Api, Asap, dan Risiko ESG bagi Primata Indonesia
Poin Penting
|
Oleh: Onrizal *)
INVESTORTRUST - Setiap musim kemarau panjang, perhatian publik Indonesia hampir selalu tertuju pada kabut asap. Sekolah diliburkan, jarak pandang menurun, penerbangan terganggu, dan kasus gangguan pernapasan meningkat. Dampaknya bagi manusia memang nyata. Namun, di balik kepanikan itu, ada kelompok lain yang nyaris tidak pernah terdengar suaranya: satwa liar penghuni hutan, terutama primata.
Selama ini, kebakaran hutan dan lahan lebih sering dibaca sebagai persoalan hilangnya tutupan hutan. Hutan terbakar, habitat rusak, lalu satwa kehilangan ruang hidup. Cara pandang itu benar, tetapi terlalu sempit. Api tidak bekerja sendirian. Ia selalu datang bersama asap, panas, kekeringan, perubahan kualitas udara, dan gangguan ekologis yang sering berlangsung jauh lebih lama daripada kobaran api itu sendiri.
Di titik inilah penelitian terbaru Harrison dan kolega (2026), yang terbit dalam Global Ecology and Conservation, menjadi penting. Mereka mengingatkan bahwa dampak api dan kabut asap terhadap primata tidak berhenti pada kerusakan pohon atau hilangnya kanopi. Asap dapat menciptakan tekanan biologis yang lebih halus, lebih lambat terlihat, tetapi tidak kalah serius: gangguan pernapasan, perubahan perilaku, penurunan kualitas habitat, berkurangnya sumber pakan, dan melemahnya peluang reproduksi dalam jangka panjang.
Bagi pembaca Investortrust.id, isu ini seharusnya dibaca lebih luas daripada urusan konservasi semata. Kebakaran dan asap adalah risiko keberlanjutan. Ia menyentuh reputasi korporasi, kepatuhan tata kelola, kualitas rantai pasok, biaya pemulihan lanskap, hingga kredibilitas klaim ESG. Di era ketika investor semakin menaruh perhatian pada risiko lingkungan, kerusakan habitat satwa liar bukan lagi isu pinggiran. Ia menjadi bagian dari kualitas manajemen risiko sebuah lanskap usaha.
Indonesia memiliki alasan kuat untuk memperhatikan peringatan ini. Sumatra dan Kalimantan adalah rumah bagi sejumlah primata penting dunia: orangutan Sumatra (Pongo abelii), orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), siamang, owa, lutung, kukang, hingga beruk. Banyak di antara spesies itu hidup di hutan tropis basah dan rawa gambut, ekosistem yang secara alami tidak dibentuk oleh siklus kebakaran berulang seperti savana.
Masalahnya, lanskap hutan tropis Indonesia kini menghadapi tekanan yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu. Perubahan tata guna lahan, drainase gambut, fragmentasi habitat, musim kering ekstrem, dan fenomena iklim seperti El Nino membuat kebakaran lebih mudah terjadi, lebih luas menyebar, dan lebih sulit dikendalikan. Dalam situasi seperti itu, primata menghadapi ancaman ganda: kehilangan habitat sekaligus terpapar asap dalam waktu panjang.
Dampak asap terhadap satwa liar memang masih menjadi wilayah penelitian yang relatif baru. Namun, secara biologis, konsekuensinya cukup mudah dipahami. Primata, seperti manusia, memiliki sistem pernapasan yang rentan terhadap partikel halus di udara. Mereka juga bergantung pada perilaku sosial yang kompleks, pola jelajah harian, ketersediaan pakan, serta keseimbangan energi yang sangat dipengaruhi oleh mutu habitat.
Bayangkan seekor orangutan yang biasanya menghabiskan sebagian besar waktunya mencari buah di tajuk hutan. Ketika kebakaran terjadi, vegetasi rusak, pohon pakan berkurang, jarak antarpohon makin jauh, dan udara dipenuhi asap. Energi yang semestinya digunakan untuk mencari makan, bergerak, berkembang biak, atau merawat anak dapat terkuras hanya untuk bertahan hidup. Pada populasi yang sudah kecil dan terfragmentasi, tekanan semacam ini dapat memberi dampak berantai.
Inilah persoalan yang sering luput dari perhatian publik. Dampak ekologis kebakaran tidak selalu muncul secara dramatis melalui kematian massal satwa. Banyak efeknya berlangsung perlahan: kesehatan menurun, stres meningkat, pola aktivitas berubah, interaksi sosial terganggu, reproduksi melemah, dan peluang hidup generasi berikutnya menyusut. Karena tidak selalu tampak di permukaan, ancaman itu mudah dianggap tidak ada.
Krisis semacam ini dapat disebut sebagai krisis sunyi. Ia tidak selalu menghadirkan gambar satwa hangus terbakar yang segera menggugah emosi publik. Namun, konsekuensinya dapat berlangsung bertahun-tahun dan pelan-pelan menggerus ketahanan populasi. Bagi orangutan Tapanuli, misalnya, setiap tekanan tambahan pada habitat yang sudah sempit dan terpecah bukanlah gangguan kecil. Ia dapat mempersempit ruang pemulihan populasi.
Karena itu, strategi konservasi primata tidak cukup hanya bertumpu pada patroli, penegakan hukum, penyelamatan individu, atau perlindungan habitat secara umum. Semua langkah itu tetap penting, tetapi belum memadai bila risiko kebakaran dan asap tidak ditempatkan sebagai bagian inti dari tata kelola konservasi. Kawasan bernilai konservasi tinggi perlu dibaca sekaligus sebagai kawasan berisiko jika dikepung oleh drainase gambut, pembukaan lahan, jalan, atau aktivitas ekonomi yang memperbesar peluang api.
Kebijakan ke depan perlu memperlakukan pengendalian kebakaran dan asap sebagai bagian langsung dari perlindungan satwa liar. Pencegahan kebakaran gambut, restorasi hidrologi, sistem peringatan dini, pemantauan kualitas udara di habitat penting, serta integrasi risiko kebakaran dalam rencana pengelolaan kawasan konservasi tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Ia perlu menjadi satu paket tata kelola lanskap.
Di sisi dunia usaha, pelajarannya juga jelas. Pengelolaan risiko kebakaran tidak cukup dinilai dari ada atau tidaknya titik api di dalam konsesi. Yang lebih penting adalah bagaimana perusahaan, rantai pasok, perbankan, dan investor membaca dampak lanskap secara utuh. Apakah drainase dan pembukaan lahan di sekitar kawasan bernilai konservasi tinggi meningkatkan risiko api? Apakah koridor satwa tetap terjaga? Apakah klaim bebas deforestasi juga memperhitungkan risiko asap dan fragmentasi habitat? Pertanyaan-pertanyaan ini makin relevan dalam penilaian ESG yang serius.
Pendekatan tersebut semakin mendesak karena perubahan iklim berpotensi meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem. Hutan yang dahulu relatif aman dapat menjadi lebih rentan terhadap kebakaran besar. Habitat primata yang sudah terfragmentasi akan semakin rapuh ketika berhadapan dengan kekeringan panjang dan paparan asap berulang. Dengan kata lain, risiko ekologis kini bergerak menjadi risiko ekonomi, sosial, dan tata kelola.
Indonesia sebenarnya memiliki pengalaman panjang menghadapi kabut asap. Dari pengalaman itu, banyak pelajaran telah diperoleh dalam pemantauan titik panas, koordinasi lintas sektor, restorasi gambut, dan penegakan hukum. Tantangannya sekarang adalah memperluas sudut pandang: dari sekadar melindungi manusia dari asap menuju perlindungan seluruh sistem kehidupan yang ikut terdampak.
Hutan bukan hanya kumpulan pohon. Ia adalah ruang hidup ribuan spesies yang keberlangsungannya saling terkait. Ketika asap memenuhi hutan, bukan hanya langit yang menggelap. Ada proses ekologis lain yang ikut terganggu, sering kali pelan, tersembunyi, dan terlambat disadari.
Primata memang tidak dapat menyampaikan keluhan tentang kualitas udara yang memburuk. Mereka tidak dapat berbicara tentang sesak napas, kehilangan pakan, atau ruang hidup yang makin sempit. Namun, diamnya hutan bukan berarti semuanya baik-baik saja.
Justru di situlah tantangan konservasi dan tata kelola keberlanjutan modern: membaca tanda-tanda ancaman sebelum kerusakan menjadi terlalu jauh untuk diperbaiki. Api dan asap tidak boleh lagi dilihat semata sebagai gangguan musiman. Bagi primata Indonesia, dan bagi kredibilitas ekonomi hijau kita, keduanya adalah peringatan serius tentang masa depan hutan tropis.
*) Onrizal, Dosen Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara; Peneliti Center for Tropical Ecology and Biodiversity Conservation, Universitas Sumatera Utara | onrizal@usu.ac.id
