Gawat! Posisi Indonesia sebagai Produsen Kopi Bisa Tergusur akibat Perubahan Iklim
JAKARTA, investortrust.id - Perubahan iklim turut mengubah peta persaingan kopi dunia. Indonesia pun bisa tergusur dari posisinya sebagai produsen utama kopi dunia.
“Perubahan iklim akan mendisrupsi pertanian, perdagangan, dan bisnis kopi global. Juga akan mengubah lanskap persaingan produsen kopi di seluruh dunia,” kata Ketua Departemen Sosialisasi dan Industri Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), Moelyono Soesilo pada konferensi pers Indonesia Coffee Summit 2023, di Jakarta, Rabu (11/10/2022).
Baca Juga
Mendag Zulhas Singgung Uni Eropa Terima Batu Bara Tapi Hambat Kopi RI
Moelyono mengungkapkan, produksi kopi arabika dan robusta yang tumbuh optimal masing-masing pada suhu 18-22 derajat Celcius dan 22-28 derajat Celcius dapat terganggu akibat perubahan iklim.
Akibat perubahan iklim, menurut dia, kecocokan penanaman kopi di empat negara produsen kopi terbesar, yaitu Brasil, Vietnam, Kolombia, dan Indonesia akan menurun.
“Sebaliknya, empat negara produsen baru, yaitu Amerika Serikat (AS), Argentina, Uruguay, dan China mengalami peningkatan kecocokan tanam,” ujar dia.
Baca Juga
Pengiriman Kopi dari Surabaya Tandai Imbal Dagang B2B Perdana dengan Mesir
Untuk menghadapi tantangan perubahan iklim, Moelyono menegaskan perlunya pendampingan bagi petani kopi kecil. Upaya yang tengah ditempuh saat ini yaitu pengembangan demonstration plot (demplot) kopi.
Moelyono berharap pengembangan demplot kopi mampu menghasilkan metode tanam dan varietas yang cocok untuk kondisi perubahan iklim. “Kita nggak bisa harapkan hasilnya dalam 1-2 tahun. Minimal 5-8 tahun baru terasa,” tutur dia.
Selain pengembangan demplot, AEKI mengenalkan teknologi tetes kepada para petani. Sebab, selain faktor cuaca, kelangkaan air menjadi salah satu masalah yang muncul akibat perubahan iklim.
“Jadi, setiap tetes per hari. Kamiharapkan teknologi ini bisa menghemat pemakaian air, tapi tanaman bisa tetap produktif,” ucap dia.
Baca Juga
Ekspansi ke Mancanegara, Kopi Kenangan Gandeng IBM dan SAP untuk Optimalkan Transformasi Digital
Robusta Pilihan Utama
Moelyono Soesilo menjelaskan, untuk pilihan varietas, sejauh ini robusta masih menjadi pilihan utama. Kopi robusta dipilih karena memiliki daya tahan terhadap penyakit dan perawatannya lebih murah daripada arabika. “Arabika itu tumbuhnya di dataran tinggi, tapi kan dataran tinggi (lahannya) terbatas,” ujar dia.
Moelyono mengemukakan, kopi merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia pada 2022 mengekspor 434,19 ribu ton kopi senilai US$ 1,13 miliar.
AS adalah negara tujuan utama ekspor kopi nasional pada 2022. Volume ekspor kopi Indonesia ke AS mencapai 55,75 ribu ton dengan nilai US$ 268,04 juta. Mesir merupakan negara kedua tujuan ekspor kopi Indonesia, denganvolume 37,16 ribu ton senilai US$ 82,17 juta.
“Timur Tengah punya potensi pasar yang cukup besar juga. Yang orang nggak perhatikan itu Eropa Tengah, Eropa Timur, dan Asia Selatan. Itu pun potensinya cukup besar,” kata dia. (CR-7)

