ESDM Ungkap Tantangan Target 'Lifting' 610.000 BOPD pada Awal 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapi dalam menjaga kinerja lifting minyak dan gas bumi (migas) pada awal 2026. Sejumlah gangguan infrastruktur menjadi faktor utama yang sempat menekan produksi nasional.
Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas Kementerian ESDM Agung Kuswandono mengatakan bahwa capaian lifting minyak pada 2025 berhasil memenuhi target pemerintah berkat kolaborasi dari berbagai pihak. Meskipun diakuinya upaya yang dilakukan juga menemui sejumlah hambatan.
“Tahun kemarin kita ditargetkan 605.000 barrel oil per day (BOPD) lifting minyak, alhamdulillah sudah tercapai walaupun banyak hitung-hitungan dan tantangan. Namun, itu tercapai karena effort dari semua pihak,” ujar Agung dalam acara Bincang Santai Energy Institute for Transition (EITS) di Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Baca Juga
ExxonMobil Cepu Dongkrak Produksi Minyak Sumur Lama hingga 12.300 BOPD
Memasuki 2026, pemerintah menetapkan target lifting minyak lebih tinggi, yakni 610.000 BOPD. Namun, pada awal tahun ini sektor migas menghadapi sejumlah kendala teknis di lapangan, terutama terkait kegagalan operasional infrastruktur yang berdampak langsung pada produksi.
“Lifting tahun ini kita diberikan target oleh Pak Presiden untuk mencapai 610.000 BOPD. Namun, pada awal tahun kita diberikan cobaan dengan banyaknya infrastruktur yang mengalami kegagalan operasional,” jelasnya.
Salah satu gangguan terbesar terjadi akibat pecahnya pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI). Insiden tersebut berdampak signifikan terhadap produksi minyak dari wilayah kerja PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).
“Dimulai dari pecahnya pipa TGI yang mengakibatkan produksi PHR turun drastis dari 400.000-an BOPD menjadi hanya puluhan ribu saja. Itu cobaan yang cukup parah,” ujarnya.
Perbaikan dilakukan secara cepat oleh para pemangku kepentingan untuk meminimalkan dampak terhadap produksi nasional. Upaya darurat dilakukan sembari menyiapkan perbaikan permanen yang membutuhkan waktu lebih lama.
Agung mengungkapkan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto (Djoksis) turut memantau langsung proses perbaikan tersebut hingga larut malam.
Baca Juga
Gejolak Harga Minyak Mereda, tapi Brent Masih Bercokol di Atas US$ 80
“Saya ingat sampai di grup pimpinan, jam 2 pagi Pak Djoksis masih nge-share foto nunggu perbaikan yang sifatnya sementara karena memang harus dikejar produksinya,” beber Agung.
Sebelum insiden tersebut, gangguan juga sempat terjadi pada fasilitas produksi milik ExxonMobil saat pipa penyalur minyak mengalami kerusakan. “Minyak yang diproduksi Exxon, yang disalurkan, pipanya juga pecah. Itu juga cobaan,” ujarnya.

