Kadin: Biaya Transisi Energi Hijau Semakin Turun, Industri Tak Perlu Khawatir
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Industri Hijau Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Halim Kalla mengungkapkan, biaya transisi menuju energi hijau semakin kompetitif. Hal ini diharapkan bisa meredakan kekhawatiran pelaku industri yang masih menilai investasi energi terbarukan terlalu mahal.
“Sebetulnya transisi energi agak lebih turun. Contoh, renewable energy pembangkit listrik tenaga angin atau air, dulu bisa mencapai US$ 2 juta per megawatt, sekarang hanya US$ 1 juta. Mesin sudah mulai mudah, contoh solar panel sekarang jauh turun karena sudah banyak localize di sini,” ujarnya, dalam Investortrust Green Energy Summit (IGES) 2025, di Hotel JW Marriot, Jakarta, Selasa (23/9/2025).
Menurut Halim, harga baterai juga mengalami penurunan signifikan. Kalau dulu harganya bisa mencapai US$ 400 per kilowatt hour, sekarang hanya sekitar US$ 1. Tren serupa juga terlihat di sektor kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
Baca Juga
Investortrust Gelar “Green Energy Summit 2025”, 15 Pakar Bakal Bedah Masa Depan Energi Hijau
“Mobil listrik sekarang jauh lebih murah. Dulu Rp 800 juta, sekarang anda bisa beli Rp 250 juta. Bahkan ada yang di kisaran Rp 200 juta hingga Rp 300 juta, lebih murah daripada mobil bensin,” katanya,
Halim mengatakan, biaya pembangkit listrik berbasis energi terbarukan kini juga makin sebanding dengan pembangkit listrik tenaga fosil. Selama ini, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dianggap murah karena batubara disubsidi lewat domestic market obligation (DMO).
Baca Juga
Energi Hijau, AI, dan EV Jadi Mesin Pertumbuhan Permintaan Listrik
“Kalau itu dihilangkan, mahal juga. Harga ekspor bisa US$ 1 juta. Mungkin yang mahal juga geothermal, tapi angin, biomass, bisa lebih murah. Saya kira itu sudah pasti bisa lebih murah,” ucap Halim.

