Harga Nikel Turun, Strategi Hilirisasi dan Efisiensi Jadi Penyelamat
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Hilirisasi menjadi mesin nilai tambah bagi badan usaha milik negara (BUMN) sektor tambang saat komoditas mentah diolah menjadi aset industri bernilai tinggi yang memperkuat valuasi jangka panjang.
MIND ID sebagai holding industri pertambangan mendorong transformasi dari ekspor bahan mentah menuju industri berbasis pemrosesan. Strategi ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fasilitas fisik, tetapi pada penciptaan nilai ekonomi berkelanjutan melalui hilirisasi.
Pendekatan tersebut tercermin pada kinerja PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang menghadapi tekanan harga nikel sepanjang 2025, tetapi tetap mencatatkan performa operasional solid melalui peningkatan produksi, penjualan, dan efisiensi biaya.
Direktur Utama PT Vale Indonesia Tbk Bernardus Irmanto mengatakan realisasi harga nikel menjadi tantangan utama perusahaan sepanjang 2025. Fluktuasi harga global dinilai sebagai faktor eksternal paling berpengaruh terhadap kinerja.
“Sepanjang 2025, harga nikel relatif lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujar Direktur Utama PT Vale Indonesia Tbk Bernardus Irmanto di Jakarta, seperti dikutip Rabu (18/2/2026).
Baca Juga
Tata Kelola Investasi dan Hilirisasi Kunci Keluar dari 'Middle Income Trap'
Tekanan harga tersebut tidak menghentikan kinerja operasional perusahaan. Produksi nikel matte mencapai 66.848 ton hingga November 2025 atau meningkat 3% secara tahunan.
Bernardus menjelaskan bahwa capaian produksi tersebut melampaui target anggaran, meskipun masih menunggu hasil audit final. Target produksi nikel matte 2025 sebesar 71.234 ton dinilai dapat tercapai setelah data produksi Desember diverifikasi.
Penjualan juga menunjukkan tren positif. Total penjualan nikel matte mencapai 67.351 ton hingga November 2025 atau tumbuh 2% secara tahunan, dengan target tahunan 71.234 ton yang diyakini dapat terpenuhi.
“Walaupun mungkin yang ditampilkan baru sampai November 2025, bisa saya sampaikan sambil nanti menunggu audit yang berlangsung, bahwa produksi PT Vale untuk produksi nikel matte itu melebihi bujet yang dicanangkan 2025. Demikian juga penjualan ore sampai akhir tahun itu juga melebihi bujet yang dicanangkan 2025,” ucap Bernardus.
Efisiensi biaya menjadi pilar penting dalam strategi nilai tambah. Biaya produksi di wilayah operasional Sorowako tercatat sekitar US$ 9.000 per ton, yang dinilai kompetitif untuk produksi nikel matte di Indonesia. “Jadi secara kinerja, baik dalam hal produksi, penjualan ore, dan biaya, tiga variabel ini kami bisa memenuhi bahkan melebihi apa yang dicantumkan di dalam bujet,” sebutnya.
Hilirisasi juga berkaitan erat dengan agenda keberlanjutan industri tambang. Transformasi dari komoditas mentah menjadi produk bernilai tinggi dinilai memperkuat daya tahan bisnis sekaligus meningkatkan standar pengelolaan lingkungan dan sosial.
Pada akhir 2025, perusahaan mencatat peringkat risiko environmental, social, and governance (ESG) terbaik di Indonesia serta masuk dalam 15 besar perusahaan pertambangan global.
Baca Juga
“Pencapaian ini menunjukkan komitmen PT Vale tidak hanya dalam merealisasikan kinerja produksi dan keuangan, tetapi juga komitmen kuat terhadap keberlanjutan, termasuk tanggung jawab sosial dan lingkungan,” beber Bernardus.
Dalam konteks MIND ID, hilirisasi dipandang sebagai strategi jangka panjang untuk membangun ekosistem industri berbasis mineral. Smelter bauksit, nikel, dan tembaga menjadi fondasi integrasi rantai pasok dari tambang hingga produk akhir yang bernilai tambah tinggi.
Pendekatan ini tidak sekadar meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global serta meningkatkan valuasi perusahaan tambang milik negara di mata investor.

