berprestasi, terutama dari keluarga prasejahtera di Tapanuli Selatan.
Pada tahun akademik 2026/2027, perusahaan menyalurkan beasiswa senilai Rp5,29 miliar kepada 341 pelajar dan mahasiswa. Penyaluran tersebut tetap dilakukan meskipun kegiatan operasional tambang masih berada dalam tahap pemulihan.
Di bidang kesehatan, perusahaan mengembangkan program dokter spesialis, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, revitalisasi Posyandu, serta berbagai layanan kesehatan masyarakat. Program operasi katarak gratis yang telah berjalan sejak 2011 juga tercatat telah membantu memulihkan penglihatan 8.945 penderita katarak di Sumatera Utara.
Sementara itu, dalam aspek sosial budaya, perusahaan mendukung pelatihan kesenian, olahraga, pelestarian adat, dan pengembangan potensi anak-anak. Salah satu inisiatif terbaru adalah pengiriman kelompok kesenian anak-anak binaan untuk tampil di Turki.
PTAR juga memperkuat kelembagaan masyarakat melalui kelompok-kelompok binaan dan mekanisme monitoring serta evaluasi bersama. Pendekatan ini bertujuan agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima program, tetapi juga turut terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pemberdayaan.
Menyiapkan Ekonomi Pascatambang
Bagi PTAR, salah satu tujuan penting dari program PPM adalah memastikan masyarakat memiliki kemampuan ekonomi yang tetap berkembang ketika kegiatan pertambangan suatu hari nanti berakhir.
Karena itu, pengembangan Martabe Social Enterprise menjadi salah satu pendekatan strategis perusahaan untuk mendorong lahirnya usaha dan industri berbasis potensi lokal.
Peternakan kambing, ayam petelur, pengolahan kakao, kopi, serta pengembangan produk pangan merupakan bagian dari upaya membangun sumber pendapatan alternatif di luar sektor pertambangan.
Manajemen PTAR menekankan bahwa keberlanjutan program tidak dapat hanya bergantung pada perusahaan. Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, kelompok masyarakat, dan para penerima manfaat harus terlibat agar berbagai usaha yang telah dirintis dapat terus berkembang secara mandiri.
Perusahaan juga mengakui bahwa pemberdayaan masyarakat membutuhkan proses panjang. Keberhasilan sebuah program tidak cukup diukur dari besarnya anggaran yang dikeluarkan atau jumlah bantuan yang disalurkan, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mempertahankan dan mengembangkan usaha setelah pendampingan perusahaan berakhir.
Komitmen tersebut menjadi semakin relevan mengingat kawasan Batang Toru memiliki potensi ekonomi dan lingkungan yang perlu dijaga secara bersama-sama. Pengembangan ekonomi masyarakat, pelestarian lingkungan, serta penguatan kelembagaan lokal menjadi faktor penting dalam membangun ketahanan sosial di kawasan tersebut.
Pada akhirnya, keberhasilan program pemberdayaan masyarakat di sekitar Tambang Emas Martabe akan ditentukan oleh seberapa jauh masyarakat mampu mengambil peran sebagai pelaku utama pembangunan ekonomi daerahnya sendiri.
Bagi PT Agincourt Resources, investasi sosial bukan sekadar bagian dari tanggung jawab perusahaan selama tambang beroperasi, melainkan juga upaya membangun warisan ekonomi dan sosial yang dapat terus memberikan manfaat bagi generasi berikutnya.
