Simak, Ini Tantangan dan Peluang Pengembangan Bioavtur di Tanah Air
JAKARTA, Investortrust.id – Pada 28 Oktober 2023, Indonesia mengukir sejarah baru di industri penerbangan, dengan PT Garuda Indonesia Tbk yang sukses menerbangkan pesawat berbahan bakar sustainable aviation fuel (SAF).
Meskipun begitu, ketersediaan SAF dalam bentuk bioavtur punya tantangan tersendiri.
Masih banyak tantangan yang harus dihadapi dalam upaya pengembangan bahan bakar sustainable aviation fuel (SAF), salah satunya adalah tingginya biaya porduksi SAF dibanding bahan bakar avtur. Hal ini disampaikan Direktur Bioenergi, Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Edi Wibowo dalam acara Focus Group Discussion yang bertajuk “Biodiesel dan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan di Indonesia” yang digelar oleh Institute for Development of Economics and Finance (Indef) secara daring, Rabu (13/12/2023).
Baca Juga
Sustainable Aviation Fuel (SAF) Mengangkasa, Bioavtur Pertamina untuk Penerbangan Ramah Lingkungan
Keterbatasan bahan baku ini menurut Edi terkait dengan upaya pemerintah menghindari terjadinya kompetisi antara penyediaan bahan baku untuk makanan, dan bahan baku untuk energi.
Persoalan berikutnya adalah biaya produksi sustainable aviation fuel (SAF) yang masih lebih tinggi dibanding bahan bakar avtur. Sehingga perlu diupayakan agar SAF bisa diproduksi dengan skala keekonomian yang baik, dan level produksi yang bisa ditingkatkan.
Lebih lanjut, Edi menyampaikan, terbatasnya infrastruktur juga menjadi tantangan bagi pengembangan SAF untuk mencapai skala ekonomi yang baik, termasuk pula kendala penyimpanan, dan distribusi.
“Saat ini yang mau mengembangkan dari Pertamina, kemudian ke depannya kami dengar juga ada beberapa badan usaha yang sudah mulai tertarik untuk mengembangkan SAF ini,” ungkapnya.
Baca Juga
Uji Coba Rampung, Garuda Sebut Avtur Campur Sawit Bisa Dipakai untuk Pesawat
Selain itu, proses sertifikasi yang rumit juga menjadi tantangan. Termasuk penelitian dan pengembangan teknologi dan inovasi proses yang berkelanjutan untuk menjadikan SAF bahan bakar penerbangan yang layak. Berikutnya, kata Edi, dibutuhkan evaluasi teknis dan tekno-ekonomi oleh tim ahli yang kompeten yang komprehensif untuk menuju kea rah komersialisasi.
Tantangan berikut, perlunya peningkatan kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenal manfaat SAF, dan dukungan lebih besar dari pembuat kebijakan dan investor.
Sementara itu dari sisi peluang, SAF telah menciptakan permintaan domestik dan pasar internasional yang tinggi. Produksi SAF di Tanah Air juga didukung oleh potensi dan alternatif bahan baku yang banyak tersedia, serta dukungan kebijakan pemerintah dan global untuk penggunaan SAF sebagai bahan bakar rendah karbon.
Untuk itu Edi mengharapkan bisa dikembangkan road map atau peta jalan bioavtur untuk penerbangan komersial, dan mendorong produksi bioavtur dalam skala industri dengan harga yang terjangkau. (CR-2)

