Kadin: Danantara dan Pasar Karbon Perlu Terintegrasi dalam Strategi Pertumbuhan Hijau
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie menilai pembentukan Danantara oleh Presiden Prabowo Subianto dan pengembangan pasar karbon merupakan instrumen penting dalam mendorong pertumbuhan hijau nasional.
Namun, keduanya perlu terintegrasi secara menyeluruh dengan kebijakan perdagangan, industri, dan energi agar dapat memberikan dampak nyata bagi perekonomian.
Menurutnya, pertumbuhan hijau tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan pembiayaan jangka panjang dan kepastian arah kebijakan nasional.
“Pasar karbon adalah sinyal yang baik, tetapi bukan tujuan akhir. Ia harus tertanam dalam kebijakan perdagangan, industri, dan energi,” ujar Anindya dalam diskusi panel Indonesia Economic Summit (IES) di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Anindya menjelaskan, Indonesia membutuhkan pendanaan yang sangat besar untuk mencapai target transisi energi dan net zero emission (NZE). Mengacu pada proyeksi BloombergNEF, kebutuhan investasi diperkirakan mencapai sekitar US$ 3,9 triliun hingga 2050 atau 2060.
Dalam konteks tersebut, Anindya menyatakan dukungannya terhadap inisiatif pemerintah membentuk Danantara, yang dinilai dapat berperan dalam menarik masuk investor sekaligus menurunkan risiko investasi di sektor-sektor strategis.
Baca Juga
Pemerintah Siapkan Reforestasi Jumbo dan 70 GW Listrik Rendah Karbon
“Danantara dapat menjadi sarana untuk melakukan crowd in investment dan de-risking, karena kita membutuhkan dana yang sangat besar,” katanya.
CEO Bakrie & Brothers itu menuturkan, keberadaan Danantara juga dapat memperkuat kepercayaan investor terhadap komitmen pemerintah dalam mendorong pertumbuhan hijau. Dengan skema pembiayaan yang lebih terstruktur, investasi di sektor energi terbarukan, hilirisasi mineral, dan infrastruktur pendukung transisi energi diharapkan dapat berjalan lebih cepat.
Di sisi lain, ia menekankan pasar karbon tidak boleh berdiri sendiri sebagai instrumen kebijakan. Tanpa keterkaitan yang kuat dengan arah industrialisasi dan perdagangan nasional, pasar karbon berisiko menjadi sekadar mekanisme administratif tanpa dampak ekonomi yang signifikan.
Meski demikian, ia mencatat pertumbuhan hijau telah menunjukkan kontribusi nyata terhadap perekonomian Indonesia. Saat ini, sekitar 25–30% realisasi penanaman modal asing (foreign direct investment/FDI) telah mengalir ke sektor-sektor yang berkaitan dengan ekonomi hijau, dan tren tersebut diperkirakan akan terus meningkat.
Anindya menilai konsistensi kebijakan dan eksekusi menjadi kunci agar Danantara dan pasar karbon benar-benar berfungsi sebagai pengungkit pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Kadin, lanjutnya, akan terus mendukung pemerintah dalam membuka kerja sama internasional dengan berbagai mitra untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global ekonomi hijau.

