Kolaborasi Regional ASEAN Jadi Langkah Penting Reduksi Emisi Metana di Industri Migas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Programme Manager dan Senior Officer ASEAN Regional Programs di AKCMM (The ASEAN-Korea Cooperation for Methane Mitigation) Jihyun Kang menilai kolaborasi regional negara-negara ASEAN menjadi langkah penting untuk mempercepat pengurangan emisi metana di industri minyak dan gas bumi (migas).
Menurutnya, kerja sama ini diperlukan untuk memperkuat kebijakan, meningkatkan kapasitas teknis, serta mendorong penerapan langkah mitigasi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing negara. Dia menilai, tata kelola metana membutuhkan koordinasi lintas sektor dan lembaga. Pasalnya, pengurangan emisi tidak bisa hanya mengandalkan satu kementerian atau instansi.
“Koordinasi sangat penting karena tata kelola metana tidak ditangani oleh satu kementerian atau lembaga saja,” ujar Jihyun dalam gelaran 51st ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) Council Meeting 2026, dikutip Rabu (28/10/2026).
Jihyun menjelaskan, pendekatan regional perlu mendukung kebijakan dan rencana nasional, bukan menggantikannya. Setiap negara memiliki prioritas, kapasitas, dan tantangan berbeda dalam menekan emisi metana. Karena itu, kerja sama ASEAN diarahkan pada pertukaran pengetahuan, penguatan kapasitas, dukungan investasi, pemanfaatan teknologi, pelibatan sektor swasta, serta penguatan sistem data emisi.
Menurut dia, keterlibatan industri menjadi kunci agar strategi regional dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata. Pemerintah dapat membangun arah kebijakan dan jaringan kerja sama, tetapi pelaksanaan mitigasi juga membutuhkan investasi serta tindakan langsung dari perusahaan.
Sementara itu, Legal Advisor and Regulatory Analyst International Energy Agency (IEA), Sadhika Gulati, menilai pengurangan emisi metana juga memberikan manfaat ekonomi bagi industri migas. Selain menekan emisi, upaya tersebut dapat membantu mengoptimalkan gas yang sebelumnya terlepas akibat kebocoran atau dibakar melalui praktik flaring.
“Sebagian besar pengurangan emisi metana dapat dilakukan tanpa menimbulkan biaya bersih tambahan bagi operator,” kata Sadhika saat memaparkan temuan Global Methane Tracker 2026.
IEA memperkirakan lebih dari 35 juta ton metana secara global, atau sekitar 30% emisi metana dari sektor bahan bakar fosil pada 2025, berpotensi dikurangi tanpa biaya bersih tambahan. Di kawasan ASEAN, potensi pengurangan tanpa biaya bersih tambahan tersebut mencapai sekitar 60% dari emisi metana sektor minyak dan gas.
Sadhika menambahkan, mitigasi metana di sektor minyak dan gas global berpotensi menyediakan hampir 100 miliar meter kubik gas per tahun. Sementara itu, penghapusan praktik flaring yang bukan untuk kondisi darurat berpotensi membuka tambahan pasokan hampir 100 miliar meter kubik per tahun. Potensi ini memperlihatkan bahwa pengurangan emisi dapat berjalan seiring dengan upaya memperkuat ketahanan energi.
VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menyampaikan, pelaksanaan Methane Workshop dalam rangkaian 51st ASCOPE Council Meeting ini menjadi wadah strategis untuk menyelaraskan komitmen global dengan aksi nyata di tingkat regional.
“Lewat Methane Workshop di ajang ASCOPE ini, Pertamina ingin mendorong pertukaran pengetahuan, teknologi, serta kolaborasi program pengurangan emisi yang konkret antarnegara anggota ASEAN maupun mitra global. Hal ini sejalan dengan Dual Growth Strategy Pertamina, di mana kami berkomitmen menjaga dan meningkatkan produksi energi fosil demi ketahanan energi nasional, sembari secara paralel mengakselerasi bisnis hijau dan aksi dekarbonisasi untuk menekan emisi metana secara agresif,” tegas Baron.
Komitmen dekarbonisasi tersebut telah dibuktikan Pertamina melalui kinerja riil di mana sepanjang Semester I-2026 capaian dekarbonisasi perseroan menembus 118% dari target tahunan. Keberhasilan ini dicapai melalui beberapa program utama seperti bioetanol, biofuel, dan efisiensi energi.
