Bagikan

B40 Picu Surplus Solar 7 Juta KL, Impor SPBU Swasta Disorot

Poin Penting

B40 membuat Indonesia surplus solar sekitar 7 juta kiloliter, tapi impor SPBU swasta masih berjalan.
Kelebihan solar kontras dengan defisit gasoline, sehingga peningkatan kapasitas kilang justru menambah surplus solar.
Pemerintah dan Danantara mendorong etanol sebagai komplemen gasoline guna menekan impor dan emisi.

JAKARTA, investortrust.id - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mengaku mengalami dilema karena saat ini posisi Indonesia sudah surplus diesel/solar sekitar 7 juta kiloliter (KL) dengan B40. Namun pada saat yang sama badan usaha (BU) swasta di dalam negeri, seperti Shell cs masih diberi ruang untuk melakukan impor.

Senior Director Oil & Gas and Petrochemicals Danantara Wiko Migantoro menyebutkan, saat ini kapasitas produksi solar nasional sudah melebihi permintaan (demand) domestik. Hal ini terjadi karena pemerintah sudah menerapkan B40.

B40 merupakan biodiesel yang mengandung fatty acid methyl ester atau FAME minyak kelapa sawit sebesar 40% dalam komposisi BBM solar. Dengan demikian, penggunaan solar fosil dalam BBM tersebut tidak sebesar sebelumnya.

Baca Juga

Pemerintah Dorong PLTS Atap, Terapung, hingga Dedieselisasi untuk Transisi Energi

“Dengan B35 sebelumnya, itu imbang, tidak ada excess produksi. Namun dengan diterapkan B40, kita memiliki kapasitas yang lebih untuk solar, atau sekitar, kalau saya hitung-hitung tuh jumlahnya sekitar 7 juta kiloliter excess solar,” jelas Wiko saat ditemui di Pos Bloc, Jakarta, Rabu (10/12/2025).

Wiko menyebut, kondisi ini membuat Danantara dan PT Pertamina (Persero) mengalami sesuatu yang dilematis. Pasalnya, karena kini Indonesia mengalami kelebihan solar, maka produk solar tersebut harus dipasarkan/dijual ke luar negeri.

“Hari-hari ini kami sedang propose ke pemerintah untuk melihat bagaimana tata kelola solar yang baik, karena di saat kita sekarang sedang ada kelebihan kapasitas produksi untuk kilang, di saat yang bersamaan badan usaha swasta itu masih melakukan impor solar, jumlahnya sekitar 4,8 juta kiloliter,” ucap Wiko.

Ilustrasi biodiesel. (Photographer)
Source: Source

Wiko menambahkan bahwa pengolahan BBM di kilang tidak memungkinkan pemilihan produk secara terpisah. Begitu minyak mentah (crude) diolah, empat produk utama akan keluar bersamaan, yaitu solar (35–40%), gasoline/bensin, avtur, dan LPG. Untuk itu, keseimbangan supply–demand satu produk akan berdampak langsung pada produk lainnya.

Meski solar surplus, Indonesia justru menghadapi kekurangan gasoline. Wiko menjelaskan bahwa setiap upaya meningkatkan kapasitas kilang untuk memenuhi kebutuhan gasoline akan menghasilkan solar tambahan, sehingga masalah kelebihan solar semakin besar. “Ini seninya di sini. Kita perlu alternatif suplai gasoline selain produk dari crude oil,” ujarnya.

Baca Juga

Bahlil Pastikan Mandatori Biodiesel B50 Tak Ganggu Pasokan Minyak Goreng

Danantara dan pemerintah kini menyoroti etanol sebagai pelengkap (komplemen) untuk gasoline, seperti yang telah dipraktikkan banyak negara lain. Etanol dinilai dapat mengurangi konsumsi gasoline, menekan emisi, dan diproduksi dari sumber nabati yang tersedia di dalam negeri. “Saat ini sudah ada sekitar 0,4 juta kiloliter etanol yang diproduksi dari molase untuk campuran gasoline,” jelas Wiko.

Untuk meningkatkan penggunaan etanol, ekosistem produksi dan regulasi harus diperkuat, mulai pasokan molase, pembangunan pabrik etanol, hingga aturan pencampuran etanol dalam BBM.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024