Gubernur Jabar Ingin Dorong KEK di Kertajati, Denas KEK: Belum Terima Proposal
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Rencana Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi untuk mendorong pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di kawasan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati masih menunggu proses usulan resmi.
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal Dewan Nasional (Denas) KEK, Rizal Edwin Manansang mengaku, hingga kini belum ada proposal yang masuk.
“Belum ada, belum ada. Memang katanya sih mau ada usulan mau masuk, tapi kami belum terima usulannya,” ungkap Rizal saat ditemui di sela-sela acara Indonesia Special Economic Zone (SEZ) Business Forum di Jakarta, Selasa (9/12/2025).
Ia menjelaskan, dukungan Denas terhadap rencana tersebut akan bergantung pada proposal yang diajukan pemerintah daerah. “Tergantung pada usulan, tergantung pada proposalnya. Nanti kita lihat proposalnya. Jadi kenapa itu harus ada KEK? Itu juga harus dijawab oleh yang mengusulkan,” jelas Rizal.
Rizal menambahkan, setiap pengajuan KEK diwajibkan memenuhi beberapa persyaratan utama, antara lain keberadaan anchor investor, penguasaan lahan minimal 50%, serta tidak berada pada kawasan hutan lindung atau area konservasi.
“Kalau salah satu persyaratan itu tidak dipenuhi, enggak akan disetujui (pembentukan KEK). Kita lihat sekarang kan banjir di mana-mana itu karena lingkungan kita nggak dijaga. Salah satu persyaratan dari KEK adalah jangan sampai itu mengganggu lingkungan,” lugas Rizal.
Baca Juga
Sebelumnya, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyatakan dukungannya agar kawasan sekitar BIJB Kertajati ditetapkan sebagai KEK. Hal tersebut disampaikannya usai menghadiri Groundbreaking Kawasan Aerospace Park Kertajati dan Hanggar Maintenance, Repair and Overhaul (MRO), Senin (8/12/2025).
Dedi menyebut penetapan KEK sebagai salah satu dari tiga strategi utama untuk menghidupkan kembali BIJB Kertajati. Ia menilai kawasan tersebut memiliki potensi untuk menjadi pusat industri pertahanan dalam negeri.
“Yang kedua, kita berharap bahwa Kertajati juga menjadi pusat industri pertahanan dalam negeri, kemudian kawasan ekonomi khusus. Karena Rebana sudah mulai tumbuh, misalnya PTDI (PT Dirgantara Indonesia) tidak usah lagi di Bandung, pindah saja di sini. Kemudian Pindad, pindah saja di sini,” ujar Dedi dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (9/12/2025).
Selain itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar juga menargetkan Kertajati menjadi pusat penerbangan haji dan umrah. Dedi menyampaikan, kesiapan pemerintah daerah untuk membangun asrama haji di sekitar bandara.
“Kertajati untuk menjadi pusat bandara haji dan umrah. Kalau itu sudah menjadi kesepakatan dan ketersediaan pesawat, maka pemerintah provinsi bersedia membangun asrama hajinya di sekitar Kertajati,” terangnya.
Pengembangan kawasan turut didorong melalui peningkatan konektivitas, termasuk rencana penambahan jalur kereta api menuju bandara. “Tinggal tambahan satu lagi yaitu konektivitas jalur kereta api dan jarak ke Cirebon relatif dekat,” tambah Dedi.
Dedi pun berharap dorongan pembentukan KEK serta penguatan fasilitas pendukung di Kertajati dapat meningkatkan minat industri dan menopang pertumbuhan ekonomi kawasan Subang, Indramayu, Majalengka, Sumedang, Cirebon, Kuningan, dan Kota Cirebon (Rebana).

