Apindo: Dampak Konflik Timteng ke Ekspor Minerba Belum Terlihat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ketua Komite Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hendra Sinadia menilai eskalasi konflik di Timur Tengah (Timteng) sejauh ini belum berdampak langsung terhadap kinerja ekspor-impor sektor minerba Indonesia.
Menurut Hendra, perkembangan situasi geopolitik masih perlu dicermati untuk melihat potensi dampaknya terhadap jalur perdagangan global. Namun, untuk saat ini dampak terhadap sektor energi dinilai lebih kepada minyak dan gas bumi (migas) ketimbang minerba.
“Belum tahu sih eskalasinya ini seperti apa. Bahkan kalau ekspor lebih ke migas ya, ke Selat Hormuz kan banyaknya,” kata Hendra saat ditemui di Kantor Apindo, Jakarta, Senin (2/3/2026).
Dia menjelaskan, jalur Selat Hormuz merupakan salah satu titik krusial perdagangan minyak dunia, sehingga gangguan di kawasan tersebut berpotensi mempengaruhi arus ekspor-impor komoditas energi berbasis migas.
Sementara itu, untuk batu bara Indonesia, mayoritas ekspor tidak melalui jalur Timur Tengah. “Batu bara kita 98% itu ke Asia Timur lewat Samudera Pasifik. Jadi sejauh ini belum terdampak secara langsung,” bebernya.
Adapun untuk komoditas nikel, Hendra menyebut belum dapat memastikan secara detail dampaknya. Namun, dia menilai jalur distribusi nikel relatif lebih fleksibel dan tidak sepenuhnya bergantung pada kawasan konflik.
Baca Juga
Selat Hormuz Ditutup, Perdagangan RI dengan 3 Negara Ini Dipastikan "Rungkad"
“Nikel mungkin bisa lewat Afrika. Tapi secara langsung belum terlihat dampaknya,” sebut Hendra.
Kendati demikian, Hendra mengingatkan potensi dampak tidak langsung tetap perlu diwaspadai. Konflik berkepanjangan berisiko menekan stabilitas keuangan global dan meningkatkan volatilitas pasar.
“Secara tidak langsung pasti akan terdampak, karena kondisi finansial dunia akan semakin tertekan. Itu yang ke depan bisa berpengaruh,” jelasnya.
Apindo pun menyatakan akan terus memantau dinamika global guna mengantisipasi potensi risiko terhadap kinerja perdagangan sektor minerba nasional.

