Pertamina Patra Niaga Dukung Perempuan Lombok Merajut Masa Depan Lewat Mina Tenun
Poin Penting
|
LOMBOK, investortrust.id – Galeri Mina Tenun di Desa Sukarara, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan penghasilan perempuan penenun sekaligus membuka akses air bersih bagi masyarakat. Program yang dikembangkan PT Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Bandara Internasional Lombok itu menggabungkan penguatan usaha tenun dengan pemanfaatan energi terbarukan.
Sebelum program berjalan, sebagian penenun di Desa Sukarara hanya menerima upah sekitar Rp 25.000 per lembar kain. Ketergantungan pada pengepul membuat posisi tawar mereka terbatas, sementara pembayaran kerap bergantung pada kapan produk terjual. Kondisi tersebut menyulitkan penenun memutar modal untuk membeli bahan baku berikutnya.
Melalui Galeri Mina Tenun, para penenun mendapat dukungan bahan baku, motif, dan alat tenun gedogan. Galeri juga membantu pemasaran serta mempercepat proses penjualan, sehingga pembayaran dapat diterima setelah kain selesai diproduksi tanpa harus menunggu produk laku ke konsumen akhir.
Dengan skema tersebut, penghasilan penenun kini dapat mencapai minimal sekitar Rp 750.000 per lembar kain setelah memperhitungkan modal kain. Program ini juga menyasar perempuan yang sebelumnya bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan menghadapi keterbatasan kesempatan kerja setelah kembali ke kampung halaman.
VP Community Involvement Development Pertamina Patra Niaga Dian Hapsari Firasati mengatakan, program pemberdayaan tersebut dirancang untuk memperkuat potensi ekonomi lokal sekaligus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Melalui Galeri Mina Tenun, kami berupaya membuka akses ekonomi yang lebih baik bagi perempuan penenun, sekaligus mengembangkan potensi lokal melalui inovasi yang mengintegrasikan budaya dan energi terbarukan. Kami ingin perempuan penenun memiliki peluang untuk meningkatkan penghasilan dan membangun kemandirian ekonomi, sementara masyarakat juga dapat merasakan manfaat program dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui dukungan akses air bersih,” ujar Dian saat ditemui di Desa Sukarara, Lombok, Jumat (9/10/2026).
ATBM hasilkan energi listrik
Selain persoalan pendapatan, masyarakat Sukarara juga menghadapi tantangan ketersediaan air bersih. Kekeringan di sejumlah wilayah NTB membuat sebagian rumah tangga harus mencari sumber air alternatif atau membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Untuk menjawab persoalan itu, Mina Tenun mengembangkan alat tenun bukan mesin (ATBM) yang dimodifikasi agar gerakan mekanis saat menenun dapat menghasilkan energi listrik. Energi tersebut dimanfaatkan untuk mendukung pengoperasian pompa air dan sistem filtrasi.
Inovasi ini didukung pula oleh pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Patra Niaga. Dengan demikian, kegiatan menenun yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi, tetapi juga dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan dasar warga.
“Bagi kami, inovasi sosial bukan hanya tentang menghadirkan teknologi baru, tetapi memastikan inovasi tersebut menjawab kebutuhan masyarakat. Melalui Mina Tenun, aktivitas menenun yang menjadi bagian dari budaya lokal dikembangkan untuk mendukung penghidupan perempuan sekaligus menghadirkan solusi bagi kebutuhan air bersih. Kami berharap program ini dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan,” ucap Dian.
