Strategi PLN Indonesia Power Menuju 'Net Zero' 2060, Tambah 62 GW Energi Terbarukan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT PLN Indonesia Power (PLN IP) menyiapkan strategi jangka pendek hingga panjang untuk mencapai target net zero emission (NZE) pada 2060 melalui percepatan pengembangan energi bersih, peningkatan efisiensi pembangkit, serta transformasi pembangkit berbasis batu bara.
Strategi tersebut dipaparkan dalam kerangka transisi energi yang selaras dengan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) dan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Perusahaan pembangkitan listrik terbesar di Indonesia itu menargetkan penurunan intensitas emisi pembangkit secara bertahap dari sekitar 0,76 ton CO₂ per MWh menjadi hanya 0,09 ton CO₂ per MWh pada 2050 sebelum mencapai net zero pada 2060.
Sekretaris Perusahaan (Sekper) PT PLN Indonesia Power (PLN IP) Agung Siswanto mengatakan, dalam fase jangka pendek hingga 2034, perusahaan memfokuskan langkah pada dekarbonisasi operasi pembangkit. "Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan energi terbarukan, seperti panas bumi dan pembangkit variabel yang dipadukan dengan sistem penyimpanan baterai," kata Agung saat buka bersama media di Jakarta, Senin (9/3/2026).
Total kapasitas energi terbarukan yang direncanakan dalam periode ini mencapai sekitar 23 gigawat (GW). Selain itu, perusahaan juga mulai melakukan riset dan pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir dengan proyek percontohan berkapasitas 250 megawat (MW).
Di sisi pembangkit berbasis gas, kata Agung, perusahaan merencanakan pembangunan pembangkit baru berkapasitas sekitar 3,65 GW sebagai bagian dari strategi transisi dari batu bara menuju sumber energi yang lebih bersih. Pembangkit batu bara yang masih beroperasi juga ditingkatkan efisiensinya melalui teknologi high efficiency low emission, seperti ultra-supercritical dan supercritical dengan kapasitas sekitar 2,6 GW.
Baca Juga
Dirut PLN IP: ADB Berkomitmen Biayai Proyek Hijaunesia, Targetkan 300 MW
Selain itu, PLN Indonesia Power mengembangkan konsep klaster hybrid yang menggabungkan pembangkit batu bara dengan energi terbarukan untuk mengurangi emisi secara bertahap. "Optimalisasi operasi pembangkit juga dilakukan melalui digitalisasi operasi dan pemeliharaan guna meningkatkan faktor kapasitas serta efisiensi pembangkit," kata Agung.
Transformasi juga mencakup penggunaan biomassa sebagai bahan bakar campuran di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Dalam tahap awal, cofiring biomassa direncanakan diterapkan di pembangkit dengan total kapasitas sekitar 9,5 GW dengan tingkat pencampuran antara 1% hingga 5%.
Perusahaan juga mulai menguji teknologi cofiring hidrogen pada pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) serta penggunaan biofuel pada pembangkit mesin diesel dan gas. Teknologi ini menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil secara bertahap.
Fase Menengah
Memasuki fase menengah hingga 2050, perusahaan berencana meningkatkan skala pengembangan energi terbarukan secara signifikan. Total tambahan kapasitas pembangkit energi bersih ditargetkan mencapai sekitar 62 GW.
Selain itu, proyek pembangkit listrik tenaga nuklir juga direncanakan berkembang hingga mencapai kapasitas sekitar 7 GW. "Nuklir dipandang sebagai salah satu opsi pembangkit rendah emisi yang mampu menyediakan listrik stabil dalam jangka panjang," kata dia.
Dalam fase ini, beberapa pembangkit batu bara juga akan mulai beralih menggunakan bahan bakar alternatif, seperti amonia hijau atau biofuel. Teknologi pembakaran bersama biomassa juga diperluas, termasuk peningkatan tingkat cofiring hingga 10% sampai 50%.
Di sisi lain, sebagian pembangkit batu bara akan memasuki masa pensiun secara alami. PLN Indonesia Power memperkirakan sekitar 5,5 GW kapasitas pembangkit batu bara akan berhenti beroperasi secara bertahap dalam fase ini.
Perusahaan juga menyiapkan penerapan teknologi carbon capture storage (CCS) dan carbon capture utilization storage (CCUS) pada pembangkit listrik tenaga uap. Teknologi ini memungkinkan emisi karbon dari pembakaran bahan bakar fosil ditangkap dan disimpan sehingga tidak dilepaskan ke atmosfer.
Baca Juga
Siagakan 12.597 Personel, PLN IP Pastikan Listrik Andal dengan Daya 15,03 GW Saat Idulfitri
Pada tahap awal, perusahaan menargetkan proyek percontohan teknologi CCS di pembangkit batu bara berkapasitas sekitar 0,8 GW. Implementasi lebih luas direncanakan mencapai sekitar 5 GW kapasitas pembangkit pada tahap berikutnya.
Memasuki fase jangka panjang hingga 2060, perusahaan juga mempertimbangkan pemanfaatan hidrogen secara lebih luas sebagai bahan bakar pembangkit. Beberapa pembangkit listrik tenaga gas direncanakan mampu menggunakan hidrogen hingga 100% sebagai bahan bakar.
Selain itu, sistem pembangkit hybrid yang menggabungkan pembangkit tenaga surya dengan baterai juga mulai dikembangkan untuk mendukung sistem kelistrikan yang lebih fleksibel dan rendah emisi.

