Impor Bensin Masih Dominan 59%, Solar Berhasil Ditekan
JAKARTA, investortrust.id — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan impor bahan bakar minyak (BBM), khususnya jenis bensin, masih mendominasi pemenuhan kebutuhan nasional hingga awal 2026. Di sisi lain, impor minyak solar menunjukkan penurunan signifikan meski konsumsi domestik meningkat.
Sekretaris Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Sesditjen Migas) Kementerian ESDM Rizwi Jilanisaf Hisjam mengatakan, impor bensin pada 2025 mencapai 60,18% dari total kebutuhan nasional. Angka tersebut sedikit menurun menjadi 59% pada periode Januari–Februari 2026.
Baca Juga
Konsumsi Bensin Lebaran Lampaui Proyeksi Tembus 15%, BPH Migas Akui Ada 'Panic Buying'
“Dengan kebutuhan minyak bensin nasional pada 2025 mencapai 100.986 kiloliter per hari dan pada 2026 hingga Februari, kebutuhan sedikit menurun menjadi 99.661 kiloliter per hari,” kata Rizwi dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR, Rabu (8/4/2026).
Menurutnya, jika dirinci berdasarkan jenisnya, kebutuhan bensin subsidi atau Jenis Bahan Bakar Minyak Khusus Penugasan (JBKP) pada 2025 tercatat sebesar 76.932 kiloliter per hari, lalu turun menjadi 74.107 kiloliter per hari pada Januari–Februari 2026.
“Sedangkan kebutuhan minyak bensin jenis BBM umum atau nonsubsidi tahun 2025 sebesar 24.055 kiloliter per hari atau naik menjadi 25.254 kiloliter per hari pada posisi 2026 sampai dengan Februari,” ungkap Rizwi.
Adapun untuk importasi minyak bensin yang paling dominan disebutnya berasal dari Singapura dan Malaysia. “Karena posisi bensin kebutuhan sampai saat ini masih membutuhkan importasi,” ucapnya.
Baca Juga
Bahlil dan Purbaya Upayakan Tahan Harga Pertalite dan Solar meski Energi Global Bergejolak
Di sisi lain, tren berbeda terjadi pada minyak solar. Meski kebutuhan nasional meningkat, pemerintah berhasil menekan ketergantungan impor secara cukup signifikan dari 12,17% pada 2025 menjadi hanya 6,26% pada periode Januari–Februari 2026.
“Kebutuhan minyak solar nasional pada tahun 2025 mencapai 110.932 kiloliter per hari. Pada tahun 2026 hingga Februari kebutuhan sedikit meningkat menjadi 111.356 kiloliter per hari,” beber Rizwi.
Lebih lanjut, Rizwi menyampaikan bahwa berdasarkan jenisnya, kebutuhan solar subsidi atau Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu (JBT) meningkat dari 50.466 kiloliter per hari pada 2025 menjadi 52.373 kiloliter per hari pada Januari–Februari 2026. Adapun kebutuhan solar nonsubsidi turun dari 60.466 kiloliter per hari menjadi 58.983 kiloliter per hari pada periode yang sama.
“Untuk importasinya juga paling dominan berasal dari Singapura dan Malaysia, baik tahun 2025 maupun 2026,” kata dia.

