Bahlil Mengklaim Menteri Anti-Impor, Apa Maksudnya?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan sikapnya sebagai menteri yang menolak ketergantungan impor. Menurutnya, impor merupakan bentuk ketergantungan terhadap negara lain yang harus secara bertahap dikurangi demi mewujudkan kemandirian energi nasional.
Bahlil menyoroti bahwa ketergantungan impor energi selama ini terjadi secara sistematis. Dia pun secara terbuka menyatakan sikapnya yang menentang praktik impor.
“Kalau jujur saya katakan, dari lubuk hati yang paling dalam, ini by design dibuat supaya kita tetap tergantung pada impor. Kalau ditanya menteri siapa yang anti-impor, saya,” ujar Bahlil dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR, Kamis (22/1/2026).
Menurut dia, impor justru membuat Indonesia terus bergantung pada negara lain dan menghambat upaya membangun kemandirian energi. “Impor itu seperti membuai kita agar terus bergantung pada negara lain,” tegasnya.
Baca Juga
Pemerintah Siapkan Bensin Pakai Etanol 10% untuk Tekan Impor BBM dan Emisi Karbon
Bahlil memaparkan kondisi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) nasional yang mencapai sekitar 39–40 juta kiloliter (KL) per tahun. Sementara itu, produksi BBM dalam negeri baru berada di kisaran 14 juta (KL). Produksi tersebut diproyeksikan bertambah sekitar 5,8 juta KL seiring mulai beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.
“Dengan penambahan 5,8 juta kiloliter dari RDMP Balikpapan, maka impor bensin pada 2026 turun menjadi sekitar 19 juta kiloliter,” sebut Bahlil
Untuk menekan ketergantungan impor tersebut, Kementerian ESDM telah menyiapkan sejumlah kebijakan strategis, salah satunya melalui penerapan mandatori bahan bakar nabati (BBN) E10. Kebijakan ini dinilai mampu mengurangi kebutuhan impor secara signifikan.
“Kalau etanolnya 10%, kita bisa melakukan efisiensi impor sekitar 3,9 juta KL. Ini bagian dari upaya menuju kemandirian energi. Tapi tidak bisa kita lakukan sekaligus, harus bertahap, karena kita sudah tertinggal,” ucap dia.
Sebagai langkah konkret, Bahlil menegaskan pemerintah menargetkan penghentian impor BBM jenis bensin (gasoline) dengan RON 92, RON 95, dan RON 98 mulai 2027. Sedangkan untuk solar (gasoil) dipastikan Indonesia tidak melakukan impor lagi per 2026 ini.
“Maka apa yang kita lakukan? Untuk RON 92, 95, dan 98, kita segera kurangi, dan pada 2027 tidak boleh kita impor lagi,” pungkas Bahlil.
Baca Juga
Airlangga Pastikan Impor BBM dan LPG dari AS Tetap Wajib Lewat Lelang

