Produk Pertanian AS Bebas Bea Masuk RI, Mendag: Tidak Masalah, Memang Dibutuhkan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso tidak mempermasalahkan importasi sejumlah komoditas pangan dari Amerika Serikat (AS) sebagaimana yang tertuang pada dokumen kesepakatan perdagangan Agreement on Reciprocal Tariff (ART) yang baru saja diteken.
Menurut Mendag Budi, kepakatan impor pangan tersebut justru mendukung keberlangsungan industri dalam negeri. Pasalnya, bahan pangan yang masuk ke dalam negeri merupakan komoditas yang tidak diproduksi di dalam negeri dan dibutuhkan industri.
“Yang kita impor itu rata-rata bahan baku yang memang kita butuhkan dan tidak kita produksi. Jadi tidak ada masalah,” ujar Mendag Budi saat ditemui di Kantor Kemendag, Jakarta, Jumat (20/2/2026).
Baca Juga
Kesepakatan Dagang RI-AS Diteken, Mendag Pede Ekspor Meroket
Komoditas yang disepakati untuk diimpor dari AS ke Indonesia di antaranya adalah kedelai, gandum dan kapas. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia memang mengimpor kedelai dari AS sebanyak 1,93 juta hingga 2,37 juta ton pada 2024 lalu.
Indonesia selama ini mengimpor kedelai dalam jumlah besar dari Amerika Serikat untuk kebutuhan industri tahu dan tempe. Sementara gandum juga sepenuhnya bergantung pada impor karena tidak dapat diproduksi secara optimal di dalam negeri.
Lebih lanjut, menurut Mendag, kemudahan akses impor justru akan menekan biaya produksi. Jika bahan baku diperoleh dengan harga lebih murah, maka harga produk akhir di dalam negeri juga bisa lebih terkendali.
"Ya kalau kita nggak mempermudah itu justru menyusahkan industri kita. Gandum juga kita butuh, kita butuh banyak. Yang kita nggak punya. Jadi rata-rata memang bahan baku yang justru memang, memang kalau mempermudah kan jadi murah juga. Biaya produksi menjadi murah. Kita nggak bisa memproduksi," terangnya.

