Investasi untuk Pengembangan CCS di Indonesia Sudah Masuk US$ 38 Miliar
JAKARTA, investortrust.id - Indonesia Carbon Capture and Storage Center (ICCSC) mengungkapkan, saat ini investasi yang sudah masuk untuk pengembangan Carbon Capture Storage (CCS) di Tanah Air sebesar US$ 38 miliar, atau setara Rp634,6 triliun (kurs Rp16.700 per dolar AS).
Executive Director ICCSC Belladonna Troxylon Maulianda menyebutkan, saat ini sedang dilakukan evaluasi oleh PT Pertamina (Persero) dan ExxonMobil untuk pengembangan fasilitas CCS di Laut Jawa. Proyek ini sendiri baru akan on stream pada tahun 2030.
“Investasi ini sekitar US$ 38 miliar. Ini dari berbagai perusahaan, dari multinational companies dan juga national companies. Itu salah satu investasinya adalah dari Exxon,” ungkap Belladonna saat ditemui di Jakarta, Senin (21/4/2025).
Dia menerangkan, proyek ini adalah untuk menginvestasikan atau membangun pabrik petrokimia yang disebut Net Zero Petrochemical Plant, atau pabrik petrokimia yang dari hari pertamanya sudah langsung diintegrasikan dengan CCS. Sehingga emisi yang dihasilkan akan langsung di-CCS-kan.
Menurutnya, pengembangan CCS ini sangat penting bagi Indonesia. Selain untuk mereduksi emisi karbon dan membantu Indonesia mencapai target net zero emission (NZE) 2060 atau lebih cepat, ini juga bisa berdampak terhadap perekonomian nasional.
Baca Juga
Belladonna memaparkan, Indonesia memiliki keunggulan seperti tempat penyimpanan di bawah tanah yang cukup besar, yakni sekitar 600 gigaton. Jika emisi yang dihasilkan sekitar 600 juta ton per tahunnya, maka CCS ini bisa menyimpan sampai sekitar 1.000 tahun kalau hanya untuk emisi domestik.
“Tapi kalau kita ingin menyimpan CO2 dari negara-negara tetangga lainnya untuk mendapatkan pendapatan itu dikombinasikan dengan emisi domestik, kira-kira kita bisa menyimpan sekitar 200 tahun,” ujar Belladonna.
Bukan hanya itu, pengembangan CCS ini juga membutuhkan para pekerja dan tenaga ahli. Maka dari itu, diperkirakan sekitar 170.000 lapangan pekerjaan akan dibuka per tahunnya, mulai dari sektor konstruksi, teknik hingga pengawasan yang akan disebut Monitoring, Reporting, and Verification (MRV).
“Lalu ini juga bisa berkontribusi terhadap pertumbuhan PDB ya. Jadi kita telah menghitung gitu ya pertumbuhan PDB ini bisa sekitar 0,8-1%,” ucap Belladonna.

