Gandeng Norwegia, RI Dorong Implementasi EBT hingga CCS/CCUS
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka potensi kerja sama dengan Norwegia. Ini dilakukan untuk mendorong implementasi energi terbarukan, elektrifikasi, CCS/CCUS, hingga hidrogen.
Dalam acara The 10th Indonesia-Norway Bilateral Energy Consultations (INBEC) yang berlangsung Senin (1/7/2024) di Jakarta, Menteri ESDM Arifin Tasrif menyampaikan, Indonesia berkomitmen mendorong kolaborasi tidak hanya berbasis G to G, namun juga berbasis B to B.
"Oleh karena itu, sebagai komitmen untuk memerangi perubahan iklim dan bergerak menuju sistem energi berkelanjutan, Indonesia dan Norwegia akan bekerja sama di lebih banyak bidang energi,” kata Arifin Tasrif dalam keterangan resmi yang dikutip, Selasa (2/7/2024).
Baca Juga
PLN Akan Tambah Porsi Pembangkit Listrik EBT Sebesar 75% hingga Tahun 2040
Arifin juga memaparkan beberapa langkah nyata yang telah dilakukan Pemerintah Indonesia untuk bergerak ke arah energi berkelanjutan. Pertama, Indonesia telah mengembangkan roadmap untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) di sektor energi pada tahun 2060.
Peta jalan tersebut memberikan strategi transisi energi baik dari sisi penawaran maupun permintaan. Strategi yang dilakukan antara lain percepatan pengembangan energi terbarukan, penghentian pembangkit listrik tenaga batu bara, penerapan teknologi ramah lingkungan seperti hidrogen dan CCS/CCUS, pemanfaatan kendaraan listrik, biofuel serta penerapan langkah-langkah efisiensi energi.
"Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau, jaringan listrik yang cerdas dan terintegrasi merupakan hal yang sangat penting untuk menjamin sistem energi yang aman dan andal. Super Grid akan mendukung pengembangan potensi energi terbarukan yang tersebar di seluruh Indonesia, meningkatkan akses energi dan membuka potensi energi baru," jelas dia.
Kedua, Arifin menyebutkan bahwa energi fosil khususnya gas, akan tetap menjadi bagian penting dalam transisi energi. Gas akan menjadi energi transisi dan dapat menghasilkan energi baru seperti amonia dan hidrogen. Implementasi teknologi rendah karbon seperti CCS/CCUS akan mengurangi emisi dan berpotensi meningkatkan produksi minyak dan gas.
"Pengalaman Norwegia yang luas di sektor energi menawarkan pembelajaran dan teknologi berharga yang dapat dibagikan kepada Indonesia. Indonesia terbuka terhadap kemitraan baru dalam praktik energi terbarukan dan energi berkelanjutan," terang Arifin.
Baca Juga
Bertemu Jokowi, Menteri LH Norwegia Puji Prestasi RI dalam Aksi Iklim dan Deforestasi
Sementara itu, Menteri Energi Norwegia Terje Aasland menyampaikan, meskipun minyak dan gas telah menjadi landasan kemitraan Indonesia-Norwegia selama hampir 30 tahun, namun pihaknya juga melihat bahwa energi terbarukan sebagai bagian yang semakin penting dari hubungan energi bilateral kedua negara tersebut.
Terje menjelasakan bahwa Norwegia sedang bekerja keras untuk membangun rantai nilai dalam CCS/CCUS offshore, serta ladang angin terapung skala besar. Pada saat yang sama, tenaga air yang bersih dan terbarukan dengan fasilitas penyimpanannya tetap menjadi backbone sektor listrik Norwegia.
Terje yakin bahwa Indonesia-Norwegia memiliki komitmen dan pandangan yg sama untuk transisi energi yang adil, yang menyediakan lapangan kerja dan manfaat ekonomi, menjaga lingkungan, dan menyediakan keamanan energi.
"Norwegia mempunyai teknologi, Indonesia punya sumber daya energi terbarukan, saya berharap lebih banyak perusahaan Norway yang berinvestasi pada proyek energi terbarukan di Indonesia," ucap Terje.

