CCS Indonesia Masuk Babak Implementasi, Kolaborasi dan Investasi Jadi Kunci
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indonesia terus memperkuat posisi sebagai salah satu negara dengan prospek besar dalam pengembangan carbon capture and storage (CCS) di kawasan Asia Pasifik. Pengembangan CCS kini mulai bergeser dari penguatan kebijakan menuju tahap implementasi proyek, dengan fokus pada kolaborasi, investasi, dan pengembangan proyek berskala komersial.
Momentum tersebut mengemuka dalam The 4th International & Indonesia Carbon Capture and Storage (IICCS) Forum 2026 yang digelar Indonesia Carbon Capture and Storage Center (ICCSC) di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, pada 26–27 Agustus 2026.
Baca Juga
Pertamina Gandeng PGN (PGAS) dan Pupuk Indonesia Kembangkan CCS untuk Amonia Rendah Karbon
Executive Director ICCSC Belladonna Troxylon Maulianda mengatakan, Indonesia telah menunjukkan kemajuan yang signifikan melalui penyempurnaan regulasi, peningkatan kerja sama internasional, dan berkembangnya minat investasi terhadap proyek-proyek CCS.
“Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh elemen pendukung, mulai dari kebijakan, pembiayaan, infrastruktur, hingga pengembangan kapasitas, mampu berjalan secara selaras agar implementasi proyek CCS dapat berlangsung lebih cepat dan memberikan manfaat nyata bagi dekarbonisasi maupun pembangunan ekonomi nasional,” ujar Belladonna, Rabu (26/8/2026).
Mengusung tema “Advancing Indonesia’s CCS Project Deployment: Driving Policy Alignment, Regional Collaboration, and Sustainable Carbon Economy,” forum tersebut mempertemukan regulator, pelaku industri, investor, penyedia teknologi, akademisi, lembaga riset, dan organisasi internasional untuk membahas percepatan implementasi CCS serta pengembangan ekonomi karbon berkelanjutan.
Penyelenggaraan forum mendapat dukungan MPR, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Salah satu bentuk kolaborasi ditandai dengan penandatanganan MoU antara ICCSC dan Indonesia Carbon Trade Association (IDCTA) terkait advokasi CCS dan perdagangan karbon, termasuk pertukaran pengetahuan dan penyelenggaraan kegiatan bersama.
ICCSC juga meneken MoU dengan ETRS Center Korea yang mengoperasikan Korea-Indonesia Offshore Research Cooperation Center (KIORCC). Kerja sama tersebut mencakup pertukaran informasi, business-to-business matchmaking, serta pelaksanaan studi bersama untuk mendukung pembangunan rendah karbon dan pengembangan infrastruktur.
Dari sisi pengembangan proyek, Indonesia dan Jepang memperkuat kerja sama melalui Joint Credit Mechanism (JCM). JCM Joint Committee telah menyetujui inisiatif dekarbonisasi Ofaweri yang memanfaatkan Tangguh CCUS untuk melanjutkan ke tahap berikutnya sebagai proyek JCM.
Persetujuan tersebut menjadi tonggak penting karena menjadikan Tangguh CCUS sebagai proyek CCUS pertama yang terdaftar dalam kerangka JCM. Langkah ini sekaligus membuka peluang pengembangan kredit karbon melalui proyek tersebut. Selain itu, bp dan Mitsubishi Research Institute terpilih oleh NEDO untuk mengembangkan metodologi JCM baru bagi teknologi CCUS rendah karbon di Indonesia.
Baca Juga
Uji Injeksi Air Perdana di Lapangan Jatibarang Perkuat Pengembangan CCS Pertamina Group
Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menilai CCS memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan energi dan daya saing Indonesia di tengah transformasi ekonomi global.
“Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat pengembangan CCS di kawasan. Dengan memperkuat sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, investor, dan mitra internasional, Indonesia dapat mempercepat implementasi CCS sekaligus menciptakan peluang investasi baru, meningkatkan daya saing industri nasional, dan mempercepat pencapaian target Net Zero Emissions,” sebut Eddy.
