Harga Komponen Naik 'Gila-gilaan', Asus Ogah Ikut Perang Harga Tahun Depan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Asus Indonesia menegaskan tidak akan terlibat dalam perang harga di segmen PC dan laptop Business to Business (B2B), meski harga komponen global seperti RAM dan SSD mengalami lonjakan signifikan jelang 2026. Strategi ini diambil untuk menjaga kualitas produk dan konsistensi pengalaman pengguna.
Country Commercial Product Marketing Asus Indonesia Aldy Ramadiansyah mengatakan bahwa pasar bisnis tidak semata-mata berbicara soal harga. Menurutnya, keputusan pembelian di segmen B2B lebih ditentukan oleh fitur, keandalan, dan karakter produk, bukan sekadar spesifikasi murah.
“Kalau pasar bisnis, kita nggak ngomongin harga. Harga bisa diatur, tapi fitur itu nggak bisa dikurangkan karena sudah jadi karakter brand,” ujar Aldy kepada awak media di Jakarta, Selasa (30/12/2025).
Aldy menegaskan Asus engan memangkas kualitas hanya demi menekan harga jual. Perusahaan asal Taiwan itu memilih mempertahankan standar komponen dan desain, meskipun tekanan biaya produksi meningkat akibat kenaikan harga material global.
Terkait potensi kenaikan harga PC dan laptop per 1 Januari 2026, Asus Indonesia masih menunggu keputusan final dari kantor pusat. Namun Aldy memastikan, jika terjadi penyesuaian, hal itu semata-mata dipicu oleh kenaikan komponen utama di pasar global.
Baca Juga
Asus Catat 'Market Share' 11% di Segmen B2B-B2G, Tembus 3 Besar Nasional
“Penyesuaian pasti karena kenaikan komponen. Kami masih menunggu keputusan dari Asus Global yang mungkin akan diumumkan dalam waktu dekat,” jelasnya.
Dalam menghadapi kompetisi, Asus menekankan diferensiasi produk melalui kualitas internal yang tidak selalu terlihat dari luar. Asus bahkan secara terang-terangan langsung membandingkan produk dengan kompetitor melalui demonstrasi ekstrem, mulai dari pembongkaran perangkat hingga analisis komponen internal.
Aldy menyebut pendekatan ini digunakan untuk menunjukkan perbedaan kualitas, bukan untuk adu harga. “Yang kami kejar sekarang itu fitur dan durability, bukan perang harga,” ujar Aldy.
Perusahaan menyebut langkah ini sangat relevan di tengah pasar B2B yang semakin selektif. Menurut Aldy, klien korporasi dan institusi lebih mengutamakan stabilitas jangka panjang, efisiensi operasional, serta layanan purnajual dibanding diskon agresif.
Dengan pendekatan tersebut, Asus optimistis kinerja bisnis B2B pada 2026 tetap tumbuh signifikan, meskipun industri menghadapi tekanan biaya. Fokus pada kualitas dan solusi diyakini menjadi modal utama untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan di segmen bisnis.

