Ingin Genjot Industri Kendaraan Listrik, ESDM Sebut Mobil ICE Tetap Jalan
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah Indonesia saat ini sedang menggenjot industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Tanah Air. Meski begitu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memandang bahwa industri mobil dengan pembakaran internal atau Internal Combustion Engine (ICE) akan tetap berjalan.
Staf Khusus Menteri ESDM, Agus Tjahajana, tidak memungkiri bahwa Indonesia sedang menuju elektrifikasi kendaraan dalam rangka mewujudkan net zero emission (NZE) 2060, yang merupakan target dari kesepakatan internasional Paris Agreement.
Kendati demikian, Agus juga menerangkan bahwa di Indonesia terdapat banyak pabrik mobil ICE. Maka dari itu, pemerintah tidak bisa langsung menutup pabrik tersebut dan kemudian beralih ke battery electric vehicle (BEV).
Baca Juga
Pengamat Ini Tekankan Pentingnya Insentif Kendaraan Listrik dari Pemerintah, Kenapa?
“Kita kan punya pabrik ICE. Kalau masuk ke BEV terus mau diapain itu ICE? Engine mau dikemanain? Jadi harus ada transisinya gitu. Dan kalau pun nanti jalan, ICE itu gak akan habis. Tetap ada jalan,” kata Agus saat ditemui di Hotel Mulia, Jakarta, Senin (29/7/2024).
Meskipun begitu, Agus menekankan bahwa pemerintah tetap berkomitmen terhadap energi hijau. Maka dari itu, diterbitkanlah Peraturan Presiden No. 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) Untuk Transportasi Jalan.
“Tadi sudah disebutkan dikeluarkan Peraturan Presiden. Jadi proses itu (menuju elektrifikasi kendaraan) sudah kesepakatan internasional,” katanya.
Baca Juga
Luhut Sebut Indonesia akan Dirikan Pusat Riset Baterai Kendaraan listrik di Morowali
Agus menerangkan, situasi Indonesia sekarang tidak bisa dibandingkan China yang sudah memiliki banyak kendaraan listrik. Pasalnya, China sudah mulai melakukan transisi ke kendaraan listrik sejak 2010.
“China mulai 2010. Kita baru 2019 digulirkan. Karena gini, New Vehicle itu sudah dimulai sejak 2010. Itu kesepakatan internasional. New Vehicle itu ada yang tetap di ICE, tetapi denga kandungan CO2 lebih kecil dan lebih awet, kemudian ke hybrid, ke plug-in hybrid, baru ke EV,” jelas dia.
Diterangkan oleh Agus, bahwa Pemerintah China langsung menuju ke battery electric vehicle (BEV) dalam proses transisi itu. Sedangkan Indonesia mengambil langkah intermediate, yakni masuk ke low cost green car (LCGC).
Baca Juga
Indef Sebut China Unggul 5-6 Tahun di Industri Kendaraan Listrik
“Jadi LCGC itu adalah low cost green car. Sudah ada green car-nya, yaitu CO2-nya lebih sedikit, jarak tempuhnya lebih panjang. Maka keluar Sigra, segala macam. Itu LCGC. Itu juga sudah committed terhadap lingkungan,” ungkap Agus.

