ICCSC Ungkap Tantangan dan Potensi Pengembangan CCS di Tanah Air
JAKARTA, investortrust.id - Indonesia Carbon Capture and Storage Center (ICCSC) mengungkapkan, dalam mengembangkan Carbon Capture Storage (CCS) di Tanah Air masih menemui sejumlah tantangan. Utamanya terkait kebutuhan investasi untuk pengembangan.
Executive Director ICCSC Belladonna Troxylon Maulianda menyampaikan, pengembangan CCS ini membutuhkan investasi yang cukup besar. Menurutnya, Indonesia masih perlu banyak belajar dari leading countries dalam pengembangan CCS seperti Norwegia dan Amerika Serikat (AS).
“Jadi ini yang membutuhkan kolaborasi antara public and private partnership dan juga tentunya pemerintah, untuk bisa mencari solusi bagaimana kita bisa meng-handle investasi ini,” kata Belladonna saat ditemui di Jakarta, Senin (21/4/2025).
Kendati demikian, dia menyebutkan bahwa saat ini terkait dengan investasi tersebut sudah berjalan cukup baik. Dia mencatat, investasi yang sudah masuk untuk pengembangan CCS di Indonesia sebesar US$ 38 miliar dan sudah ada kerja sama antara PT Pertamina (Persero) dengan ExxonMobil.
“Sudah ada kerja sama antara Exxon dan juga Pertamina. Ini menjadi salah satu CCS hub yang juga bernaung Indonesia. Jadi ini kita bisa lihat beberapa contoh nyata ya seperti ini,” ujar dia.
Sementara itu, terakit dengan potensi pengembangan CCS, Belladonna menerangkan bahwa Indonesia kaya dengan industri hilir, seperti misalnya petrokimia, baja, semen, dan sebagainya, di mana industri-industri ini adalah industri yang susah untuk didekarbonisasi.
“Maksudnya apa? Walaupun mereka melakukan elektrifikasi, mengganti mobil misalnya dengan mobil listrik atau mengganti fuel dengan bio fuel dan sebagainya, mereka masih menghasilkan emisi yang cukup tinggi,” jelas Belladonna.
Baca Juga
Investasi untuk Pengembangan CCS di Indonesia Sudah Masuk US$ 38 Miliar
Dengan demikian, kata dia, industri tersebut harus melakukan dekarbonisasi lainnya. Adapaun secara volume, berdasarkan teknologi dan sains, CCS dinilai paling besar yang bisa mereduksi volume emisinya.
“Sekarang global trend-nya itu adalah green products atau blue products atau cleaner products. Jadi di saat produk yang kita hasilkan itu bisa mereduksi emisinya dan kita bisa clean sebagai low carbon products, kita bisa jual lebih mahal,” ungkap dia.
Lebih lanjut dia memaparkan, industri-industri hilir Indonesia tersebut sudah melakukan ekspor. Seperti misalnya baja, yang sekitar 8% dari total ekspor baja Indonesia adalah ke Uni Eropa (European Union/EU).
“Jadi semua barang-barang yang ekspor ke EU harus low carbon products, kalau tidak mereka akan dikenakan pajak atau bisa sama sekali tidak bisa diimport ke EU. Jadi itu adalah peluangnya,” papar Belladonna.

