ISF 2026 Dibuka, Kadin Tegaskan Transisi Energi Kunci Ketahanan Ekonomi Nasional
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie resmi membuka gelaran Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026. Forum keberlanjutan tahunan keempat ini menjadi panggung strategis bagi Indonesia untuk memperkuat investasi, kolaborasi internasional, dan ketahanan energi nasional di tengah gejolak geopolitik global.
Dalam pidato pembukanya, Anindya menyoroti ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan gangguan pada titik hambatan (choke point) Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak dunia dari US$ 65 menjadi US$ 110 per barel. Situasi ini menjadi peringatan serius bagi Indonesia yang menghadapi defisit bahan bakar, dengan tingkat konsumsi mencapai 1,6 juta barel per hari sementara produksi domestik hanya berkisar 600 ribu barel per hari.
"Ketergantungan inilah yang membuat kita rentan ketika harga global bergerak naik. Terlepas dari tantangan global ini, Indonesia memiliki kesempatan untuk memperkuat ketahanan energinya dengan mempercepat elektrifikasi, meningkatkan skala energi terbarukan, dan mengurangi paparan kita terhadap bahan bakar impor," ujar Anindya dalam acara Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta Pusat, Selasa (6/10/2026).
Baca Juga
Anindya menjelaskan, langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menempatkan kedaulatan energi sebagai inti respons nasional.
Lebih lanjut, Anindya menyebut, ISF terus mencatatkan pertumbuhan signifikan sejak pertama kali digelar pada 2023. Pada penyelenggaraan ISF 2025 lalu, forum ini dihadiri 11.773 peserta dan berhasil membukukan komitmen investasi senilai US$ 17,4 miliar. Pertumbuhan ini selaras dengan tren global di mana investasi transisi energi dunia menyentuh rekor US$ 2,3 triliun pada 2025, serta lonjakan pengeluaran kendaraan listrik global hingga mendekati US$ 900 juta.
Untuk menangkap peluang ekonomi hijau senilai US$ 3,8 triliun hingga 2050, Kadin Indonesia menetapkan lima fokus prioritas aksi iklim dan pertumbuhan berkelanjutan. Pertama, Kadin terus mempercepat transisi energi demi ketahanan energi.
Kedua, perlu meningkatkan pasar karbon berintegritas tinggi. Ketiga, mendukung perusahaan-perusahaan Indonesia dalam perjalanan menuju net zero.
Baca Juga
Kadin Gelar Rakornas PMK-PB 2026, Fokus Dorong Ekonomi Kerakyatan dan Produktivitas SDM
Keempat, memajukan ekonomi sirkular dan pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy). Kelima, mempromosikan kehutanan yang berkelanjutan.
Melalui sinergi pemerintah dan dunia usaha dalam kerangka Indonesia Incorporated, Kadin juga memperkuat jangkauan internasional via Kadin Global Engagement Office. Upaya ini melengkapi diplomasi ekonomi pemerintah yang aktif dalam berbagai agenda iklim global, mulai dari World Economic Forum di Swiss, London Climate Action Week, hingga New York Climate Week.
