Bagikan

Burhanuddin Abdullah: RI Butuh Lompatan Besar Atasi Ketertinggalan

Poin Penting

Indonesia membutuhkan lompatan besar (quantum leap) karena tertinggal jauh dalam daya saing global, bukan sekadar perbaikan bertahap.
Indikator talenta, modal manusia, produktivitas, dan inovasi Indonesia masih rendah dibanding negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Vietnam.
Refleksi akhir tahun diperlukan sebagai pijakan moral dan intelektual untuk pembangunan berkelanjutan, berkarakter, dan berorientasi masa depan.

JAKARTA, investortrust.id – Indonesia membutuhkan lompatan besar (quantum leap) untuk mengejar ketertinggalan di berbagai bidang kehidupan. Ketertinggalan di percaturan regional dan global tersebut memicu terjadinya jurang peradaban yang tidak akan teratasi hanya dengan sebuah langkah dan kebijakan perbaikan bertahap.

Demikian pernyataan Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) dan BACenter dalam forum “Refleksi Akhir Tahun 2025 untuk Membangun Masa Depan” yang digelar di Jakarta, Senin malam (29/12/2025). Refleksi ini menampilkan pidato cendekiawan Yudi Latif dengan tema “Rekonstruksi Peradaban Indonesia” serta pembacaan “Puisi-puisi untuk Negeri” oleh budayawan Taufiq Ismail.

Burhanuddin Abdullah, Board of Advisors Prasasti sekaligus Ketua Dewan Pembina BACenter menyatakan, perjalanan Indonesia dalam satu tahun terakhir patut diapresiasi. Berbagai langkah pembangunan yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, BUMN, UMKM, koperasi, dan masyarakat menunjukkan upaya bersama menuju perbaikan kualitas hidup. Ia mencontohkan program pemenuhan gizi dan penguatan ekonomi desa yang diharapkan mampu membentuk generasi muda yang lebih sehat, tangkas, dan cerdas dalam jangka menengah hingga panjang.

Namun demikian, Burhanuddin mengingatkan bahwa jalan ke depan masih panjang dan terjal. Sejumlah indikator menunjukkan Indonesia masih tertinggal dibanding negara tetangga. Dalam Global Talent Competitiveness Index, kata dia, posisi Indonesia menurun dari peringkat 65 pada 2020 menjadi 73 pada 2024. Sementara dalam Human Capital Index, capaian Indonesia baru mencapai 0,56, tertinggal dari Malaysia dan Vietnam.

“Artinya, seorang anak Indonesia saat ini baru tumbuh dengan sekitar 56 persen dari potensi produktivitas maksimalnya di masa depan,“ kata mantan Gubernur Bank Indonesia tersebut.

Dari sisi produktivitas tenaga kerja, Indonesia mencatat sekitar US$ 28.000 per pekerja, jauh di bawah Singapura yang melampaui US$ 150.000 dan Malaysia sekitar US$ 55.000.

Kesenjangan juga tampak jelas pada aspek inovasi. Data paten per satu juta penduduk menunjukkan Indonesia hanya mencatat 84 paten dalam periode 2000–2023, dibandingkan Singapura yang mencapai lebih dari 22 ribu dan Korea Selatan lebih dari 93 ribu.

“Ini bukan sekadar kesenjangan, tetapi jurang peradaban. Karena itu, Indonesia membutuhkan lompatan besar, bukan sekadar perbaikan bertahap,“ tegas Burhanuddin.

Menurut dia, forum refleksi akhir tahun ini menjadi ruang kontemplasi kebangsaan untuk membaca perjalanan Indonesia sepanjang 2025 sekaligus menata arah masa depan bangsa di tengah tantangan daya saing global.

Baca Juga

Komplikasi Akut Kemiskinan, Pengangguran, dan Kesenjangan

Burhanuddin menekankan pentingnya berhenti sejenak untuk berefleksi di tengah laju perubahan yang kian cepat. Menurutnya, refleksi akhir tahun bukan sekadar ritual personal, melainkan cara bangsa menimbang, mengendapkan, dan memahami perjalanan kolektif yang telah dilalui.

Melalui kegiatan ini, Prasasti dan BACenter berharap refleksi akhir tahun dapat menjadi pijakan intelektual dan moral bagi para pemangku kepentingan dalam menatap masa depan Indonesia, dengan keberanian melakukan lompatan besar, konsistensi arah pembangunan, dan peneguhan nilai-nilai kemanusiaan sebagai fondasi peradaban.

Prasasti dan BACenter juga mengapresiasi partisipasi publik dengan semangat gotong royong yang sangat tinggi dalam membantu pemerintah melakukan penanggulangan dan pemulihan pascabencana di Sumatra. Menyikapi bencana banjir besar yang terjadi, Burhanuddin meminta pemerintah selalu menata kelola sumber daya alam secara bijaksana dan berkelanjutan, agar pembangunan tidak menimbulkan kerentanan dampak bencana di masa depan.

Prasasti Center for Policy Studies Prasasti adalah lembaga think tank independen Indonesia yang didirikan untuk berkontribusi pada solusi kebijakan publik yang transformatif, praktis, dan berkelanjutan melalui riset komprehensif, dialog strategis, dan kolaborasi lintas sektor. Adapun BACenter adalah lembaga kajian untuk penguatan daya saing koperasi dan UMKM Indonesia melalui kegiatan riset akademik, advokasi kebijakan, dan forum kolaboratif.

Baca Juga

Lembaga Kajian Prasasti Diluncurkan, Ada Nama Hashim Djojohadikusumo hingga Burhanuddin Abdullah

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024