Dompet Dhuafa Resmikan Industri Komunal Nanas di Subang Senilai Rp 15 Miliar
Poin Penting
|
SUBANG, investortrust.id — Dompet Dhuafa resmi mengoperasikan Industri Komunal Olahan Nanas (IKON) di Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Subang, Jawa Barat. Pabrik pengolahan berbasis pemberdayaan masyarakat tersebut dibangun dengan investasi Rp 15 miliar hingga siap berproduksi, di luar biaya lahan.
Ketua Dewan Pengurus Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini menyampaikan, pendirian IKON merupakan kelanjutan program pemberdayaan petani nanas di Cirangkong yang telah berjalan sejak 2013.
“Program pendampingan petani nanas yang kemudian dilanjutkan dengan pendirian Industri Komunal Olahan Nanas ini telah memberikan manfaat ke masyarakat Cirangkong,” katanya dalam acara peresmian IKON di Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Subang, Jawa Barat, Rabu (26/11/2025).
IKON berdiri di lahan seluas 2.000 meter persegi (m2) dengan luas bangunan 1.000 m2. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas pengolahan hingga 10 ton nanas segar per hari, menghasilkan 2,5 – 3 ton selai atau puree serta 1 – 2 ton konsentrat setiap harinya. Produk olahan dipasarkan ke industri lanjutan sebagai bahan baku pangan berbasis nanas.
Source: investortrust
Adapun skema kepemilikan IKON dilakukan secara komunal melalui koperasi masyarakat. Dompet Dhuafa menyerahkan saham senilai Rp 2,947 miliar kepada Koperasi Produsen Barokah Agro Lestari. “Ini yang kami maksud industri komunal karena pemiliknya adalah masyarakat yang ada di sekitar usaha atau pabrik ini,” jelas Ahmad.
Secara keseluruhan, investasi pembangunan industri hingga tahap operasional berada pada kisaran Rp 10 – Rp 15 miliar. “Pokoknya keseluruhan sampai dia running berproduksi itu di kisaran antara Rp 10 sampai Rp15 miliar. Itu di luar tanah loh,” ungkap Ahmad.
Ahmad menuturkan, pendirian IKON menjadi tahap keempat pemberdayaan masyarakat dalam skema phiantropreneurship. “Awalnya kami memberikan bantuan kebutuhan dasar, lalu pelatihan keterampilan kerja, dilanjutkan pendampingan usaha, dan sekarang kita kuatkan di tahap pengembangan industri komunal,” ucapnya.
Menurut Ahmad, hampir 1.000 warga Cirangkong direkrut menjadi anggota koperasi dan dilibatkan dalam ekosistem IKON Subang. “Mereka bekerja sebagai tenaga produksi setelah melalui pelatihan dan asesmen keterampilan, sementara koperasi bertugas menyortir dan menyeleksi buah sebelum masuk proses industri,” tambahnya.
Ahmad menyampaikan, Dompet Dhuafa membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan pemerintah daerah maupun pusat untuk keberlanjutan industri komunal. “Kami berharap program pemberdayaan ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah untuk menjamin keberlanjutan Industri Komunal Olahan Nanas ini,” imbuh Ahmad.
Source: investortrust.id
Pada kesempatan yang sama, Direktur PT Asia Agri Nusa Tendy Satrio, mengatakan bahwa IKON Subang ini memegang prinsip "zero waste" alias tidak ada limbah yang terbuang.
"Di sini zero waste desainnya. Jadi tidak ada limbah di pabrik, karena nanas kupas tadi yang kulitnya itu sudah diolah. Jadi langsung ke kebun, kita ada sistem ember tumpuk itu nanti limbah cairnya jadi pupuk cair," tutur Tendy.
Tak hanya pupuk cair, kata Tendy, produksi kulit nanas di IKON Subang per harinya mencapai 500 kilogram (kg) dan bisa diolah menjadi obat-obatan hingga bahan pakan ternak. "Kalau kulit nanas itu biasanya kan (beratnya) hampir sekitar 50% dari nanas itu. Kalau 1 ton berarti kan bisa 500 kg kulitnya saja. Dan itu bisa diolah lagi menjadi obat-obatan dan pakan (ternak)," pungkasnya.

