Freeport Membantu Korban Gempa di NTT
Poin Penting
|
KUPANG, Investortrust.id - PT Freeport Indonesia (PTFI) menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai Rp2,5 miliar bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Bantuan tersebut mencakup layanan kesehatan dan penyelamatan, kebutuhan dasar pengungsi, hunian sementara, hingga sekolah darurat.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas menyampaikan hal itu setelah diterima Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena di Kantor Gubernur NTT, Kupang, Selasa (01/09/2026). Tony bersama rombongan datang dari Jakarta sebelum melanjutkan perjalanan ke Manggarai Barat untuk menyerahkan bantuan secara langsung kepada masyarakat.
Gubernur Melki Laka Lena mengapresiasi langkah cepat Freeport dalam membantu penanganan korban gempa. Menurut dia, tim penyelamat dari perusahaan pertambangan dan migas memiliki kemampuan serta pengalaman menghadapi situasi darurat, termasuk evakuasi korban, longsor, kerusakan bangunan, dan pelayanan medis di wilayah yang sulit dijangkau.
“Sejak awal, yang saya lihat turun langsung ke lapangan antara lain tim dari perusahaan tambang dan migas yang dikoordinasikan Kementerian ESDM. Mereka terbiasa menghadapi keadaan darurat dan bekerja secara praktis di lapangan. Terima kasih kepada PT Freeport Indonesia yang sejak awal sudah bersama masyarakat NTT,” kata Melki.
Gempa bumi yang terjadi pada 15 Agustus 2026 dan rangkaian gempa susulan telah menimbulkan kerusakan luas di sejumlah kabupaten di Pulau Flores. Selain merusak rumah penduduk, bencana tersebut berdampak terhadap sekolah, fasilitas kesehatan, rumah ibadah, kantor pemerintahan, jalan, dan sarana umum lainnya.
Baca Juga
Dirut Freeport Kunjungi Korban Gempa di Desa Cunca Wulang, Manggarai Barat
Melki mengatakan, dampak bencana bukan hanya kerusakan fisik. Gempa yang terjadi berulang kali juga menimbulkan tekanan psikologis, terutama bagi warga yang takut kembali ke rumah meskipun bangunannya masih berdiri. Karena itu, pemulihan psikososial perlu berjalan bersamaan dengan rekonstruksi bangunan.
Ia berharap keterlibatan Freeport tidak berhenti pada fase tanggap darurat. Perusahaan tersebut diharapkan dapat mendampingi pemulihan fasilitas publik tertentu hingga kembali berfungsi, seperti sekolah atau puskesmas di daerah yang mengalami kerusakan berat dan sulit ditangani dalam waktu singkat.
Salah satu fasilitas yang mendapat perhatian adalah SMK Negeri 3 Labuan Bajo. Sekolah dengan sekitar 800 peserta didik itu dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah. Melki berharap Freeport dapat mempertimbangkan dukungan pemulihan sekolah tersebut ataupun fasilitas kesehatan yang sangat dibutuhkan masyarakat.
“Kami berharap setelah masa tanggap darurat, ada fasilitas yang dapat didampingi secara khusus sampai pulih dan berjalan normal kembali. Bisa sekolah, puskesmas, atau rumah warga di daerah yang paling membutuhkan,” ujarnya.
Tim Freeport Layani Sekitar 500 Pasien
Tony Wenas menjelaskan, Freeport telah mengirimkan Tim Tanggap Darurat dari Timika tidak lama setelah gempa terjadi. Tim beranggotakan enam orang, terdiri atas dua dokter, satu paramedis, dan tiga personel penyelamat atau rescuer.
Tim mulai dimobilisasi dari Timika pada 20 Agustus 2026 dan menjalankan operasi lapangan pada 22–29 Agustus 2026. Mereka ditempatkan di sejumlah desa dan posko pengungsian di Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur.
Wilayah operasinya antara lain Kampung Liang Dalo di Desa Golo Wontong, Kampung Waso, Posko Pengungsian Kampung Mbinjar, Posko Pengungsian Desa Maki, Kampung Wae Waru di Desa Golo Mangung, serta Posko Utama Pengungsian Desa Golo Mangung.
Selama menjalankan tugas, tim memberikan pelayanan kepada sekitar 500 pasien. Kegiatannya meliputi layanan medis, pencarian dan penyelamatan, evakuasi korban, serta dukungan psikososial dan pemulihan trauma bagi anak-anak.
“Tim kami terdiri atas dua dokter, satu paramedis, dan tiga rescuer. Mereka turut melakukan penyelamatan dan merawat hampir 500 pasien. Setiap terjadi bencana yang membutuhkan operasi penyelamatan dan tanggap darurat, kami berupaya mengirimkan tim ke lokasi,” kata Tony.
Menurut Tony, Tim Tanggap Darurat Freeport memiliki pengalaman panjang dalam operasi penyelamatan. Tim tersebut juga berulang kali meraih prestasi dalam kompetisi penyelamatan yang diikuti perusahaan pertambangan dan migas di bawah koordinasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
“Kemampuan itu kami gunakan untuk membantu masyarakat ketika terjadi bencana. Apalagi NTT merupakan tetangga dekat Papua. Kedekatan dan persaudaraan sesama masyarakat Indonesia bagian timur mendorong kami untuk berbuat lebih banyak,” ujarnya.
Bantuan Rp2,5 Miliar
Total bantuan kemanusiaan Freeport untuk korban gempa NTT mencapai Rp2,5 miliar. Nilai tersebut berasal dari bantuan perusahaan, donasi karyawan melalui gerakan #PTFIPeduliNTT, serta program penggandaan donasi atau double match oleh perusahaan.
Hingga 31 Agustus 2026, karyawan Freeport telah mengumpulkan donasi sebesar Rp169 juta. Perusahaan kemudian memberikan dana pendamping dengan nilai yang sama sehingga dana yang disalurkan dari program tersebut mencapai sekitar Rp338 juta.
Penggalangan dana melibatkan karyawan Freeport di Timika, Nabire, Gresik, dan Jakarta. Saat ini, tercatat 83 pekerja Freeport berasal dari NTT.
Selain dana, Freeport membawa sekitar 2,5 ton bantuan menggunakan penerbangan khusus perusahaan. Pesawat yang biasanya digunakan untuk mengangkut karyawan dari Tembagapura dan Timika ke Jakarta dimanfaatkan untuk membawa berbagai kebutuhan bagi warga terdampak.
Bantuan tersebut meliputi paket perlengkapan tidur, kebutuhan kebersihan pribadi, perlengkapan tempat tinggal darurat, bahan pangan, lima unit hunian sementara, dan empat sekolah darurat.
Freeport bekerja sama dengan Human Initiative untuk menjalankan program tanggap bencana di Kabupaten Nagekeo, Manggarai, dan Manggarai Timur. Program tersebut difokuskan pada empat sektor utama, yakni pangan dan gizi; air, sanitasi, dan kebersihan; hunian dan permukiman; serta pelayanan kesehatan dasar.
Melalui Human Initiative, Freeport menyalurkan 700 paket yang mencakup perlengkapan tidur, perlengkapan kebersihan pribadi, perlengkapan hunian darurat, dan kebutuhan pangan. Bantuan juga mencakup pembangunan lima hunian sementara serta empat sekolah darurat.
Baca Juga
Bupati Manggarai Barat: Pemerintah Bertanggung Jawab Penuh terhadap Rumah Korban Gempa
Palang Merah Indonesia turut menerima alokasi bantuan senilai Rp500 juta. Bantuan itu terdiri atas paket kebersihan, sembako, perlengkapan hunian darurat, dan perlengkapan tidur, masing-masing sebanyak 300 paket.
Dalam penyaluran bantuan, Freeport juga berkolaborasi dengan PMI, Human Initiative, dan Dana Kemanusiaan Kompas. Penyerahan secara simbolis kepada masyarakat dilakukan di Desa Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat.
Tony mengatakan bantuan tersebut diberikan dengan niat tulus untuk meringankan penderitaan masyarakat sekaligus mendorong semakin banyak pihak ikut terlibat dalam pemulihan NTT.
“Di Indonesia bagian timur, jumlah perusahaan besar masih sangat sedikit dibandingkan wilayah barat. Karena itu, kami merasa terpanggil untuk hadir. Mudah-mudahan bantuan ini bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan dan dapat mendorong lebih banyak pihak untuk ikut membantu,” kata Tony.
Dalam kunjungan tersebut, Tony didampingi Vice President Corporate Communications PT Freeport Indonesia Katri Krisnati dan sejumlah tokoh media asal NTT, yakni Don Bosco Selamun, Rikard Bagun, Primus Dorimulu, dan Maria Benyamin, serta sejumlah karyawan Freeport yang berasal dari NTT.
