Pemerintah Siapkan Insentif Baru 2026, Prospek Mobil Hybrid Lokal Menguat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah menyiapkan usulan insentif fiskal baru untuk industri otomotif yang memiliki multiplier effect besar bagi perekonomian nasional. Para pakar menilai pemerintah perlu melanjutkan insentif khusus bagi mobil hybrid (HEV) yang diproduksi lokal dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) tinggi.
Saat ini, HEV masih mendapatkan insentif diskon PPnBM 3% yang akan berakhir tahun ini. Besaran tersebut dinilai jauh tertinggal dari insentif untuk kendaraan listrik berbasis baterai (BEV), seperti PPN DTP 10%, PPnBM 0% untuk produksi lokal, hingga pembebasan PKB dan BBNKB. Untuk BEV yang memenuhi syarat TKDN, total pajak hanya sekitar 2%. Sementara HEV tetap membayar PPN, BBN, PKB, dan opsen pajak.
Baca Juga
Toyota Veloz Hybrid Meluncur di GJAW 2025, Harga Kompetitif Rp 299 Juta
Tak hanya itu, BEV impor skema tes pasar juga memperoleh pembebasan bea masuk 50% hingga akhir 2025. Struktur insentif yang timpang dinilai perlu dievaluasi di tengah penurunan penjualan otomotif nasional 10,6% per Oktober 2025.
Peneliti senior LPEM FEB UI, Riyanto, menilai insentif untuk hybrid belum cukup adil. “Segmen ini perlu diberikan kebijakan yang lebih fair dengan basis reduksi emisi dan TKDN. Insentif untuk HEV saat ini belum fair,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (24/11/2025).
Produksi hybrid lokal terus meningkat. Honda merakit HR-V e:HEV di Karawang, Wuling memproduksi Almaz Hybrid di Bekasi, dan Toyota baru saja merilis New Toyota Veloz HEV dengan TKDN di atas 80%. Toyota Indonesia sebelumnya telah memproduksi Kijang Innova Zenix HEV (2022) dan Yaris Cross HEV (2023). Produksi hybrid ini menyerap ribuan tenaga kerja dari pabrik hingga rantai pasok.
Baca Juga
BYD Kuasai 54% Pangsa Pasar Mobil Listrik Indonesia, Jadi Penggerak Utama Pertumbuhan EV Nasional
Riyanto memperkirakan pasar hybrid 2026 akan membaik seiring berakhirnya insentif untuk BEV CBU. “Tahun depan HEV akan lebih baik dari tahun ini. Estimasi saya HEV bisa 5% market share,” jelasnya.
Dia menjelaskan, pasar hybrid dan BEV lokal akan bergerak di segmen berbeda. Pasar daerah dinilai lebih cocok untuk hybrid karena minimnya infrastruktur SPKLU. “Untuk hybrid perlu sosialisasi ke daerah, terutama luar Jawa,” tambahnya.
Menurutnya, pemerintah layak memperpanjang sekaligus memperkuat insentif bagi produsen hybrid, terutama jika meningkatkan kandungan lokal. “Insentif kendaraan hybrid layak dilanjutkan dan ditambah dengan peningkatan produksi komponen lokal.”
Baca Juga
Menperin Siapkan Usulan Insentif Fiskal Industri Otomotif pada 2026, Apa Saja?
Pengamat otomotif Bebin Djuana juga menilai kebijakan fiskal perlu lebih mendukung hybrid. “Jika fokus pada emisi, hybrid perlu diperhitungkan. Pajaknya sudah sepatutnya dikurangi agar pasar hybrid meningkat,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan pentingnya sektor otomotif yang memiliki keterkaitan luas pada ekonomi dan menyerap banyak tenaga kerja. Kemenperin kini tengah merumuskan usulan insentif baru untuk kebijakan fiskal 2026.

