Merajut Harapan Lewat Kerajinan, dari Kepedulian, Pengrajin Lokal hingga Pasar Ekspor
Poin Penting
|
TANGERANG, investortrust.id - Ingin membantu anak-anak di panti asuhan menjadi titik awal Thio Siujinata, membangun usaha kerajinan tangan yang terbuat dari bahan serat alam hingga berhasil menjajakan produk ke luar negeri. Dimulai dari pandemi Covid-19, yakni pada 2021, dirinya mulai memikirkan bagaimana membantu para anak-anak panti untuk memperoleh pekerjaan.
Dikarenakan sudah memiliki usaha di bidang food and beverage (FnB) dan membina kerajinan tangan, akhirnya Tio memutuskan untuk membangun galeri bernama Crafted Gallery & Coffee yang memadukan kedai kopi sekaligus menjual berbagai macam jenis kerajinan tangan yang diproduksinya.
"Ternyata usaha itu berjalan. Awalnya, kami menggunakan kekuatan sendiri, tetapi saya berpikir usaha ini sepertinya hanya akan berkembang sampai di situ-situ saja," ucap Thio Siujinata selaku pemilik usaha kriya Craftote saat berbincang-bincang dengan Investortrust.id, di ICE BSD, Tangerang.
Dari usahanya itu, Thio mulai berpikir untuk mengikuti pameran Kriyanusa pada 2023. Tak disangka, salah satu produk, yakni Boheme Bamboo Lamp berhasil menerima penghargaan. Dari situ, ia mendapatkan fasilitas mengikuti Trade Expo Indonesia (TEI) yang digelar oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) ntuk pertama kalinya pada 2023.
Siapa sangka, satu kesempatan yang diraihnya tersebut langsung mengantarkannya ke gerbang ekspor pertama kali. Dari pameran tersebut, ia mendapatkan pembeli yang berasal dari Jepang dan Kanada. Salah satu produk kerajinan tangan, yakni basket bahkan hingga saat ini masih dikirimkan kepada pembeli asal Kanada.
Baca Juga
Ekspor Kerajinan Naik 15%, Kemenperin Perkuat Akses Pasar Industri kecil Menengah
"Ibaratnya, orang yang belum bisa berenang langsung dijeburkan ke kolam. Kami bingung, setelah ini bagaimana? Kami belum mengerti proses bisnis ekspor, termasuk bagaimana menindaklanjuti calon pembeli setelah mengikuti business matching," ungkapnya.
Terus berinovasi
Meski sudah mendapatkan penghargaan dan pembeli dari luar negeri, Thio tidak menghentikan langkahnya untuk terus mengembangkan bisnis usahanya, khususnya inovasi-inovasi dari produk kerajinan tangan yang dikelolanya dengan mendapatkan pendampingan dan konsultasi dari Indonesia Design Development Center (IDDC) yang berada di bawah nuangan Kemendag.
Dia juga melihat peluang ekspor produk kerajinan berbahan alami masih terbuka, terutama untuk pasar yang membutuhkan produk dengan karakter desain tertentu. Namun, untuk menjangkau pasar tersebut, produsen harus mampu menyesuaikan desain, kualitas, dan material dengan permintaan pembeli.
Dalam memproduksi produknya, Thio menceritakan bahwa dirinya bekerja sama dengan pengrajin lokal di Yogyakarta dan juga berkolaborasi dengan asosiasi di sana. Ia menjelaskan, setiap kelompok pengrajin memiliki spesialisasi material dan teknik tertentu. Ada kelompok yang berfokus pada anyaman eceng gondok, sementara kelompok lainnya mengerjakan material berbeda, seperti rotan.
Karena itu, proses produksi dapat dibagi ke beberapa kelompok agar hasil akhir sesuai dengan desain yang dibutuhkan.Menurut dia, pembagian pekerjaan tersebut juga menjadi cara untuk menjaga kualitas produk sekaligus menyesuaikan kapasitas dengan volume pesanan.
Sebagai contoh, ia mengungkapkan, ketika menerima pesanan dalam jumlah tertentu, dia terlebih dahulu memperhitungkan kemampuan pengrajin agar tenggat pengiriman yang disepakati dengan pembeli tetap realistis.
"Kelompok pengrajin lain bisa mengerjakan 200 atau 300 produk. Dengan mengetahui kapasitas setiap kelompok, kami bisa memperkirakan bagaimana memenuhi pesanan hingga ribuan produk. Yang paling penting adalah pengendalian kualitas atau quality control (QC)," terangnya.
Dengan mengikuti pameran TEI selama 3 tahun berturut-turut hingga 2026 ini dan memadukan desain yang dirancang dengan pengrajin lokal, ekspor Thio tidak hanya terhenti pada pembeli asal Jepang dan Kanada. Bisnis yang dikelolanya terus berkembang dan meluas ke pembeli Finlandia dan Australia.
Salah satu pencapaian besarnya terjadi pada pengiriman pada Juni 2026 mencapai satu kontainer berukuran 40 kaki dengan nilai sekitar Rp160 juta. Capaian tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan usaha yang awalnya dibangun untuk membuka kesempatan kerja. Kerajinan yang dibuat melalui jaringan pengrajin lokal kini dapat menjangkau pembeli di luar negeri.
"Saya berharap bisa memperluas pasar ke negara lain, termasuk Belanda, sekaligus mengembangkan produk agar semakin banyak pengrajin yang terlibat. Pada akhirnya, usaha ini bukan hanya soal menjual produk. Kami juga ingin menjaga agar keterampilan kerajinan tradisional tetap bertahan dan bisa diwariskan kepada generasi berikutnya," paparnya.
