Bos Garuda Buka-bukaan soal Rencana Merger Citilink dengan Pelita Air
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Irfan Setiaputra buka-bukaan soal rencana merger anak perusahaan Garuda, Citilink, dengan maskapai penerbangan milik PT Pertamina (Persero), Pelita Air Service (PAS). Merger kemungkinan besar terealisasi, namun rencana itu masih digodok.
“Rencana merger Citilink-Pelita masih didiskusikan, belum concludemodelnya seperti apa. Masih terbuka beberapa opsi, beberapa alternatif,” ujar bos Garuda itu kepada investortrust.id di Jakarta, baru-baru ini.
Baca Juga
Irfan Setiaputra membeberkan, merger Citilink dengan Pelita Air harus dilakukan secara hati-hati. Soalnya, merger tersebut melibatkan dua entitas BUMN, yakni Garuda selaku induk Citilink dan Pertamina sebagai induk Pelita Air. Pertamina menguasai 100% saham Pelita Air Service. Sebaliknya, 100% saham Citilindimiliki Garuda.
Dengan demikian, kata Irfan, pemerintah tidak bisa serampangan menggabungkan kedua anak perusahaan BUMN tersebut. “Jadi, merger Citilink dengan Pelita Air memang membutuhkan kehati-hatian,” tutur dia.
Baca Juga
Soal Restrukturisasi Utang, Ini Janji Manajemen Garuda kepada Pemerintah
Masalah lainnya, menurut Irfan Setiaputra, Garuda merupakan perusahaan publik yang sahamnya tercatat di bursa (listed company). Pemilik saham Garuda saat ini adalah negara dengan porsi 64,53%, PT Trans Airways 7,99%, dan masyarakat sekitar 26%. “Problemnya Garuda ini publiccompany. Jadi, businessmodel-nya mesti disepakati dulu, between both of us,” ucap dia.
Irfan menambahkan, selain masalah legalitas dan model bisnis, pihak-pihak terkait harus menyiapkan berbagai opsi terbaik agar perusahaan hasil merger kelak menjadi perusahaan kampiun. “Opsi-opsinya yang ada apa aja, dan mana yang secara legal paling masuk akal serta tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Itu semua harus dipikirkan,” papar dia.
Baca Juga
Garuda Tak Lagi Mengejar Market Share, Ini yang Dikejarnya Sekarang!
Intinya, menurut Irfan, semua pihak terkait sedang mematangkan opsi terbaik bagi Citilink dan Pelita Air jika kedua perusahaan itu nanti dimerger.
“Dalam transaksikan ada jual-beli. Yangmenjual apakah ikhlas, perhitungannya benar, dan bisa diterima pihak-pihak penjual? Pembeli pun harus menyepakati harganya,” tegas dia.
Baca Juga
Perihal biaya yang mungkin timbul dari hasil merger dan sumber pendanaannya,Irfan mengemukakan, instrumen yang disiapkan bermacam-macam. Semua masih dimatangkan.
“Instrumen jual-beli kan bermacam-macam, bisa pakai utanglah, dibayar nantilah, macam-macam. Tapi kan harus dicarikan mana yang paling pas. Kemudian detail-detailnya seperti apa. Jadi, belum conclude, modeling-nya seperti apa, sehingga belum bisa kami sampaikan detail soal itu,” ujar dia.

