ESDM Sebut ESG Kini Tentukan Akses Pasar Kendaraan Listrik Dunia
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG) kini menjadi faktor penting yang menentukan akses industri pertambangan Indonesia ke rantai pasok kendaraan listrik (electrical vehicle/EV) global. Di tengah meningkatnya kebutuhan mineral kritis untuk mendukung transisi energi, pasar internasional semakin selektif memilih sumber pasokan berdasarkan kualitas produk sekaligus praktik keberlanjutan dalam proses produksinya.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai perubahan tersebut membuka peluang besar bagi Indonesia sebagai salah satu produsen utama mineral dunia. Mineral yang diproduksi dengan standar keberlanjutan memiliki nilai tambah dan peluang pasar lebih luas, terutama untuk industri kendaraan listrik, energi bersih, dan manufaktur global.
Baca Juga
"Pasar global saat ini tidak hanya menilai kualitas produk mineral yang dihasilkan, tetapi juga menilai bagaimana mineral tersebut diproduksi," kata Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Cecep Mochammad Yasin dalam Seri Dialog Mineral Kritis Indef-GTI bertajuk "Menavigasi Ketegangan Geopolitik dan Mengamankan Peran Indonesia dalam Rantai Pasok Mineral Kritis Menuju Kedaulatan Energi" dikutip Minggu (21/6/2026).
Bagi produsen kendaraan listrik dan perusahaan teknologi, standar ESG telah menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan mitra rantai pasok. Perusahaan yang tidak mampu memenuhi standar keberlanjutan berisiko kehilangan akses ke pasar internasional yang semakin ketat.
Pemerintah, lanjut Cecep, terus memperkuat implementasi ESG dalam tata kelola pertambangan nasional. Komitmen tersebut mulai diintegrasikan ke dalam proses evaluasi dan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan tambang.
Dari sisi sosial, perusahaan diwajibkan menjalankan program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), yakni program peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar tambang yang disusun bersama pemerintah daerah. Dari sisi lingkungan, perusahaan didorong meningkatkan efisiensi energi, mengurangi emisi, memperkuat pengelolaan limbah dan air tambang, serta menjalankan reklamasi dan pascatambang secara bertanggung jawab.
"Di beberapa tambang juga telah menerapkan ESG melalui standar, seperti IRMA serta melakukan efisiensi energi dan pengurangan emisi melalui elektrifikasi alat berat maupun penggunaan sumber energi yang lebih bersih," ujarnya.
Cecep menjelaskan Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara saat ini sedang melakukan kajian untuk menyelaraskan standar nasional dengan praktik ESG internasional. Upaya tersebut dilakukan melalui analisis kesenjangan antara regulasi domestik dan standar global yang digunakan perusahaan multinasional.
Langkah itu penting karena semakin banyak perusahaan dunia yang mensyaratkan standar keberlanjutan sebagai bagian dari kontrak pasokan bahan baku. Dengan kata lain, pemenuhan ESG kini menjadi salah satu syarat untuk mempertahankan hubungan bisnis jangka panjang dengan pembeli global.
Sebagai contoh, perusahaan tambang yang memasok bahan baku untuk industri kendaraan listrik harus mampu memenuhi standar ESG yang ditetapkan produsen otomotif internasional. "Salah satu contohnya adalah kerja sama Vale Indonesia dengan Ford dan Volkswagen yang menerapkan standar ESG global dalam rantai pasoknya," kata Cecep.
Cadangan Besar Tak Lagi Cukup
Bagi Indonesia yang memiliki cadangan nikel, tembaga, timah, dan bauksit dalam jumlah besar, tantangan utama saat ini bukan hanya memastikan ketersediaan sumber daya mineral. Industri juga dituntut mampu memenuhi standar keberlanjutan yang ditetapkan pasar internasional.
Sejalan dengan tren tersebut, pelaku industri pertambangan nasional mulai menjadikan ESG sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang. Holding industri pertambangan MIND ID bersama anggota grupnya terus memperkuat implementasi ESG melalui berbagai program, mulai pengurangan emisi, reklamasi dan rehabilitasi lahan pascatambang, konservasi lingkungan, hingga peningkatan tata kelola perusahaan dan transparansi pelaporan keberlanjutan.
Baca Juga
PPN Mobil Listrik Nikel Ditanggung 100%, Hilirisasi kian Ngebut
Menurut Cecep, industri pertambangan global kini bergerak menuju standar baru. Keberhasilan bisnis tidak lagi ditentukan semata oleh besarnya cadangan mineral atau kapasitas produksi, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan memenuhi tuntutan keberlanjutan di seluruh rantai pasok.
Dengan perubahan tersebut, ESG tidak lagi hanya menjadi faktor reputasi perusahaan. Standar ini telah berkembang menjadi prasyarat untuk menjaga akses pasar dan memenangkan kontrak dalam industri kendaraan listrik global yang terus tumbuh.
"Pasar global saat ini bergerak ke arah yang semakin menuntut praktik pertambangan berkelanjutan. Karena itu ESG bukan lagi sekadar kepatuhan, tetapi telah menjadi faktor penentu daya saing dan akses pasar bagi industri mineral," ujar Cecep.
