Punya 125 Jenis, Kemenperin Dorong Hilirisasi Bambu untuk Kerek Nilai Tambah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Indonesia dikenal memiliki kekayaan bambu yang melimpah, dengan lebih dari 125 jenis bambu tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Keanekaragaman ini menempatkan Indonesia di peringkat ketiga dunia sebagai negara dengan sumber bahan baku bambu terbesar secara global. Potensi ini seharusnya menjadi peluang besar bagi negara untuk mengembangkan industri bambu yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga dapat memberikan nilai tambah ekonomi yang signifikan.
Namun, sayangnya, pemanfaatan bambu di dalam negeri masih didominasi oleh metode konvensional yang belum mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah yang tinggi.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyampaikan bahwa meskipun Indonesia memiliki potensi besar dalam produksi bambu, sebagian besar pemanfaatannya masih terbatas pada penggunaan tradisional. Padahal, bambu memiliki banyak keunggulan, seperti kekuatan mekanis yang tinggi, kelenturan, dan kemudahan untuk dibentuk. "Bambu sangat direkomendasikan untuk wilayah rawan gempa karena lebih tahan terhadap guncangan dibanding material konvensional," ujar Agus dikutip Minggu (4/3/2026).
Karena itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendukung penguatan industri hilir bambu, khususnya dalam sektor konstruksi, furnitur, serta produk-produk bernilai tambah lainnya, seperti pangan fungsional.
Pengembangan industri bambu ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk memperkenalkan ekonomi hijau dan sirkular di Indonesia. Sejak 2022, melalui Peraturan Presiden tentang Strategi Nasional Bambu Terintegrasi Hulu-Hilir, pemerintah mulai menyusun peta jalan yang mengarah pada pengembangan ekosistem industri bambu secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir. Peta jalan ini mencakup berbagai aspek penting, mulai dari penguatan agroforestry, teknologi pascapanen, pembentukan sentra-sentra bambu, hingga pembangunan pusat logistik bambu untuk menjamin pasokan bahan baku yang berkelanjutan.
Baca Juga
Menurut Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, industri bambu nasional memiliki potensi besar, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik tetapi juga untuk ekspor. Permintaan global terhadap produk bambu bernilai tambah, seperti lantai kontainer berbahan bambu, terus meningkat. Saat ini, permintaan ekspor mencapai 1.500 meter kubik per bulan, sedangkan kapasitas produksi nasional baru mencapai sekitar 30 meter kubik per bulan.
"Kesenjangan ini menunjukkan peluang ekspansi industri bambu yang sangat besar," kata Putu. Bahkan, di pasar domestik, permintaan bambu juga meningkat pesat, terutama untuk pembangunan kawasan pariwisata di Bali, Mandalika, Lombok, dan Labuan Bajo.
Menariknya, konstruksi berbasis bambu kini semakin dilirik karena memiliki nilai ekonomi tinggi dan dinilai lebih efisien dalam hal investasi. "Break Even Point (BEP) bangunan bambu hanya sekitar 3 tahun, jauh lebih cepat dibandingkan dengan konstruksi beton yang membutuhkan waktu 6-7 tahun," ungkap Putu.
Dalam upaya menjawab tantangan keterbatasan SDM dan bahan baku berkualitas, Kemenperin juga menginisiasi Akademi Komunitas Bambu (AKB), sebuah program pelatihan berbasis kompetensi untuk mempersiapkan tenaga kerja yang terampil dalam pengolahan bambu. Akademi ini dilaksanakan di Bali pada tahun 2025, dengan komposisi 70% praktik dan 30% teori, bertujuan untuk menghasilkan SDM bambu yang bersertifikat kompetensi.
Selain itu, Kemenperin juga mengembangkan pusat logistik bambu di Bangli yang memiliki potensi besar, karena didukung oleh ketersediaan bahan baku dan mesin pengolahan bambu yang sudah memadai.
Dengan penguatan SDM, standardisasi, dan ekosistem industri bambu yang terus berkembang, Kemenperin optimis bahwa industri bambu nasional dapat tumbuh, berdaya saing global, serta mendukung pembangunan berkelanjutan dan ketahanan pangan nasional.

