Menekraf Teuku Riefky Harsy Ungkap Hilirisasi Ekraf Jadi Kunci Hadapi Dampak Geopolitik Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsy memberikan tanggapan strategis mengenai potensi dampak ketegangan geopolitik dan peperangan yang terjadi di Timur Tengah terhadap stabilitas industri ekonomi kreatif di Tanah Air. Teuku Riefky menekankan pentingnya kemandirian industri kreatif agar tidak terlalu bergantung pada komponen impor yang rentan terganggu oleh situasi dunia.
Teuku Riefky menjelaskan bahwa langkah utama pemerintah dalam membentengi ekonomi kreatif adalah dengan memperkuat ekosistem dalam negeri melalui hilirisasi. Menurutnya, hilirisasi tidak hanya berlaku pada sektor pertambangan, tetapi juga harus merambah ke sektor-sektor kreatif yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
"Ya tentu dampak kalau kita bergantung industri kreatif ini dari impor. Tapi ketika kita menyiapkan hilirisasi agar industri kreatif Indonesia juga semakin berkembang dengan sistem pemasaran yang juga menjangkau kawasan Indonesia, salah satunya dengan cara pelatihan yang dilakukan melalui program Emak-Emak Metik dan Gen-Metik ini adalah bagian juga bagaimana industri kreatif kita bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri," ujar Teuku Riefky dalam acara Laporan Pencapaian Program Emak-emak Matic di Trinity Tower 19F Pantry Shopee Indonesia, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Asal tahu saja, program Emak-Emak Matic (Melek Teknologi) merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) dan Shopee Indonesia. Melalui sinergi bersama Kemenekraf, Shopee terus mendorong digitalisasi ibu rumah tangga dan generasi muda Indonesia melalui program pelatihan untuk berkembang di ekosistem Shopee.
Baca Juga
Wamen Ekraf Dorong Harmoni Imlek Nusantara Jadi IP Event Nasional
Tujuan utama dari inisiatif ini adalah untuk memberdayakan ibu rumah tangga agar lebih terampil dalam memanfaatkan ekonomi digital, baik sebagai pelaku UMKM maupun sebagai konten kreator. Setelah satu tahun pelaksanaan program, Shopee bersama Kementerian Ekraf menyelenggarakan acara laporan pencapaian sekaligus pemberian apresiasi bagi para peserta Emak-Emak Matic dan GenMatic 2025.
Lebih lanjut, Teuku Riefky memaparkan bahwa konsep hilirisasi di sektor ekonomi kreatif memiliki spektrum yang luas. Pemerintah berupaya agar produk-produk lokal mampu mengambil alih posisi produk impor di pasar domestik, mulai dari sektor busana hingga kriya.
"Industri kreatif yang tadinya impor bisa digantikan dengan produk-produk lokal. Hilirisasi tidak hanya hilirisasi tambang, tapi hilirisasi fashion, hilirisasi kuliner, hilirisasi dari kerajinan dan seterusnya. Yang kita harapkan itu baik penjualan dan penyerapannya itu dari Indonesia, untuk Indonesia, oleh Indonesia ini benar-benar dapat kita lakukan," tegasnya.
Menghadapi tantangan zaman, Teuku Riefky juga menyoroti pentingnya adopsi teknologi digital. Ia mengakui bahwa pemerintah membutuhkan sinergi dengan sektor swasta untuk memperluas jangkauan literasi digital bagi para pelaku industri kreatif di berbagai daerah.
"Nah tentu sistem penjualan yang modern melalui platform digital, melalui literasi digital inilah yang diperlukan karena kementerian tidak bisa bekerja sendiri. Kementerian juga butuh berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dengan pihak swasta, dalam hal ini Shopee, dan sudah melakukan komitmennya dalam satu tahun terakhir ini. Dan kita ingin agar pelatihan-pelatihan ini bisa semakin luas, semakin masuk ke berbagai daerah dan juga ke segmen-segmen masyarakat yang dapat mendukung bangkitnya industri kreatif Indonesia dan juga mengantisipasi efek dari kondisi geopolitik, dampaknya terhadap industri kreatif Indonesia," tambahnya.
Baca Juga
Ketika ditanya mengenai ketangguhan industri kreatif nasional dalam menghadapi krisis, Teuku Riefky berkaca pada pengalaman sejarah saat Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Ia meyakini bahwa sektor UMKM dan ekonomi kreatif memiliki daya tahan yang teruji untuk menjadi pilar ekonomi nasional.
"Kalau saya lihat, kita ingat bagaimana UMKM menjadi tulang punggung saat Indonesia terjadi krisis, saat Covid. Dan tentu dalam situasi geopolitik ini, memanasnya geopolitik termasuk peperangan yang ada di Timur Tengah, kita juga berharap UMKM dan industri kreatif Indonesia bisa menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia," ungkapnya optimis.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa ketahanan ini tidak bisa dicapai tanpa adanya gotong royong dari seluruh elemen bangsa. Dukungan dari pemerintah pusat hingga asosiasi profesi sangat krusial untuk mengantisipasi potensi gangguan ekonomi akibat konflik internasional, seperti yang saat ini terjadi di Timur Tengah.
"Dan tentu perlu dukungan semua pihak, mulai dari pemerintah, dari pemerintah daerah hingga pemerintah pusat, swasta mulai dari swasta nasional, perbankan, akademisi, media massa, dan juga asosiasi untuk sama-sama bagaimana dalam situasi yang juga mungkin akan terganggunya situasi ekonomi nasional, nah ini bagaimana UMKM dan industri kreatif Indonesia dapat juga membantu ya kondisi perekonomian dalam mengantisipasi perang yang ada di Timur Tengah," jelasnya.
Terkait hubungan dagang dengan kawasan Timur Tengah, Teuku Riefky menyebutkan ada tiga subsektor utama yang menjadi primadona ekspor. Meski demikian, pemerintah tetap akan melakukan koordinasi lintas sektoral untuk memantau data dan dampak nyata dari konflik tersebut terhadap arus perdagangan.
"Kalau Timur Tengah memang fashion, kuliner, kriya itu menjadi tiga subsektor ekraf yang saat ini juga ekspornya cukup tinggi begitu. Nah tentu kita juga harus melihat bagaimana dampaknya, tentu kami juga nanti akan duduk lintas kementerian karena yang mencatat juga ada dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, BPS dan seterusnya," kata Teuku Riefky.
Lebih lanjut, Teuku Riefky menekankan bahwa prioritas tertinggi pemerintah saat ini adalah menjaga pasar domestik. Ia ingin memastikan bahwa kebutuhan masyarakat Indonesia dapat dipenuhi oleh karya-karya anak bangsa sendiri sebagai bentuk pertahanan ekonomi yang paling efektif.
"Kita akan duduk bagaimana dampaknya, tetapi yang paling penting adalah bagaimana market dalam negeri ini tetap kita harus jaga. Bagaimana market dalam negeri ini juga diisi oleh produk-produk, oleh brand-brand lokal kita, baik itu dari fashion, kuliner dan kriya itu sebagai tiga yang utama. Tetapi juga banyak subsektor-subsektor lainnya yang juga sekarang juga semakin menjadi tuan rumah di negeri sendiri," pungkasnya.

