Pemerintah Siap Bagikan Kompor Induksi Gratis, Sasar Masyarakat Menengah ke Atas
JAKARTA, investortrust.id - Dewan Energi Nasional (DEN) menyatakan program kompor induksi bakal dilanjutkan kembali. Hanya saja, kali ini target yang disasar adalah masyarakat kelas menengah ke atas alias orang kaya.
Sekretaris Jenderal DEN, Djoko Siswanto menyampaikan, telah dilakukan rapat bersama Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, untuk membahas program kompor induksi ini.
“Kemarin Pak Luhut mimpin rapat, saya hadir, untuk dimulai lagi kompor induksi. Jadi kemarin yang sempat dihentikan coba dikaji lagi, dimulai lagi. Dimulai yang bisa kita laksanakan,” kata Djoko Siswanto dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (17/1/2024).
Djoko Siswanto pun menjelaskan program kompor induksi ini akan dimulai dari orang kaya. Pasalnya, dibutuhkan daya listrik yang cukup tinggi dalam menggunakan perangkat ini di rumah. Sedangkan orang-orang miskin akan kesulitan untuk memenuhi persyaratan tersebut.
Baca Juga
ESDM Mulai Bagikan Bantuan Rice Cooker ke 53.161 Keluarga, Apa Mereknya?
“Menurut kami, kompor induksi ini dimulai jangan dari orang miskin, justru dari orang kaya, kaum menengah ke atas, yang sudah mampu menggunakan kompor listrik. Kalau dimulai dari masyarakat yang miskin, ya gak mulai-mulai transisinya seperti sekarang,” ujar dia.
Program kompor induksi ini sendiri bertujuan untuk mengurangi impor LPG. Djoko Siswanto menyebut pada tahun ini akan dibagikan 500 ribu unit kompor induksi. Sedangkan pada 2025 ditargetkan 700 ribu unit.
Rice Cooker Sebagai Pengganti Kompor Induksi
Kendati demikian, Djoko Siswanto menjelaskan, harga untuk satu unit kompor induksi cukup mahal, yakni Rp 2 juta. Maka dari itu, pemerintah berencana mengganti kompor induksi ini dengan rice cooker, karena bisa digunakan untuk memasak nasi, air, sayur, hingga menggoreng lauk pauk.
“Kenapa rice cooker? Ternyata itu paling bisa diimplementasikan. Kita tinggal beli. Harganya pun lebih murah dari kompor listrik. Kompor listrik itu, kita sudah uji coba di Bali dan Solo, Rp 2 juta per KK. Nah kalau rice cooker di bawah Rp 1 juta harganya,” terang Djoko Siswanto.
Baca Juga
Rice Cooker Gratis Mulai Dibagikan, Target Distribusi Awal ke 53.161 Rumah Tangga
Pemerintah sebenarnya juga memiliki program Jargas untuk mengurangi pemakaian LPG. Namun, Jargas memakan biaya yang lebih mahal ketimbang kompor induksi dan rice cooker. Djoko menyebut pemasangan Jargas untuk satu KK bisa menelan biaya APBN sebesar Rp 8-10 juta.
“Jadi satu KK Jargas bisa untuk lima kompor induksi, bisa untuk 10 rice cooker. Nah makanya pemerintah mengganti kompor induksi dengan rice cooker. Mudah-mudahan kalau ini bisa berjalan, angka yang terdaftar miskin 31,5 juta, misalnya rice cooker harganya Rp 1 juta, itu mungkin satu kali subsidi LPG bisa selesai,” tandas Djoko Siswanto.

