Menperin: Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Tumbuh 5,11%, Investasi Capai Rp 142,15 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Industri pengolahan nonmigas menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan mencatatkan pertumbuhan yang relatif stabil dalam tiga tahun terakhir dan cenderung signifikan hingga mencapai 5,30% pada 2025 berdasarkan data Badan Pusat Statistik Nasional (BPS).
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa prestasi yang diraih oleh industri pengolahan ini tidak terlepas dari kontribusi sektor industri dalam negeri yang terus bertahan di tengah dinamika ekonomi global.
"Berkat jerih payah sektor industri dalam negeri, industri pengolahan secara konsisten menjadi penyumbang terbesar dalam pertumbuhan ekonomi nasional dibanding sektor lainnya," kata Menperin dalam keterangan tertulisnya, Selasa (10/2/2026).
Kontribusi industri pengolahan tersebut tidak terlepas dari kinerja sektor industri, khususnya Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) yang juga mencatat pertumbuhan positif sepanjang tahun 2025. Sektor IKFT mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,11%, naik dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 4,21%.
Selain itu, sektor ini juga berkontribusi sebesar 3,87% terhadap PDB dengan kontribusi terbesar berasal dari subsektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional sebesar 1,83%.
"Pertumbuhan IKFT yang sejalan dengan pertumbuhan nasional menunjukan sektor ini tetap menjadi penopang penting pada industri pengolahan nonmigas serta mampu menjaga momentum pertumbuhan industri nasional," ungkap Sekretaris Direktorat Jenderal IKFT, Sri Bimo Pratomo.
Baca Juga
Menko Perekonomian: Bangkitkan Industri Tekstil, Pemerintah Siapkan Dana US$6 Miliar atau Rp 100 T
Kinerja positif sektor IKFT di tahun 2025 didukung oleh beberapa subsektor yang tumbuh secara signifikan. Kenaikan tertinggi ditunjukkan oleh subsektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional dengan pertumbuhan mencapai 8,35%, naik 2,49% dari tahun 2024 yang sebesar 5,86%.
Kenaikan cukup tinggi juga dicatatkan oleh subsektor industri barang galian bukan logam yang tumbuh hingga 6,16% jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2024 yang sempat mengalami kontraksi sebesar 0,6%. Selain kinerja produksi, dari sisi perdagangan, sektor IKFT mencatatkan neraca surplus selama periode Januari-November 2025 dengan nilai ekspor mencapai US$ 49,15 miliar, naik US$ 6,26 miliar
Hal ini turut didukung oleh kinerja ekspor sektor unggulan, salah satunya subsektor industri bahan kimia dan barang dari kimia yang mencatatkan nilai ekspor sebesar USD 20,79 miliar. Kemudian, subsektor industri kimia berbasis pertanian turut mengalami kenaikan ekspor signifikan yang sebelumnya US$ 6,25 miliar naik menjadi US$ 9,25 miliar.
Disisi lain, investasi di sektor IKFT juga mencatatkan hal menggembirakan. Selama periode JanuariSeptember 2025, realisasi investasi sektor IKFT mencapai Rp142,15 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama di 2024 yang sebesar Rp116,54 triliun. Investasi terbesar dicatatkan oleh subsektor industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia yaitu sebesar Rp58,4 triliun.
"Di tengah dinamika global saat ini, permintaan masyarakat dunia terhadap produk IKFT dalam negeri justru meningkat. Angka-angka ini mencerminkan daya tahan sektor IKFT untuk tetap berkontribusi dalam rantai pasok global," tambah Sri Bimo.

