Cloudflare Tumbang, Layanan di 'Exchange' Kripto Sempat Terdampak
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Gangguan besar pada infrastruktur Cloudflare menyebabkan berbagai layanan internet global tidak dapat diakses pada Selasa (18/11/2025) malam. Layanan populer seperti X, YouTube, Zoom, hingga sejumlah aplikasi kripto mengalami kelumpuhan serentak selama beberapa jam.
Insiden terjadi akibat perubahan izin pada salah satu database internal Cloudflare. Kesalahan konfigurasi tersebut menyebabkan sebuah file terkait fitur bot management membengkak dua kali lipat hingga melewati batas memori. Hal ini memicu lonjakan besar HTTP 5xx errors di seluruh jaringan.
Akibatnya, layanan inti Cloudflare seperti CDN, sistem keamanan, Workers KV, autentikasi akses, hingga dashboard administratif berhenti berfungsi. Pengguna global melaporkan munculnya 500 Internal Server Error, pesan “You have been blocked,” hingga API yang tidak merespons. Bahkan situs pemantau gangguan internet, Downdetector, ikut tumbang.
Perusahaan menegaskan insiden ini tidak terkait serangan siber, melainkan sepenuhnya disebabkan oleh konfigurasi internal yang menyebar cepat. Namun dampak signifikan juga terlihat pada aktivitas perdagangan di aset kripto. Berbagai exchange alias pedagang aset kripto, platform DeFi, dan layanan Web3 yang mengandalkan Cloudflare untuk routing, API, dan perlindungan jaringan sempat tidak dapat diakses. Meskipun blockchain tetap berjalan normal, pengguna tidak bisa melakukan transaksi, memantau harga, maupun login.
Dilansir dari BeInCrypto, CEO Cloudflare Matthew Prince menyebut insiden ini sebagai “outage terburuk sejak 2019.” Cloudflare sendiri merupakan salah satu penyedia infrastruktur internet terbesar, mengelola lebih dari 10% permintaan web global dan melayani 25 juta properti online.
“Hari ini adalah outage terburuk Cloudflare sejak 2019, dalam enam tahun terakhir tidak ada insiden lain yang sampai menghentikan mayoritas trafik inti yang mengalir melalui jaringan kami. Atas nama seluruh tim Cloudflare, saya ingin meminta maaf atas gangguan yang kami sebabkan pada internet hari ini,” ujar Prince.
Baca Juga
Kemenkomdigi Ancam Blokir Cloudflare karena Banyak Dipakai Situs Judol
Gangguan ini kembali memunculkan kritik terhadap ekosistem kripto yang dinilai bergantung pada infrastruktur Web2 yang tersentralisasi. Sejumlah pengembang Web3 menilai insiden Cloudflare membuktikan bahwa banyak layanan yang mengklaim terdesentralisasi tetap rapuh ketika penyedia infrastruktur besar mengalami gangguan.
Head Product and Engineering Tokocrypto Dema Tio mengatakan, insiden pada salah satu penyedia infrastruktur web pada tanggal 18 November 2025 mengakibatkan gangguan atau downtime yang berdampak tidak langsung pada operasional sejumlah exchange, termasuk di Tokocrypto. Akibatnya, layanan deposit melalui Virtual Account dari beberapa bank dan e-wallet sempat tidak dapat digunakan.
"Kondisi ini terjadi karena payment gateway yang kami gunakan turut bergantung pada layanan penyedia infrastruktur web tersebut," katanya kepada Investortrust, Kamis (20/11/2025).
Walaupun demikian, layanan perdagangan dan fitur utama Tokocrypto tetap beroperasi normal. "Hal ini dimungkinkan karena kami memiliki dukungan infrastruktur web cadangan dari mitra lain, sehingga akses dan fungsi platform dapat tetap terjaga," tambah Dema.
Senada Vice President Indodax Antony Kusuma menyampaikan, untuk saat ini seluruh layanan Indodax berjalan normal. Aktivitas trading, deposit, dan penarikan bisa diakses seperti biasa oleh anggota, setelah sebelumnya akses deposit terdampak hingga sekitar pukul 10 malam saat Cloudflare down. "Kami memahami pentingnya keamanan dan stabilitas bagi para pengguna. Oleh karena itu, Indodax membangun sistem mitigasi, memastikan bahwa operasional Indodax akan tetap aman dan stabil, bahkan jika terjadi penyesuaian pada salah satu layanan atau infrastruktur global," katanya.
Sebagai entitas yang patuh terhadap regulasi, pihaknya juga berkomitmen untuk selalu menjaga kualitas layanan. Apabila terdapat kebijakan baru dari pemerintah terkait layanan internet atau keamanan digital, Indodax katanya akan segera melakukan penyesuaian teknis yang diperlukan. "Hal ini demi memastikan bahwa pelayanan kepada seluruh member tetap aman, stabil, dan tidak mengalami gangguan," ucapnya
Sistem Cadangan
Sementara itu, Pengamat Kripto Vinsensius Sitepu menilai, dengan perkembangan AI dan komputasi kuantum yang semakin meningkat, ancaman terhadap Cloudflare juga semakin meningkat. Karena sifat sistem Cloudflare ini adalah single point of trust, maka satu titik eror, jutaan situs global bisa terdampak semuanya.
Di sisi lain soal ancaman Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) yang akan memblokir Cloudflare karena banyak dipakai situs judi online (judol), itu akan berdampak luas. "Kalau misalnya Kemenkomdigi akan blokir Cloudflare, kan sistem perbankan yang pakai layanan itu akan menggangu sistem trading exchange. Karena Cloudflare ini user-nya banyak, lintas negara, lintas perbankan besar, dan kerap jadi sasaran state-backed hacker. Itulah salah satu kelemahan sistem sentralistik,' ujarnya kepada Investortrust.
Vinsensius pun menyarankan agar pengguna bisa memakai sistem lain selain Cloudflare sebagai cadangan. Karena social engineering yang paling rentan, maka dasarnya adalah memperkuat keamanan akun Cloudflare dengan cara yang simpel namun efektif.
"Gunakan 2FA berbasis aplikasi, bukan SMS, agar kode verifikasi tidak bisa dibajak. Pastikan kata sandi benar-benar unik dan tidak digunakan di layanan lain, karena jika satu situs bocor, Cloudflare tetap aman. Batasi jumlah admin agar semakin sedikit orang yang bisa menjadi target penipuan, aktifkan notifikasi login agar setiap percobaan masuk mencurigakan langsung terdeteksi, dan bila memungkinkan gunakan kunci fisik seperti YubiKey yang membuat hacker mustahil masuk tanpa perangkat itu," imbaunya.
Baca Juga
Bikin X dan Banyak Situs Down, Bos Cloudflare: “Kami Gagal Layani Pelanggan”
Ancaman Blokir
Sebelumnya, Dirjen Pengawasan Ruang Digital Kemenkomdigi Kemenkomdigi Alexander Sabar menegaskan, Cloudflare menjadi infrastruktur utama yang dipakai situs-situs judol di Indonesia. Kemenkomdigi mengungkap 76% dari 10.000 situs judol yang diblokir pemerintah terdeteksi berada di balik layanan Cloudflare.
“Hasil deteksi kita dari seluruh situs judi online yang kita take down kemarin, yang kita blokir kemarin, kita tracking back, IT-nya tahu di di mana? Cloudflare. Sampling-nya yang kita ambil yang sudah kita blokir itu ada sekitar 10.000, 76%-nya itu Cloudflare. Berada di belakang Cloudflare,” ujarn Alex di Jakarta, Rabu (19/11/2025).
Alex menyebut, seharusnya Cloudflare bisa beker jasama untuk menyortir situs judol. Di sisi lain, Cloudflare juga masuk dalam 25 penyelenggara sistem elektronik (PSE) yang belum terdaftar di Indonesia. “Mereka kayaknya enggak punya perwakilan juga. Masa sekian lama enggak ada yang mau ini, patuhi?” jelas mantan petinggi BNN itu.
Kemenkomdigi sebelumnya juga telah memberikan peringatan resmi secara tertulis. Nantinya, Cloudflare akan memberikan hak jawab maksimal 14 hari kerja. Alex pun menjelaskan tantangan pemblokiran judol di Indonesia lantaran sebagian besar alamat IP situs yang diblokir pemerintah berhenti di Cloudflare. Ia menegaskan pemblokiran judol tidak hanya terhambat satu faktor. Hambatan lainnya adalah kurangnya kerja sama penyedia layanan luar negeri.
Pemerintah juga memperingatkan dampak lanjutan jika Cloudflare tetap abai pada aturan dari pemerintah. Pemerintah memastikan akan memblokir layanan tersebut secara permanen. Ia juga menyarankan agar masyarakat dapat mencari alternatif layanan lain. “Dengan kami memberikan warning seperti ini setidaknya mereka yang menggunakan Cloudflare sudah harus mencari alternatif lain. Jadi enggak bisa tergantung terus sama ini Cloudflare," kata Alex.

