Lampung Jadi 'Pilot Project Green Economy' Berbasis Singkong
Poin Penting
|
BANDAR LAMPUNG, Investortrust.id - PT Esgin Global Partners, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Lampung dan Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI) menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) tentang pengembangan green economy ecosystem pada sektor pertanian dan industri pengolahan singkong.
Nota kesepahaman ditandatangani Vice President & Indonesia Regional Head PT Esgin Global Partners Yayang Ruzaldy, Ketua DPD HKTI Provinsi Lampung sekaligus Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, serta Ketua Umum PPTTI Welly Soegiono yang juga menjabat direktur PT Great Giant Pineapple. Acara turut dihadiri Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional (DPN) HKTI Abdul Kadir Karding yang juga menjabat kepala Badan Karantina Indonesia. Ia hadir mewakili ketua umum DPN HKTI Sudaryono yang juga menjabat kepala Badan Gizi Nasional (BGN).
Baca Juga
Pertamina dan Boeing Kembangkan Ekosistem SAF untuk Dekarbonisasi Penerbangan
Yayang Ruzaldy mengatakan melalui kerja sama itu, Esgin menempatkan diri sebagai green project investor dan green economy infrastructure developer yang akan mengembangkan proyek ekonomi hijau mulai dari studi kelayakan, investasi, pembangunan infrastruktur, penerapan digital measurement, reporting and verification atau digital MRV, pengembangan proyek karbon, hingga monetisasi carbon credit dan green asset.
"Pada tahap awal, investasi Esgin akan diarahkan pada sektor pertanian dan industri pengolahan di Lampung," kata dia dikutip Sabtu (1/8/2026).
Di sektor pertanian, Esgin bersama HKTI Lampung akan mendorong penerapan climate smart agriculture atau pertanian cerdas iklim, biochar for climate-smart agriculture, serta alternate wetting and drying (AWD) pada lahan sawah.
Penerapan teknologi tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim, meningkatkan kesehatan tanah, sekaligus menekan emisi gas rumah kaca. Selain itu, proyek tersebut berpotensi membuka sumber pendapatan baru bagi petani melalui mekanisme Nilai Ekonomi Karbon.
Sementara itu, Esgin bersama PPTTI akan mengembangkan methane removal project pada pabrik pengolahan tepung tapioka. Proyek tersebut memanfaatkan teknologi methane capture untuk menangkap gas metana dari limbah cair dan mengubahnya menjadi biogas sebagai sumber energi terbarukan.
Lampung Disiapkan Jadi Pilot Project
Lampung dipilih sebagai lokasi awal karena memiliki basis pertanian dan agroindustri yang kuat. Provinsi tersebut merupakan salah satu sentra utama produksi singkong nasional dengan produksi sekitar 7,5 juta ton per tahun.
Pengembangan tersebut juga diarahkan untuk mendukung kebijakan pembangunan rendah karbon di Indonesia. Program tersebut merujuk pada Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement dan Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon.
"Lampung memiliki seluruh fondasi untuk menjadi pusat green economy berbasis pertanian di Indonesia," kata dia.
Menurut Yayang, kerja sama tersebut menunjukkan investasi hijau dapat mempertemukan sektor pertanian, industri, teknologi, dan pembiayaan dalam satu ekosistem ekonomi berkelanjutan.
Sebagai tindak lanjut nota kesepahaman, para pihak akan memulai penyusunan studi kelayakan, mengidentifikasi lokasi proyek prioritas, menyusun dokumen proyek karbon, menerapkan Digital MRV, serta mengembangkan skema pembiayaan hijau.
Baca Juga
Dunia Usaha Didorong Manfaatkan Pasar Karbon untuk Investasi Hijau dan Daya Saing Industri
Bagi sektor pertanian, pendekatan tersebut dapat membuka peluang monetisasi atas upaya penurunan emisi dan peningkatan kualitas lingkungan. Sementara bagi industri tapioka, pemanfaatan limbah menjadi biogas dapat meningkatkan efisiensi energi sekaligus mengurangi emisi metana.
Kerja sama ESGIN, HKTI, dan PPTTI diharapkan menjadi model pengembangan green project pada sektor pertanian dan agroindustri yang menghasilkan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan.
Jika berhasil diterapkan, Lampung tidak hanya mempertahankan posisinya sebagai salah satu sentra singkong dan industri tapioka nasional, tetapi dapat berkembang sebagai salah satu pusat implementasi ekonomi hijau dan nilai ekonomi karbon di Indonesia.
