Kisah 4 Pilot Presiden Prabowo, Ada Pilot dan Instruktur Perempuan Boeing 777 Termuda di Dunia
JAKARTA, investortrust.id - Para pilot yang kerap mengawal penerbangan Presiden Prabowo Subianto baik di dalam negeri maupun ke luar negeri ternyata orang-orang hebat. Bahkan, terdapat empat pilot perempuan yang mengawal penerbangan Prabowo merupakan pilot dan instruktur Boeing 777 termuda di dunia.
Hal itu diungkapkan Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan Dirgayuza Setiawan dalam keterangannya, Selasa (26/5/2026).
Dirgayuza mengaku semakin lama mengikuti Presiden Prabowo semakin banyak mengenal para outliers atau individu yang menonjol dibandingkan orang lainnya.
"Mungkin karena Presiden selalu ingatkan, 'kita harus terus temukan, beri kesempatan, dan apresiasi orang orang terbaik, cinta merah putih, berapapun usianya.' Indeed, President Prabowo is passionate about attracting, celebrating and working with outliers - especially young outliers," tutur Dirgayuza.
.
Menurutnya, hal itu yang mendorong Prabowo mengusulkan pendirian SMA Taruna Nusantara pada 1988. Bahkan, saat ini, Prabowo mendirikan SMA Unggul Garuda dan menjalankan Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan (P3MD). Sesuai UU Sisdiknas, pendidikan istimewa untuk yang punya bakat dan kecerdasan istimewa.
"Against all odds, outliers (pribadi unggul dalam bahasa Paman Sab) adalah orang-orang berhasil yang berani melawan angin dan berhasil terbang tinggi," katanya.
Para outliers itu di antaranya, para penerbang perempuan andal yang menjadi andalam Presiden Prabowo. Dirgayuza pun membeberkan empat pilot perempuan yang kerap mengawal penerbangan Prabowo ke berbagai daerah hingga kunjungan ke luar negeri. Ini kisah inspiratif keempat pilot tersebut:
Pertama, adalah para pilot Garuda Indonesia penerbang Boeing 777 yang membawa Prabowo ke tujuan jauh di luar negeri. Salah satunya Captain Tania Citra @taniawidjaya. Tania merupakan pilot perempuan pertama Garuda Indonesia sejak berdiri pada 31 Maret 1950 atau 76 tahun silam, yang menjadi pilot bagi presiden yang sedang menjabat. Tania yang ketika itu berusia 29 tahun atau 2 tahun lalu menjadi pilot perempuan Boeing 777 termuda di dunia.
"Selain terbang misi kepresidenan dan komersial, ia sekarang juga adalah instruktur perempuan 777 termuda di dunia," katanya.
Kedua, para pilot Skadron Udara 17 penerbang 737 yang membawa Presiden Prabowo ke tujuan dalam negeri dan dekat luar negeri. Salah satunya Captain Ajeng Mahessa @ajengtres. Dikatakan, Ajeng yang berusia 30 tahun merupakan pilot 737 kepresidenan termuda di dunia. Ia juga seorang Paskibraka Nasional di tahun 2011.
Ketiga, Dan juga para pilot Skadron Udara 2 penerbang CN yang membawa Presiden Prabowo ke kota dan pulau kecil, dan terbang berbagai misi kemanusiaan ke daerah dengan runway pendek. Salah satunya Captain Yustikasari Diana Putri @yustikasss.
Yustika yang akrab disapa Tika merupakan perempuan berusia 27 tahun dan lulusan Taruna Nusantara angkatan 24..
Keempat, juga para pilot Skadron Udara 31 penerbang C130 Hercules yang membawa perlengkapan Presiden Prabowo dan menjadi tulang punggung logistik operasi rehabilitasi Sumatera.
Salah satunya Captain Gini Setya Rahayu @ginisetyaaa. Perempuan berusia 24 tahun atau kelahiran 2001 itu merupakan lulusan SMA Taruna Nusantara angkatan 27.
Dirgayuza mengatakan, kisah outliers seperti mereka jarang sekali ditemukan di ruang media saat ini. Hal ini kemungkinan lantaran sifat orang Indonesia yang “semakin berisi semakin merunduk.”
"Punya prestasi tingkat dunia, tapi disimpan untuk diri sendiri," katanya. .
Baca Juga
Dirgayuza Setiawan, Sosok Desainer Strategi Komunikasi Prabowo
Dirgayuza mengaku membagikan kisah para outliers, termasuk empat pilot perempuan tersebut agar menjadi inspirasi anak-anak perempuan Indonesia.
"Di balik sukses mereka, ada ribuan jam belajar, bekerja dan mengumpulkan tekad agar bisa, secara literal, melawan hukum gravitasi dan berhasil terbang tinggi di langit Nusantara dan dunia. Berhasil di dunia yang mayoritas pikir reserved untuk laki-laki saja," katanya.
Dikatakan, Indonesia membutuhkan pribadi-pribadi yang unggul seperti mereka untuk menumbuhkan harapan, membangun cita-cita, dan mencetak ribuan outliers lainnya di berbagai bidang.
"Saya percaya kita-kita yang punya gawai, punya kewajiban untuk menulis dan berbagi kisah-kisah yang merawat harapan. Agar kans bangsa kita jadi bangsa maju lebih besar. Aamiin YRA," harapnya.

