Airlangga: RI Butuh Tambahan 45% Insinyur untuk Industri Strategis
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, Indonesia masih kekurangan tenaga insinyur untuk mendukung pengembangan industri strategis, termasuk semikonduktor, digital, hingga ekonomi hijau. Pemerintah membutuhkan setidaknya tambahan 45% dari jumlah insinyur yang ada saat ini.
“Kita butuh tambahan 45% dari engineers yang ada sekarang. Kemudian juga yang sudah sangat spesifik, tapi kita perlukan untuk semikonduktor kita butuh 15.000 engineers. Kalau untuk digital ya mungkin kita butuh tambahan itu sekitar 150.000 untuk 1-6 tahun ke depan,” ungkap Airlangga dalam konferensi pers World Engineering Day 2026 di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2026).
Baca Juga
Insinyur Perlu Mendorong Kebijakan Industrial Untuk Akselerasi Pertumbuhan
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, lanjut dia, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) telah mendorong program vokasi melalui retraining dan reskilling. Selain itu, pemerintah menyiapkan pelatihan bagi 150.000 insinyur melalui kerja sama yang ditandatangani di London antara Danantara dan Arm Hodings.
“Dengan program yang kemarin di London ditandatangani antara Danantara dan Arm itu disiapkan pelatihan untuk 150.000 engineers kepada ekosistem Arm. Jadi kita sekarang lebih spesifik lagi mencari kebutuhan engineers untuk industri-industri yang didorong oleh pemerintah,” jelas Airlangga.
Airlangga memaparkan, potensi ekonomi digital, termasuk generative artificial intelligence (GenAI), yang diperkirakan dapat menciptakan pasar sebesar US$ 243,5 miliar atau setara hampir seperlima produk domestik bruto (PDB) nasional. Selain itu, transisi menuju ekonomi hijau hingga 2030 diproyeksikan mampu menciptakan 1,8 juta green jobs.
“Tantangannya, kita masih kekurangan engineers dan oleh karena itu pemerintah mendorong pengembangan semikonduktor, kita butuh 15.000 engineers. Nah, ini tugasnya Pak Ilham untuk mendukung,” tutur dia.
Sementara itu, Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ilham Akbar Habibie menyebut jumlah insinyur di Indonesia saat ini sekitar 700.000 orang, dengan rasio sekitar 2.500 insinyur per satu juta penduduk. “Mungkin saya bisa tambahkan, kita jumlah engineer-nya itu kurang lebih 700.000 di Indonesia, rasionya adalah 2.500-an per 1 juta penduduk,” kata Ilham.
Baca Juga
Ilham Habibie: Indonesia 'Open Network' Perluas Akses Ekonomi Digital
Ia membandingkan rasio tersebut dengan Vietnam yang mencapai sekitar 9.000 insinyur per satu 1 juta penduduk. “Kalau kita bandingkan itu dengan negara-negara tetangga kayak Vietnam, Vietnam itu 9.000 per sejuta. Apalagi China dan lainnya jauh di atas itu. Jadi kita kurang, rasionya yang penting,” ujar Ilham.
Menurut Ilham, untuk mengejar ketertinggalan, rasio insinyur di Indonesia setidaknya perlu mendekati 10.000 per 1 juta penduduk atau sekitar empat kali lipat dari posisi saat ini.
“Jadi kita bisa membayangkan, kalau kita mau maju, menjadi negara Indonesia Emas, itu kan engineers penting sekali untuk membangun industri untuk membangun ekonomi. Jadi kita perlu perbanyak jumlah engineers dengan sangat amat,” tegas dia.

