Tatyana Sutara dan Perjuangan Sunyi Perempuan dalam Diplomasi Ekonomi Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id -- Di tengah lanskap ekonomi global yang semakin berlapis dan penuh ketidakpastian, Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga inklusif secara sosial.
“Dalam konteks ini, peran Tatyana Sutara, Wakil Ketua Umum (WKU) Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kadin Indonesia, merepresentasikan wajah kepemimpinan baru—kepemimpinan yang bekerja senyap, konsisten, dan berpihak pada perluasan peran perempuan dalam ekonomi nasional dan global,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Teguh Anantawikrama, Rabu (17/12/2025).
Sebagai WKU PPPA, kata Teguh, Tatyana berada pada persimpangan strategis antara diplomasi ekonomi dan pemberdayaan perempuan. Ia memahami bahwa tantangan terbesar pengusaha perempuan bukan semata keterbatasan kapasitas, melainkan akses—terhadap jejaring, informasi, dan pengambilan keputusan. “Karena itu, perjuangannya tidak berhenti pada wacana kesetaraan, tetapi diterjemahkan dalam kerja nyata membuka ruang partisipasi,” kata dia.
Menurut Teguh, dalam berbagai forum internasional dan pertemuan bisnis, Tatyana secara sadar mendorong kehadiran perempuan sebagai pelaku utama, bukan sekadar pendamping atau simbol. Ia memastikan bahwa pengusaha perempuan Indonesia tidak hanya “hadir”, tetapi didengar, diperhitungkan, dan dilibatkan dalam proses negosiasi dan kerja sama. Baginya, inklusi bukanlah slogan, melainkan praktik.
Dia menilai, pendekatan yang ditempuh Tatyana bersifat empowerment-based. Alih-alih menciptakan ketergantungan, Tatyana mendorong penguatan kapasitas: kesiapan mental, kepercayaan diri, dan pemahaman lintas budaya. Ia kerap menjadi mentor informal—menyambungkan pengusaha perempuan dengan mitra potensial, memberi konteks, dan membuka pintu yang sebelumnya tertutup. Inilah bentuk perjuangan yang jarang terlihat, tetapi dampaknya berkelanjutan.
Baca Juga
KemenPPPA Ungkap Hambatan Struktural Rendahnya Partisipasi Perempuan di Angkatan Kerja
Lebih jauh, Tatyana menantang stereotip lama tentang kepemimpinan perempuan. Ia menunjukkan bahwa keramahan tidak bertentangan dengan ketegasan, dan empati tidak mengurangi profesionalisme. “Dalam diplomasi ekonomi, justru kualitas-kualitas inilah yang sering menjadi pembeda. Melalui caranya bekerja, ia memperluas definisi kepemimpinan, membuatnya lebih manusiawi sekaligus efektif,“ tegas Teguh.
Perjuangan Tatyana juga tercermin dalam upayanya membangun ekosistem kolaboratif di dalam Kadin. Teguh menyebut bahwa Tatyana mendorong agar isu pengusaha perempuan tidak dipisahkan sebagai agenda pinggiran, melainkan diintegrasikan ke dalam strategi besar diplomasi ekonomi Indonesia. Perempuan, dalam pandangannya, bukan segmen khusus, melainkan aktor ekonomi penuh.
Yang patut dicatat, perjuangan ini dilakukan tanpa retorika berlebihan. Tidak ada klaim heroik, tidak ada politik identitas yang agresif. Yang ada adalah etos kerja, konsistensi, dan keberpihakan yang tenang. “Inilah yang membuat peran Tatyana relevan: ia membuktikan bahwa perubahan struktural sering kali lahir dari kerja-kerja kecil yang dilakukan terus-menerus,“lanjut Teguh.
Di tengah tantangan global hari ini—fragmentasi pasar, ketegangan geopolitik, dan disrupsi teknologi, Teguh menekankan bahwa Indonesia membutuhkan kepemimpinan perempuan yang tidak hanya kuat secara simbolik, tetapi berdaya secara substansial. “Tatyana Sutara memperlihatkan bahwa memperjuangkan perempuan bukan berarti berhadapan dengan sistem, melainkan mengubahnya dari dalam,“ ucapnya.
Baca Juga
Hari Antikorupsi Sedunia, Puan Ajak Perempuan Lawan Praktik Korupsi

